Fitrah Keibuan Kian Terkikis, Apa Pemantiknya?


Oleh: Rifdah Reza Ramadhan, S.Sos.


Ibu adalah sosok yang sejatinya menjadi tempat ternyaman penuh kasih sayang bagi anak-anaknya. Namun sebaliknya, saat ini tidak sedikit sosok ibu yang justru menjadi monster bahkan penghilang nyawa bagi darah dagingnya. 


Hal ini dapat terlihat dari kasus yang menimpa Muhamad Rauf. Ia disiksa hingga meninggal dan kemudian dibuang ke saluran irigasi Sungai Bugis, Anjatan, Indramayu oleh ibunya dengan bantuan keluarganya. Motifnya lantaran rasa kesal terhadap perilaku Muhamad Rauf yang dianggap memalukan lingkungan sekitar rumah mereka. Atas hal itu, Nurani selaku tersangka sekaligus ibu korban mendapatkan hukuman 19 tahun penjara dan denda Rp100 juta. (Subang.inews. 17/04/2024).


Ada pula kasus lain di tahun sebelumnya yaitu seorang ibu di Surabaya tega menganiaya bayinya dengan kejam hingga tewas. Diketahui ibu kandung bayi tersebut meninggalkan jasad bayinya untuk pergi ke Yogyakarta mengikuti acara kantor, padahal bayi baru saja berusia 5 bulan.


Hal semacam itu pun dilakukan Kristel Candelario yang meninggalkan anaknya sendirian untuk berlibur ke Detroit dan Puerto Rico. Asisten Jaksa Wilayah Cuyahoga, Anna Famiglia memaparkan bahwa anak tersebut ditemukan tergeletak di kasur yang dipenuhi urine dan feses dalam kondisi kurus dan mengalami dehidrasi. (Health.detik.com. 24/03/2024).


Peristiwa-peristiwa di atas adalah setitik dari banyaknya realita miris lainnya yang terjadi di sekitar kita. Ini menunjukan betapa memprihatinkannya kondisi perempuan, anak, dan generasi kita. Hal ini tidaklah terjadi begitu saja, ada hal besar yang memantik dan melanggengkan kerusakan ini. Sebagaimana dikatakan oleh dr. Arum Harjanti selaku pengamat masalah perempuan, anak, dan generasi bahwa terkikisnya fitrah keibuan lantaran diterapkannya sistem kapitalisme sekuler. (Muslimahnews.net. 04/06/2022).


Permasalahan ini berkaitan erat dengan kesehatan mental yang dimiliki oleh para ibu dan ditambah hal lainnya yang ikut menjadi pemantik. Terlebih menjadi seorang ibu di tengah sistem hari ini sangatlah berat. Banyak hal yang terkumpul di benak ibu sehingga sampai pada tindakan tidak manusiawi tersebut. Bisa jadi pula karena adanya pertengkaran dengan suami, banyaknya tuntutan, atau bahkan kehidupan yang kian sulit. 


Terlebih saat ini ekonomi semakin melilit dan tidak menutup kemungkinan membuat beban semakin bertambah bagi masyarakat terutama bagi ibu. Dengan banyaknya tekanan, membuat kewarasan seorang ibu sulit untuk dikendalikan dan berakibat pada aktivitas merugikan yang tidak terbendungkan lagi. Bahkan tidak jarang anak dijadikan sasaran peluapan segala emosi yang menumpuk.


Maka, bicara soal fitrah ibu tidak akan terlepas dari situasi yang menaungi para ibu. Permasalah ini adalah buah dari rusaknya sistem yang tak mampu memberikan kedamaian bagi seluruh lapisan masyarakat. Padahal negara seharusnya bertanggung jawab memastikan setiap masyarakat hidup dalam keadaan sejahtera dan jauh dari penderitaan. Namun, saat ini negara berlepas tangan atas yang terjadi pada masyarakat dan hanya ada pada saat korban sudah berjatuhan saja. 


Sungguh sangat berbeda dengan aturan Islam. Ketika Islam diterapkan secara menyeluruh, negara akan mengokohkan keimanan masyarakat dengan membangun hubungan yang kuat dengan Sang Pencipta. Dengan itu, segala tindakan akan berlandas pada halal dan haram sesuai aturan-Nya. Maka, setiap individu akan mengetahui bahwa segala segala sesuatu yang dilakukan akan dipertanggungjawabkan kelak di hadapan Allah Swt. 


Di dalam penerapan Islam, keimanan yang kokoh tentunya disertai dengan kebijakan yang adil dan jauh dari kata penderitaan. Itulah yang membuat individu-individu terutama ibu jauh dari suasana tertekan dan hidup dengan penuh kedamaian serta kasih sayang. Sangat jauh dari kondisi saat ini yaitu individu asing dengan Sang Pencipta, mental yang tertekan, ditambah terpaan problematika hidup tiada berkesudahan. 


Saat ini, kita dapat melihat upaya negara yang cenderung fokus hanya pada pembangunan ekonomi, namun di dalamnya masih acuh pada pembangunan manusia. Angka demi angka dikejar tiada henti namun di sisi lain lalai pada amanah mengurusi masyarakat dan jauh dari melibatkan aturan Sang Pencipta sebagai komando kehidupan.


Inilah akibat penerapan sistem kapitalisme sekuler yang menaruh agama hanya pada ranah ritual dan mengenyampingkan agama sebagai pengatur kehidupan. Alhasil yang terlahir adalah jiwa-jiwa yang hampa, bingung, dan tak tahu arah. Sangat amat menjauhkan individu terutama ibu dari peran dan fitrahnya.


Padahal, ibu adalah sosok mulia yang harus mendapatkan haknya secara sempurna dan terfasilitasi untuk menjalankan kewajibannya. Yaitu menjadi sosok yang merangkul, mendidik, dan melimpahkan kasih sayang tiada tara pada anak-anaknya tanpa beban. Semua ini hanya bisa tercapai oleh aturan yang tahu betul bagaimana fitrah ibu dan tiada yang lebih mengetahuinya kecuali yang menciptakannya.


Allahlah sebaik-baiknya pengatur. Dengan tunduk dan menerapkan aturan-Nya secara total, maka akan tercipta kedamaian bagi seluruh alam termasuk bagi seorang ibu, bahkan kebahagiaan yang bukan hanya di dunia tetapi hingga sampai pada kebahagiaan hakiki di akhirat kelak. Maka, sudah waktunya kita bergegas menuju penerapan itu dengan terus menerus melantangkan Islam dan mencampakkan kapitalisme sekuler yang hanya menjadi biang dari kerusakan saat ini.


Wallahu a’lam bishawab.

Post a Comment

Previous Post Next Post