Fenomena KDRT kian marak, bukti gagalnya Sistem kapitalisme mensejahterakan rakyat


Oleh:  Hartati,S.A.P    
(Pegiat Literasi)



Lagi-lagi kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di Indonesia belum ada solusi tuntas. Baru-baru ini terjadi di Kota Depok.  Dilansir dari KOMPAS.com Seorang istri mantan Perwira Brimob berinisial MRF, RFB, mengalami penderitaan dalam rumah tangganya sejak 2020. RFB mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) berulang kali oleh suaminya. Kejadian terakhir pada 3 Juli 2023 adalah yang paling berat. kini kondisi istrinya mengalami luka fisik dan keguguran . Meski suaminya sudah dilaporkan dan ditahan namun kondisi istrinya tentunya masih mengalami sakit mental yang berkepanjangan.


Sungguh ironis karena suaminya seorang perwira yang harusnya bisa menjaga dan melindungi perempuan apatah lagi istri yang sedang mengandung anaknya sendiri namun tega melakukan aksi biadab seperti ini bagaimana bisa menjaga dan mengayomi masyarakat jika nilai-nilai kemanusiaan yang melekat dalam dirinya telah punah. 

Belum lagi kasus lain seorang menantu laki-laki bernama Joni Sing (49 tahun) di Kecamatan Kutalimbaru, Deli Serdang Sumut, tega membacok ibu mertuanya  yang kesal saat ditegur oleh ibu mertuanya itu lantaran melakukan KDRT kepada istrinya.  Kumparan News 22/03/24).


Kasus KDRT sudah menjadi masalah besar di Indonesia. Menurut data KemenPPPA hingga Januari 2024 sudah ada 4.784 kasus KDRT terjadi di Indonesia. Sebanyak 4.185 adalah perempuan. Selain itu kasus KDRT menimpa laki-laki sebanyak 1.026 orang menjadi korban. Jadi laki-laki dan perempuan tidak boleh abai karena masing-masing memiliki risiko menjadi korban KDRT.(Antaranews.com, (4/02/22)).


Kenapa Kasus KDRT marak ? 


Maraknya kasus-kasus KDRT seperti diatas  menunjukkan rapuhnya Ketahanan keluarga salah satunya karena fungsi perlindungan tidak terwujud dimana seorang kepala rumah tangga , suami atau ayah yang harusnya menjadi pelindung bagi keluarganya.


Di luar sana Masih banyak kasus KDRT yang belum terekspose publik. Bahkan bisa jadi hal itu terjadi setiap hari tanpa kita sadari. Dari sisi kemanusiaan KDRT tidak manusiawi. Bahkan dari pandangan Islam tindakan ini tidak dicontohkan Rasulullah Saw. Akan tetapi corak pandangan kehidupan yang berbalut Sekularisme Kapitalisme membuat KDRT semakin masif terjadi. Sebab paham Sekularisme dan Kapitalisme merusak dan merobohkan pandangan mengenai keluarga. 


Sekularisme juga  memisahkan agama dari kehidupan. Akibatnya lahirlah manusia-manusia miskin iman yang tidak mampu mengendalikan emosinya, rapuh dan kosongnya jiwa.

Akibat paham Inilah pelaku yang membuat KDRT nya melakukan aksi biadab kepada keluarganya. Sedangkan kehidupan ekonomi politik masyarakat dihantam oleh sistem Kapitalisme yang menyusahkan kepala rumah tangga akibat beban ekonomi dan beban hidup. Para kepala keluarga kesulitan mendapatkan pekerjaan dan gaji mereka tidak mencukupi menafkahi keluarga. Akhirnya para istri terpaksa ikut menyangga perekonomian keluarga.Padahal keluarnya ibu-ibu dari rumah-rumah karena bekerja, tugas sebagai pendidik generasi tergadaikan.

Sekularisme Kapitalisme membuat negara gagal menjaga ketahanan keluarga. Negara tidak hadir sebagai penjamin ekonomi masyarakat.


