Indonesia Makin Banjir Impor Menjelang Lebaran, Mengapa Selalu Berulang?

 



Impor barang-barang konsumsi melonjak menjelang masa Ramadan dan Idul Fitri 2024. Kenaikannya terjadi baik secara bulanan atau month to month (mtm) maupun tahunan atau year on year (yoy).


Plt Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, nilai impor barang konsumsi per Februari 2024 sebesar US$ 1,86 miliar atau naik 5,11% dibanding Januari 2023. Sedangkan dibanding Februari 2024 yang senilai US$ 1,36 miliar naik 36,49%.


Kenaikan impor tersebut juga telah terjadi seperti yang dikatakan oleh Direktur Utama Holding PT RNI Persero Frans Marganda Tambunan mengatakan perseroan melakukan impor sapi hidup dari Australia sebanyak 2.350 ekor untuk memenuhi kebutuhan daging sapi lebaran 2024. Sementara total rencana impor sapi hidup sepanjang tahun 2024 sebanyak 20.000 ekor.  (Rabu, 20/03/2024) (CNBC Indonesia )


Momen lebaran terjadi rutin setiap tahunnya. Sudah seharusnya pemerintah bisa memprediksi atas peningkatan kebutuhan  terjadi. Pemerintah sudah seharusnya mengantisipasi agar negara tetap mewujudkan ketahanan pangan dan kedaulatan pangan agar tidak terjadinya impor yang berulang terjadi setiap menjelang lebaran.


Tentu saja  hal ini  akan mengancam kedaulatan negara apabila impor secara besar-besaran terus terjadi. Negara harus mencari solusi agar menjadi negara mandiri. Dengan sumber daya alam yang melimpah tentu belum bisa menjadikan negara ini menjadi negara yang mandiri karena yang diterapkan adalah  sistem kapitalisme.


Keburukan sistem kapitalisme saat ini adalah menjadi penghalang bagi negara dalam menjaga ketahanan pangan dan menjadikan negara tidak mandiri. Padahal kalau ditinjau kembali, sumber daya alam negara kita berlimpah namun sangat disayangkan di eksploitasi dan dikikis terus-menerus oleh asing dan pemilik modal. Sungguh hal ini membuat kita keresahan setiap tahunnya atas kenaikan harga yang drastis akibat impor dan memicu banyaknya masalah pangan yang tak pernah tuntas.


Mirisnya, negara saat ini justru berperan memuluskan kepentingan korporasi dengan penerapan sistem ekonomi kapitalisme liberal. Pada akhirnya, peran negara sebatas penyokong bagi kepentingan dan kesejahteraan negara kapitalis global, padahal fungsi negara adalah melayani kepentingan rakyat. 


Berbeda dengan sistem islam,  Islam mewajibkan negara berdaulat dan mandiri termasuk dalam masalah pangan.  Berbagai upaya akan dilakukan negara secara maksimal, termasuk dalam membangun infrastruktur berkualitas, upaya intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian dan peternakan juga dalam berinovasi meningkatkan teknologi tepat guna dan berkemampuan tinggi


Di dalam Islam mewajibkan bagi negara mewujudkan kesejahteraan bagi rakyatnya termasuk memberikan subsidi pada rakyat yang membutuhkan termasuk petani dan peternak yang kurang modal atau tidak memiliki modal.


Negara Islam mampu mensupport rakyatnya karena memiliki sumber dana yang banyak dan beragam serta terjamin keamanannya. Untuk itu Islam yang menjadi satu-satunya solusi dalam masalah impor ini. Demikianlah, hanya di dalam daulah Islam yang  tidak akan membiarkan rakyat menghidupi kebutuhannya dengan berjuang sendiri. Namun, negara memberikan pelayanan dan berbagai kemudahan agar mereka dapat memenuhi dan mewujudkan kesejahteraan hidup.


Wallahu’alam.


Oleh : Julia Handayani

Mahasiswi UMN Al Washliyah Medan

Post a Comment

Previous Post Next Post