Maraknya Pelaku Bullying Buah Sistem Sekuler

 



Oleh: Ismi Balza Azizatul Hasanah

Mahasiswi Politeknik Negeri Jakarta

 

 

Kasus perundungan (bullying) masih menjadi PR besar negeri ini. Dalam waktu yang berdekatan terungkap kasus perundungan di kalangan pelajar yang terjadi di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah. Mirisnya, salah satu kasus perundungan tersebut menewaskan korban jiwa. Kasus terbaru yaitu kasus perundungan yang dilakukan oleh empat pelaku remaja putri di Batam pada 28 Februari 2024. Keempat orang pelaku telah ditetapkan sebagai tersangka tindak pidana kekerasan terhadap anak di bawah umur dan atau pengeroyokan (kompas, 2/03/2024).


Sebelumnya, juga terdapat kasus bullying di pondok pesantren di wilayah Kecamatan Lawang Kabupaten Malang. Pelaku diduga menyiksa adik kelasnya menggunakan setrika uap di bagian dada hingga korban meninggal dunia. Beberapa waktu sebelumnya, juga terjadi kasus perundungan di sekolah Internasional di Kawasan Serpong, Tangerang Selatan. Aksi kekerasan tersebut dilakukan oleh 12 pelajar SMA terhadap temannya dengan dalih tradisi tidak tertulis sebagai tahapan untuk bergabung dalam kelompok atau komunitas.


Maraknya kasus bullying saat ini membuat presiden angkat bicara. Dalam acara peresmian pembukaan Kongres ke-23 PGRI 2024 di Hotel Grand Sahid Jaya Jakarta, Sabtu 2 Maret 2024, presiden meminta untuk para guru tidak menutup-nutupi kasus bullying yang terjadi. Ia menegaskan jangan sampai ada siswa yang merasa tertekan di sekolah. Bullying di Indonesia, menurut pengamat Pendidikan, sudah “darurat” karena kasusnya yang terus bertambah dan belum ada tanda-tanda penurunan meski Kemendikbud telah menerbitkan sejumlah kebijakan terkait pencegahan kekerasan di satuan pendidikan.


Kebijakan yang dimaksud, di antaranya pembentukan satgas anti kekerasan di sekolah. Aturan tersebut tertuang dalam Permendikbudristek No 46  Tahun 2023 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan dalam Lingkungan Satuan Pendidikan di Indonesia. Tapi, nyatanya aturan tersebut tidak membuahkan hasil, karena kasus perundungan semakin merajalela. Menurut Faderasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), terdapat 30 kasus bullying alias perundungan di sekolah sepanjang 2023. Angka itu meningkat dari tahun sebelumnya yang berjumlah 21 kasus.


Maraknya kasus bullying di negeri ini tidak terlepas dari penerapan sistem kehidupan sekuler (memisahkan antara agama dan kehidupan). Pemahaman ini melahirkan liberalisme yang mengagungkan kebebasan, termasuk kebebasan bertingkah laku. Parahnya, paham ini dimasukkan dalam kurikulum pendidikan. Wajar jika peserta didik tercetak menjadi individu yang liberal-sekuler yang abai terhadap halal-haram. Pendidikan sekuler yang diterapkan hari ini hanya mengedepankan nilai materi, sementara ajaran Islam sebagai ideologi tidak diajarkan.


Islam hanya diajarkan sebagai agama ritual. Hal ini memberi andil maraknya kasus bullying di negeri ini. Pendidikan sekuler ini juga akan berdampak pada banyaknya orang tua dan calon orang tua yang tidak memahami cara mendididk anak, sehingga terbentuk kepribadian yang tidak sesuai dengan Islam dalam diri anak. Terutama saat ini, sebagian besar para ibu yang merupakan pendidik generasi mengabaikan perannya ini dengan alasan bekerja atau bahkan mengejar karier di dunia kerja.


Maka, untuk mewujudkan generasi berkepribadian Islam dan jauh dari aksi bullying secara verbal maupun fisik, haruslah dilakukan secara komprehensif yaitu dengan menerapkan sistem kehidupan Islam secara kaffah. Penerapan sistem Pendidikan Islam tersistem dengan memadukan tiga peran pokok pembentukan kepribadian generasi, yaitu keluarga, masyarakat, dan negara. Islam telah memberi petunjuk tentang cara membentuk karakter pemuda yang baik (shalih). Dalam hal ini tentu membutuhkan dukungan dari keluarga.


Orang tua berperan penting dalam mendidik anak dengan panduang Islam. Materi tentang jalan menuju iman dan syariat Islam kaffah harus dipahami oleh anak, sehingga anak paham hakikat kehidupan dan tujuan hidupnya di dunia. Selain itu, anak akan memahami bahwa satu-satunya aturan yang layak dijadikan rujukan dalam beramal adalah aturan Islam semata. Hal ini didukung oleh sistem pendidikan Islam yang diterapkan dalam khilafah.


Sistem Pendidikan Islam akan membentuk kepribadian Islam dalam diri generasi. Penerapan aturan Islam kaffah dalam kehidupan akan membentuk masyarakat islami, yakni masyarakat yang memelihara budaya amar ma’ruf dan nahi munkar. Alhasil, kemaksiatan sekecil apa pun yang nampak di kehidupan umum akan mendapat perhatian masyarakat untuk dinasihati atau dilaporkan pada pihak yang berwenang.


Media sosial dalam Islam juga tidak boleh menayangkan kekerasan fisik atau non fisik yang tentunya sangat mudah di contoh anak, seperti bullying, kekerasan, dan lain-lain. Syariat Islam telah menentukan batasan baik/buruk dan halal/haram dalam berperilaku. Inilah yang akan menjadi pegangan masyarakat dalam melakukan amar ma’ruf nahi munkar, bukan sekadar bermanfaat. Selain itu, negara dalam sistem Islam kaffah menerapkan aturan tegas dan sistem sanksi yang bisa memberikan efek jera bagi pelaku kriminal (setiap individu masyarakat yang melakukan keharaman atau bermaksiat, termasuk pelaku perundungan).


Dengan aturan Islam yang komprehensif di bawah institusi khilafah, maka negara akan mampu melindungi generasi dari berbagai kerusakan pemikiran maupun tingkah laku mereka.[]


Post a Comment

Previous Post Next Post