Negara juga gagal memberikan sanksi kepada pelaku KDRT. Karena hukum yang dibuat adalah hukum buatan manusia. Terbukti setelah 18 tahun berlaku UU No.23 Tahun 2004 Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (UU PKDRT) yang kemudian didoping oleh UU PKS 2022 KDRT semakin marak terjadi.

Sekularisme Kapitalisme menghilangkan fungsi qawwamah pada laki-laki. Seharusnya masyarakat menyadari bahwa kasus tersebut bukan semata-mata persoalan individual namun persoalan sistemik. Oleh karena itu permasalahan ini membutuhkan solusi yang sistemik pula.


Islam Kaffah sebagai Solusi


Sejak Islam diturunkan sebagai ideologi tatanan kehidupan manusia berubah menjadi mulia dan beradab. Termasuk dalam urusan rumah tangga. Islam jelas menjadikan peran laki-laki sebagai seorang pemimpin (qawwam).


Rasulullah Saw bersabda,”Laki-laki atau suami adalah pemimpin dari keluarganya dan kelak ia akan ditanya atau dimintai pertanggungjawaban tentang mereka. (HR. Bukhari no. 2554 dan Muslim no. 1829). 

Kewajiban ini adalah kemuliaan yang Allah berikan kepada laki-laki. Maka sikap seorang laki-laki kepada keluarganya tidak boleh berpikir masa bodoh, keras, kaku terhadap keluarganya. Dia harus memperlakukan keluarganya dengan baik, penuh kelembutan, kasih sayang, mendidik mereka dengan akidah Islam. Menghukum mereka jika melanggar syariat dengan hukuman yang diperbolehkan dengan syariat Islam. Dan menafkahi keluarga mereka dengan cara yang ma'ruf.


Namun profil laki-laki sebagai qawwam tidak hadir secara individu. Melainkan ada peran negara dalam membentuknya. Negara ini disebut Khilafah. Khilafah akan menerapkan sistem pendidikan Islam yang kurikulumnya melahirkan generasi yang mempunyai kepribadian Islam. Maka pola pikir dan pola sikap mereka akan dipimpin oleh syari'at Islam.


Para laki-laki akan memahami peran dan tanggung jawab besar kelak mereka sebagai qawwam dalam keluarga. Selain itu pendidikan Islam akan melahirkan generasi yang siap mengarungi kehidupan. Karena mereka dibekali dengan ilmu-ilmu alat. Mereka akan mengikuti dinamis perkembangan zaman yang diiringi dengan keilmuan duniawi mereka. Sehingga para laki-laki siap mengemban kewajiban mencari nafkah dengan kemampuan yang mereka miliki. Dan kewajiban mencari nafkah akan ditunjang dengan peran Khilafah.

Sebagai negara yang wajib meriayah (mengurus) rakyatnya.


Khilafah akan menyediakan lapangan pekerjaan untuk setiap laki-laki warga negaranya. Secara teknis pekerja lapangan pekerjaan tersedia dalam sektor pengelolaan SDA, muamalah, pertanian, industri, dan masih banyak sektor lainnya. Khilafah benar-benar tidak akan membiarkan satu laki-laki menganggur. Alhasil mereka bisa memenuhi kebutuhan pokok keluarganya. Peran Khilafah lainnya adalah menjamin kebutuhan dasar masyarakat yang meliputi kesehatan, pendidikan, dan keamanan. Sektor ini akan dibiayai, disediakan, dan difasilitasi oleh Khilafah yang mana diambil dari Baitul Mal. Sehingga setiap warga negara akan mendapatkannya secara gratis dan berkualitas.


Dengan itu, para kepala keluarga hanya akan fokus mencari nafkah untuk membiayai kebutuhan pokok. Jika ada pelaku kekerasan rumah tangga Khilafah akan menerapkan sanksi jinayah berupa qisash, baik yang melakukan seks hingga pembunuhan. Sanksi ini akan memberikan efek jawabir(penebus dosa pelaku) dan zawajir(pencegah di masyarakat). Dengan solusi yang diberikan Khilafah KDRT serta permasalahan kehidupan lainnya terselesaikan. Wallahu'alam bisshawab.

Post a Comment

Previous Post Next Post