Hati-hati, Pinjol Berpotensi Jerat Rakyat Menjelang Ramadan

 




Oleh. Farah Friyanti

(Aktivis Muslimah)


Bulan Ramadan menjadi momen yang dinantikan kaum Muslim khususnya di Indonesia.  Akan tetapi perlu diwaspadai meningkatnya jasa pinjaman online (pinjol) yang menjamur di masyarakat. Pinjol menjadi aktivitas wajar bagi masyarakat. Apalagi kebutuhan masyarakat yang banyak dan berbiaya mahal menuntut untuk dipenuhi.


Melansir dari bisnis (3/03/24), Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) menjelaskan permintaan pinjaman online (pinjol) pada saat momentum Ramadan 2024 ini akan melonjak. Ketua Umum AFPI Entjik S. Djafar menyampaikan bahwa asosiasi menargetkan pendanaan di industri financial technology peer-to-peer (fintech P2P) lending saat Ramadhan dapat tumbuh sebesar 12%. 


Meningkatnya pertumbuhan pinjol di masyarakat mengisyaratkan masyarakat butuh dana cepat. Belum lagi kebutuhan saat Ramadan yang besar dan arus mudik yang tinggi tentu ini mendesak bagi masyarakat yang minim dana. Pinjol jadi solusi karena syarat dan prosesnya mudah dibandingkan perbankan dan perusahaan pembiayaan lainnya.


Permintaan pinjol yang meningkat ini dimanfaatkan pihak tertentu dengan membuat pinjol illegal yang tidak terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Akan sangat berbahaya bagi masyarakat masuk dalam jerat pinjol. Masyarakat diminta untuk menggunakan pinjaman online yang legal agar tidak merugikan masyarakat. Akan tetapi tak banyak juga manfaat yang diambil dari pinjaman legal.


Perlu dicermati bahwa penawaran pinjol sangat menggiurkan. Syarat-syarat yang ditawarkan mudah namun bisa menjebak dan merugikan pihak peminjam. Jika tidak teliti konsumen bisa terjebak dalam biaya bunga yang tinggi dan biaya aplikasi. Proses penagihan juga beragam ada yang diberi tengat waktu tertentu dan ada juga yang meneror hingga mengancam. Sehingga tidak heran ada korban pinjol yang gali lubang tutup lubang.


Momen Ramadan dimanfaatkan betul bagi pelaku usaha pinjol. Korban terbesar yang disasar adalah masyarakat golongan menengah dan menengah ke bawah. OJK mendata bahwa korban pinjol terbesar adalah guru, korban PHK dan ibu rumah tangga. Kebutuhan dana mendesak memaksa korban pinjol menerima persyaratan tanpa melihat risiko. Tak heran jika korban ini nekat mengakhiri hidup demi tak dikejar rentenir. 


Inilah fakta perilaku masyarakat berbuat tanpa berpikir. Padahal Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fakta bahwa pinjol tidak sesuai dengan syariat Islam. Ijtima Ulama menetapkan aktivitas pinjaman online haram karena terdapat unsur riba, memberikan ancaman dan membuka rahasia seseorang kepada rekan orang yang berhutang.


Kaum Muslim harus bisa mengatur kebutuhan secara baik dan jangan terjebak dengan keinginan. Jika penghasilan tidak bisa memenuhi keinginan maka harus didahulukan kebutuhan. Jika bisa mengelola dengan baik, pilihan pinjol tidak akan ada dibenak kaum Muslim.


Sebenarnya tak hanya pinjol yang diharamkan, pinjaman offline juga haram jika terdapat unsur riba. Dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 275: 

“Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”

Allah Swt. telah mengharamkan umatnya mengambil riba dalam akad-akad tertentu. Jika masih tetap mau mengambil riba maka dikatakan siksaan Allah amat pedih, bahkan pelaku riba mau menantang dan mengajak perang Allah Swt.  Bagaimana mau menang jika yang dilawan adalah penciptanya. 


Dengan demikian krisis akhlak sedang melanda umat saat ini. Bertindak tanpa melihat konsekuensi dari perbuatannya diridhai Allah Swt atau tidak. Umat yang abai terhadap aturan Allah Swt. karena minimnya edukasi dan taraf berpikir rendah. Jika umat ini dibimbing dengan ajaran Islam yang benar maka umat akan bertindak sesuai rel syariat yang lurus.


Aturan Islam mengajarkan memberi pinjaman tidak boleh mengambil manfaat. Karena manfaat itu adalah riba. Peminjam harus secara ikhlas memberikan pinjamannya dan berniat untuk menolong. Selain peminjamnya mendapatkan pahala juga ada aktivitas amal ma’ruf didalammya.  Namun secara adab dan etika setiap utang harus lunasi dalam sistem Islam. 


Wallahu a’lam bishawab.

Post a Comment

Previous Post Next Post