Ummu Dandi
Ibu Rumah Tangga
Bismillah
Senin 14 Juli 2025 pagi Bandung Timur diguyur dengan hujan, padahal pagi ini awal dimulainya kegiatan belajar mengajar bagi para pelajar setelah kurang lebih dua pekan mereka berlibur. Jika bukan karena semangat mencari ilmu yang membara sepertinya hari ini lebih enak dinikmati di rumah bercengkrama dengan keluarga ditemani segelas teh hangat beserta kudapannya, tapi sepertinya hujan pagi ini tidak menyurutkan para pelajar pergi ke Sekolah dengan seragam dan perlengkapan sekolah yang hampir baru semua.
Mengawali tahun ajaran baru ada himbauan bagi orang tua untuk mengantar putra-putri ke sekolah dihari pertama khususnya bagi TK dan SD, hal ini dimaksudkan agar membangun ikatan emosional anak dan orangtua dalam hal pendidikan, bahwa membangun generasi bukan hanya tugas para guru disekolah tapi proyek ta'awun antara keduanya. Dalam sistem kapitalis seringkali masalah pendidikan hanya dibebankan pada sekolah, orangtua mencukupkan diri dengan memberikan biaya dan fasilitas terbaik bagi putra-putrinya, padahal masalah pendidikan ini pun akan menjadi salah satu point yang harus dipertanggungjawabkan kelak dihadapan Allah Swt.
Islam mengatur segala perkara yang baik haruslah didasari dengan niat yang lurus dan tujuan yang benar, begitupun dalam mencari ilmu harus didasari oleh 4 perkara yakni; niat karena Allah untuk melaksanakan perintahNya, mencari ilmu untuk menghidupkan agama Allah, menghilangkan kebodohan pada dirinya dan bila ilmu telah didapat akan diamalkan untuk dirinya dan lingkungan sekitarnya. Sedangkan tujuan mencari ilmu adalah untuk membentuk kepribadian Islam (Syakhsiyah Islamiyyah) yakni pola pikir dan pola sikap yang sesuai dengan syari'at Islam sebagai hasil dari proses belajar.
Mari kita bandingkan dengan sistem kapitalis, dalam kapitalis seringkali mencari ilmu didasari oleh tujuan materi semata, dengan sekolah orang tua berharap agar putra putrinya kedepan memiliki masa depan yang baik dengan tingkat kemapanan materi yang lebih dari kedua orangtuanya. Sehingga orang tua merasa gagal jika setelah menyekolahkan putra-putrinnya lalu merasa mereka "tidak menjadi apa-apa" sesuai dengan harapan orang tua. Begitupun dengan hasil dari pembelajaran, kita melihat pola pikir dan pola sikap mereka tidak menunjukkan memiliki pola pikir dan pola sikap yang Islami, seringkali para pelajar untuk mendapatkan nilai yang bagus melakukan segala cara seperti mencontek misalnya, yang lebih parah lagi ketidak jujuranpun terjadi di tingkat Perguruan Tinggi. Mahasiswa tidak segan segan memakai jasa Joki Skripsi agar tugas akhir yang dilakukan segera selesai dengan hasil yang mereka harapkan, seakan dalam proses ini tidak ada Allah yang mengawasi dan memperhitungkan setiap perbuatan, asal punya uang mereka bisa melakukan hal yang sangat memalukan. Belum lagi dari aspek pergaulan, budaya pacaran seolah menjadi biasa ditingkat Sekolah Dasar sekalipun, masyarakat pun melihat hal ini sebagai hal yang biasa, tidak memandang sebagai pelanggaran yang dilakukan. Ini hanyalah sedikit Fakta diantara kegagalan proses pendidikan dalam mencapai tujuannya yang terjadi dinegeri ini.
Mari kita perhatikan kisah Imam Syafii dalam mencari ilmu. Dikisahkan Imam Syafi'i pulang kembali ke rumahnya setelah belajar dari sang guru yakni Imam Malik, karena pada masa mencari ilmu beliau salah satu murid yang bersinar maka banyak masyarakat yang datang padanya untuk meminta fatwa dan mereka memberikan sejumlah uang sebagai tanda terimakasih, ketika diperjalanan pulang di suatu wilayah tengah terjadi wabah, maka beliau menginfakkan sebagian uang yang dimilikinya sedang sebagian lagi beliau berikan pada ibundanya dengan rasa bangga. Tapi apa yang terjadi, ibunda Imam Syafii sangat marah padanya, beliau mengatakan bahwa tujuan mengantar putranya belajar pada guru bukan untuk tujuan materi, tapi agar putranya menjadi manusia yang bermanfaat untuk manusia yang lainnya. "Khairunnas Anfauhum Linnas, sebaik baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia yang lainnya.
Tapi kita juga tidak bisa hanya menyalahkan orang tua dalam hal ini jika tujuan mencari ilmu berubah menjadi tujuan materi, karena hidup di alam sekarang ini tidaklah mudah, butuh pemahaman Aqidah yang mendalam agar tujuan setiap aktifitas seorang muslim adalah Keridhoan Allah, dan butuh hadirnya negara dalam mewujudkan hal ini, karena jika negara hadir memenuhi kewajibannya pada masyarakat, niscaya semua akan berjalan sebagaimana seharusnya. Guru akan fokus mengajar anak didik ketika kesejahteraan hidupnya terjamin dengan ujroh yang sepadan, tidak harus banting tulang diluar jam mengajar untuk mencari tambahan agar terpenuhi kebutuhannya. Orang tua tidak akan menjadikan mencari ilmu dengan tujuan duniawi semata, karena kebutuhannya sudah terpenuhi dengan segala fasilitas yang dimudahkan oleh negara, lapangan pekerjaan, pendidikan dan kesehatan yang terjangkau sebagai kebutuhan asasi dalam kehidupan, orang tua akan berbangga dengan pencapaian putra-putri nya yang hadir memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat banyak dengan ilmu yang diamalkannya, bukan memenuhi kebutuhan individu semata. Begitu juga dengan Aqidah yang benar para pembelajar akan melaksanakan kewajibannya mencari ilmu sebagai jalan untuk menggapai Keridhoan Allah. Hal ini terjadi pada masa kejayaan Islam ketika negara serius memenuhi kebutuhan masyarakat setiap individunya, mendorong masyarakat agar berdaya dalam bidang ilmu pengetahuan sehingga kemajuan peradaban saat itu gilang gemilang dan menjadi negri yang diperhitungkan dalam kancah kehidupan. Semoga kita kembali pada masa kejayaan itu, masa Kaum Muslimin yang disegani oleh bangsa yang lainnya karena ketinggian ilmu dan peradaban sebagai hasil dari proses pendidikan yang saling mendukung antara Pelajar, Guru, Orangtua dan Negara. Didasari dengan Aqidah yang shahih, niat dan tujuan yang benar.
Wallahu A'lam

No comments:
Post a Comment