Idul Fitri, Raih Kemenangan Hakiki


Oleh: Herliana, S. Pd 

(Aktivis Muslimah)


Sebentar lagi bulan Ramadhan yang penuh kemuliaan dan kebaikan akan usai. Umat muslim akan segera bertemu dengan hari kemenangan hari raya Idul Fitri 1445 Hijriyyah. Namun ini bukan akhir. Bagi seorang muslim sejati, berakhirnya Ramadan bukan menjadi akhir, namun justru menjadi awal perjalanan baru untuk menapaki surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Hari yang sejatinya melahirkan pribadi-pribadi yang bertakwa hasil dari pelaksanaan puasa Ramadhan sebulan penuh sebagaimana Allah subhanahu wa ta'ala berfirman dalam Quran surat al-baqarah ayat 183 yang artinya 'Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana puasa itu pernah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa'.  

Kata taqwa berasal dari kata  waqa–yaqi–wiqayah  ( وَقَى- يَقِى- وِقَايَة ), yang berarti ‘menjaga diri’, ‘menghindari’, dan ‘menjauhi’, yaitu menjaga sesuatu dari segala yang dapat menyakiti dan mencelakakan. Kata tersebut kemudian digunakan untuk menunjuk pada sikap dan tindakan untuk melindungi diri dari murka dan azab Allah Subhanahu Wa Ta'ala caranya tentu dengan menjalankan semua perintah Allah subhanahu wa ta'ala dan menjauhi larangan-Nya. Artinya ketaqwaan harus diwujudkan dalam segala aspek kehidupan. Taqwa juga bukan hanya harus ada pada tataran individu saja. Taqwa pun harus ada dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara juga hubungan luar negeri. 

Kemenangan bagi kaum muslmin tidak hanya menang melawan hawa nafsu, menang melawan setan dan menang melawan perilaku yang menyimpang. Kemenangan yang sebenarnya adalah ketika kita menjadi hamba Allah yang bertaqwa. Ketaqwaan  mengharuskan kita tunduk atas semua ketentuan Allah termasuk berpegang teguh pada al-qur'an seperti yang disampaikan di dalam hadits riwayat Hakim 'sesungguhnya Alquran adalah tali Allah yang kokoh ialah cahaya yang nyata dia juga obat yang bermanfaat pencegah dosa bagi siapapun yang berpegang teguh kepadanya dan kemenangan bagi siapa saja yang mengikutinya. Kemenangan yang dimaksud adalah kemenangan bagi siapa yang berpegang teguh pada Alquran. Kemenangan itu adalah implementasi taqwa yang akan membawa perubahan besar yang multidimensi. Dengan kata lain, orang yang bertakwa dia akan meninggalkan semua hukum manusia seperti kapitalisme, materialisme, liberalisme dan lainnya. Sebagai gantinya maka harus menerapkan syariah Islam secara kaffah.

Iman dan taqwa secara total inilah kunci keunggulan masyarakat Islam sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Konsekuensi ketakwaan hakiki diwujudkan dengan keberhasilan mendirikan Negara Islam di Madinah.  Negara inilah yang mampu merubah peradaban jahiliyah menjadi peradaban yang unggul dan mulia bahkan mengalahkan dua negara adidaya saat itu yaitu Persia  dan Romawi. Negara yang diwariskan beliau ini pun kemudian dilanjutkan oleh Khalifah Abu Bakar radhiallahu 'anhu dan para khalifah sesudahnya.  Saat itu kaum Muslim di bawah naungan Khilafah Islam menguasai dua pertiga dunia. 

