Berulangnya KDRT, Bukti Lemahnya Fungsi Keluarga


Oleh Nuni Toid

Pegiat Literasi


Rumah tangga yang harmonis adalah dambaan setiap orang. Rumah menjadi tempat yang aman bagi seluruh anggota keluarga bukan sebaliknya. Namun miris, saat ini  kekerasan sering terjadi dalam rumah tangga dan dilakukan oleh orang yang seharusnya menjadi pelindung. 


Dilansir dari kompas.com (22/3/24). Seorang istri mantan perwira Brimob (RFB) mengalami penganiayaan berulang kali oleh suaminya (MRF). Peristiwa yang terjadi pada 3 Julii 2024 itu  sudah dilaporkan oleh kuasa hukum korban, Renna A Zulhasri kepada kepolisian Resor (Polres) Metro Depok. Akibat penyiksaan tersebut hampir seluruh tubuh RFB mengalami luka-luka. Memar di wajah, dada, punggung, lecet di kepala dan  tangan. Korban tega disiksa di depan anaknya. Ia dipukul, dibanting, diinjak hingga mengalami keguguran. 


Kekerasan lainnya juga terjadi  di Tapanuli Utara. Seorang anak perempuan berusia 11 tahun, menjadi korban pencabulan kakeknya  sendiri (BS) 58 tahun. Ternyata pelaku sudah menggaulinya seminggu sebelumnya dengan ancaman akan dibunuh bila melapor. Sementara itu di Deli Serdang, Sumatera Utara, seorang menantu tega membacok ibu mertuanya karena menolak diingatkan untuk tidak melakukan kekerasan kepada istrinya.


Sejatinya, keluarga adalah sosok terdekat dan ternyaman. Ayah atau suami memberi penjagaan dan perlindungan bagi anak dan istrinya dari segala bentuk ancaman, mencukupi segala kebutuhannya, serta memberikan tempat tinggal yang layak. Sayangnya fungsi tersebut luntur bahkan nyaris hilang, berubah menjadi pelaku kekerasan yang mengerikan.


Berulangnya  KDRT menunjukkan lemahnya pertahanan keluarga di negeri ini. Secara umum, biasanya kasus tersebut terjadi karena beberapa sebab, di antaranya: perselingkuhan, masalah ekonomi, terlilit hutang, judi, pergaulan bebas, campur tangan orang ketiga, dan perbedaan prinsip hidup. Namun di balik penyebab itu yang paling mendasar adalah hilangnya fungsi perlindungan dalam rumah tangga atau keluarga.


Semua penyebab di atas muncul akibat dari negara masih mengadopsi sistem hidup kapitalisme sekular. Negara condong pada para kapital, abai terhadap rakyat. Sempitnya lapangan pekerjaan, biaya hidup yang meroket telah menggerus fungsi ayah sebagai kepala keluarga. Tekanan hidup yang tinggi kemudian memantik emosi. 


Sekularisme yang menjauhkan peran agama dari kehidupan manusia, telah menjadikan manusia bebas untuk melakukan apapun termasuk perselingkuhan, judi, dan maksiyat lainnya. Minim dari pemahaman dan keyakinan hisab di akhirat nanti. Kebahagiaan hanya bertumpu pada kebahagiaan dunia semata. Rakyat dihadapkan pada berbagai masalah yang menghimpitnya dan berimbas pada kehidupan keluarganya. 


UU PKDRT sudah lama diberlakukan, nyatanya kasus bukan berkurang tapi terus berulang. Menandakan sanksi yang diberlakukan tidak efektif untuk mencegahnya. Secara umum bisa disimpulkan bajwa sistem hidup termasuk didalamnya sistem sanksi yang berasal dari hasil pikiran manusia gagal menjamin keamanan setiap rumah tangga rakyatnya. Padahal rumah seharusnya menjadi tempat teraman dan ternyaman bagi seluruh anggota keluarga setelah beraktifitas di luar rumah.


Kita tidak bisa berharap kepada solusi parsial yang dijalankan rezim saat ini. Tapi butuh kepada solusi menyeluruh yang menyelesaikan dari akarnya. Itulah sistem Islam.


Islam Solusi Sempurna


Islam adalah agama sempurna, aturan yang dimilikinya bersumber dari al-Qur'an dan keberadaanya tidak hanya mengatur ibadah ritual semata. Tapi seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk kehidupan rumah tangga umatnya. Keluarga dalam pandangan syariah harus memiliki bangunan yang kuat agar tidak mudah roboh. Sebab ia merupakan bagian institusi terkecil yang strategis dalam memberikan perlindungan dan keamanan.


Negara akan menjamin terwujudnya peran keluarga melalui beberapa aturan. Negara akan menyediakan lapangan pekerjaan seluas-luasnya agar para penanggung nafkah bisa memenuhi kewajibannya. Dalam sistem pendidikan basisnya adalah akidah Islam. Maka akan melahirkan generasi calon ibu atau ayah yang bertakwa, dan berkepribadian Islam.  Karenanya tidak akan tega menyakiti dan berbuat zalim pada keluarganya. Sebagaimana hadis Rasulullah saw:

“Bertakwalah kepada Allah, dan takutlah kalian pada perbuatan zalim, karena sesungguhnya kezaliman itu akan menjadi kegelapan pada hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Terkait sistem pergaulan, Islam telah menetapkan aturan mengenai hubungan laki-laki dan perempuan, bahwa keduanya wajib terpisah sehingga terhindar dari terjadinya perselingkuhan. Begitupun dengan saluran media, Islam akan menyaring dengan ketat konten-konten yang berbau pornografi agar tidak bisa masuk.


Negara yang menerapkan sistem Islam tidak akan melegalkan perjudian, riba, juga miras. Semua itu diharamkan yang harus dikenai sanksi bagi pelakunya. 


Sementara  aspek hukumnya, negara memiliki lembaga peradilan yang mampu memberikan sanksi secara adil bagi pelakunya. Seperti pada kasus melukai badan hingga korban terbunuh, maka dikenai kisas. Melukai dibalas dengan melukai, diinjak dibalas dengan diinjak lagi, membunuh maka dibalas juga dengan dibunuh lagi. Sanksi Islam sangat efektif menahan laju kasus yang terjadi di tengah masyarakat. 


Negara hadir sebagai pelindung utama yang mewujudkan keamanan. Masyarakat yang terbina dengan Islam akan berpikir sebelum bertindak. Paham bahwa semua yang dilakukan harus dipertanggungjawabkan kelak di akhirat.


Begitulah gambaran kehidupan rumah tangga dalam Islam, akan dijauhkan dari kemungkinan menjadi pelaku kekerasan karena agama jadi sandaran, yang ada adalah kebahagian dan keharmonisan. Sosok suami, ayah maupun kakek memiliki peran sesuai dengan fungsi yang ditetapkan syariat. Maka sudah waktunya, negara menerapkan sistem Islam kafah dalam segala aspek kehidupan. Dengan demikian akan terwujud keluarga yang sakinah, mawadah, dan warahmah. 


Wallahu a'lam bish shawab.

Post a Comment

Previous Post Next Post