.
Lisna Hayati
Ibu Rumah Tangga
Entah apa yang harus dikatakan dan hampir tak berdaya melihatnya, hari demi hari mengikuti alur negri ini makin tak tentu arah. Jika tidak melihatnya dengan kewarasan berfikir dan kebijaksanaan sepertinya hampir gila dibuatnya. Berita buruk tentang MBG, penanganan bencana yang amburadul di daerah terdampak, korupsi para pejabat masih panas mewarnai pemberitaan media. Seakan tidak cukup dengan itu kini ada berita baru yang menyatakan Indonesia masuk kedalam keanggotaan Board Of Peace (BOP) besutan Amerika, innalilahi.
BOP adalah lembaga tandingan PBB yang digagas oleh Amerika si polisi dunia. Trump menganggap bahwa Dewan Keamanan PBB tidak berguna dalam menyelesaikan masalah dibeberapa daerah konflik terutama di Gaza. Kedepan urusan keamanan di wilayah konflik bukan lagi menjadi kewenangan Dewan Keamanan PBB melainkan digantikan oleh Dewan Kemanan BOP (4MAZE, instagram.com 24/Januari/2025)
Keanggotaan ini ditandatangani oleh beberapa negara, diantaranya oleh Indonesia yang diwakili langsung oleh Prabowo Subianto di Davos, Swiss kamis (22/1). Spanyol, Swedia, Inggris, Perancis dan sejumlah negara Eropa lainnya menyatakan menolak untuk bergabung setelah mencium gelagat Trump memiliki agenda lain. Parahnya Indonesia dan negara lain yang bergabung dalam BOP wajib membayar iuran kurang lebih 17 T usai menyatakan bergabung menjadi anggota Board Of Peace buatan Donal Trump.
Sungguh terlalu, padahal saat ini Indonesia terancam dengan hutang luar negri yang semakin mencekik, tapi seolah royal untuk menghambur-hamburkan uang. Berita keanggotaan Indonesia di BOP viral setelah berita kenaikan anggaran MBG secara ugal-ugalan diluar nalar bahkan tega memotong sejumlah anggaran diantaranya pendidikan. Padahal disisi lain ratusan juta rakyat menjerit dengan kesulitan hidup saat ini, rakyat Aceh dan Sumatera yang terdampak bencana saat ini sangat membutuhkan biaya besar agar mereka segera bangkit, pulih menata hidup.
Sayang disayang kebijakan berkata lain. Pemerintah lebih memilih menggelontorkan uang untuk bergabung dengan lembaga yang jelas arahnya bukan hendak menyelamatkan warga Gaza tapi menggali lobang semakin dalam agar mereka terkubur didalamnya. Janji manis saat kampanye untuk terdepan dalam membela kemerdekaan Palestina hanya isapan jempol semata.
Seperti kacang yang lupa kulitnya, padahal Palestina adalah negara pertama yang mengakui kedaulatan Indonesia dimasa kemerdekaan. Mengapa ketika mereka dalam kondisi butuh dukungan, saudaranya sesama muslim malah pergi meninggalkan dan menyiapkan kuburan untuk mereka. Saudaraku maafkan atas ketidakberdayaan ini.
Kemana arah kelahiran BOP dan siapa yang menggagasnya sudah cukup membuat kita faham bahwa ini adalah upaya negeri kafir penjajah Amerika untuk lebih menancapkan hegemoni mereka atas Gaza. Janji manis menyelesaikan konflik disana akan dapat dipastikan hanya omong kosong belaka. Dapat dipastikan pula siapa yang diuntungkan dan yang dirugikan dari terbentuknya lembaga ini.
Nyaris tak tersisa sedikitpun kebanggaan memiliki pemimpin negeri yang kebijakannya sangat melukai hati. Bukan karena kita sesama muslim bahkan sebenarnya untuk memiliki kepekaan atas apa yang terjadi di Gaza saat ini, menjadi manusia itu sudah lebih dari cukup. Apa yang akan kelak mereka pertanggung jawabkan dihadapan Allah atas kebodohan ini.
Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar idealnya menjadi penggagas kemerdekaan rakyat Palestina. Memobilisasi militer negeri-negeri kaum muslimin untuk berjihad memerdekakan mereka, dan menghentikan penderitaan rakyat Palestina khususnya Gaza dari kedzaliman Israel, Amerika dan sekutunya, bukan malah menjadi pengekor negara yang jelas-jelas akan merenggut tanah dan kehormatan kaum muslimin. Tak kusangka hidup dimasa pemerintahan yang separah ini.
Wallahu A'lam
No comments:
Post a Comment