Khilafah saat itu sekaligus menjadi negara adidaya yang unggul di berbagai bidang selama berabad-abad lamanya berbeda dengan saat ini kondisi umat Islam amat menyedihkan.  Hal ini terjadi terutama sejak keruntuhan Khilafah Islam pada 1924 Masehi. Di atas puing reruntuhan Khilafah, kafir penjajah berhasil memecah belah kaum muslim menjadi lebih dari 50 negara-bangsa dengan batas-batas imajiner yaitu nasionalisme.  Mereka dijajah secara ideologis dan sistemik dengan  menerapkan sistem kufur kerajaan. Sebagian lainnya menerapkan sistem kufur demokrasi. Semua rezimnya ada yang menjadi antek adidaya kapitalis dan ada yang menjadi antek komunis.

Di negara-negara mayoritas berpenduduk non muslim kaum muslim terus-menerus ditindas secara fisik. Kaum Muslim Kashmir disiksa oleh Hindu India, kaum muslim Uighur ditindas habis-habisan oleh komunis Cina,  kaum muslim Rohingya oleh Buddha Myanmar. Kaum muslim lainnya bernasib serupa di berbagai belahan dunia bahkan di Timur Tengah seperti Palestina di genosida oleh minoritas Yahudi Israel. Beberapa hari ini umat Islam  Palestina mendapat serangan bertubi tubi dari tentara Israel. Tak henti-hentinya Israel menumpahkan darah kaum muslimin, tak peduli anak-anak, orang tua maupun wanita, apalagi hal itu dilakukan di bulan Ramadhan yang penuh berkah. Bisa dipastikan di hari kemenangan nanti umat Islam di Palestina masih diliputi kesedihan dan kelaparan diatas puing-puing reruntuhan bangunan. 

 Di tengah-tengah mayoritas kaum muslim yang tersekat dalam banyak negara bangsa sangat leluasa menjajah muslim Palestina oleh karena itu untuk mewujudkan totalitas ketaqwaan sejatinya tidak ada pilihan lain selain berjuang bersama mengembalikan Islam sebagai solusi kehidupan yakni Khilafah sebagai wujud dari ketaqwaan yang sempurna sebab hanya Islam dalam bentuk institusi Khilafah lah yang dapat menyelesaikan seluruh persoalan individu, masyarakat, negara dan bahkan dunia yang diakibatkan peradaban kapitalis Barat. 

Sejarah telah membuktikan bagaimana Khilafah mampu menjadi perisai umat Islam dan menyatukan kaum muslim di seluruh dunia. Salahuddin Al Ayyubi berhasil membebaskan Baitul Maqdis dengan menyatukan barisan kaum Muslimin yang berada di selatan (Mesir) dan Utara (Syam) di bawah satu kepemimpinan kekhilafahan Abbasiyah yg membebaskan Palestina. Tak lupa pula dari ingatan umat Islam sosok Khalifah Al-Mu'tashim Billah pada masa kekhilafahan akhir Abbasiyah yang menaklukkan kota Ammuriah (Turki) hanya demi menyelamatkan seorang wanita muslimah yang dilecehkan kaum Romawi. 

Ringkasnya, para Khalifah dahulu memahami kewajipan dan fungsi mereka sebagai perisai, di mana mereka berperang (berjihad) dan sentiasa melindungi umat Islam. Tak hanya itu Khilafah sebenarnya merupakan kekuasaan yang dijanjikan Allah kepada kaum muslim sebagaimana Firman-Nya dalam Quran surat an-Nur ayat 55 yang artinya 'Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal sholeh diantara kalian bahwa Dia sungguh-sungguh akan memberikan kekuasaan kepada mereka di muka bumi sebagaimana Dia pernah memberikan kekuasaan kepada orang-orang sebelum mereka'. Maka berbahagialah kaum muslim atas pertolongan Allah subhanahu wa ta'ala dan yang menolong agamanya  Allah  menolong siapa saja yang dia kehendaki. Maka sudah saatnya kita bersegera menjemput kemenangan yang hakiki dengan turut berjuang menegakkan Islam kaffah yang menjadi rahmat bagi seluruh alam semesta. Wallahu a'lam bii as shawab.

Post a Comment

Previous Post Next Post