Ramadhan Ditengah Himpitan Persoalan


Oleh; Naimatul-Jannah 
Aktivis Muslimah Asal Ledokombo Jember



Suka cita umat islam menyambut rhamadhan diberbagai wilayah, karena bulan ramadhan adalah bulan fadhilah dan rahmat. Di dalamnya penuh keberkahan dan keutamaan dari Allah SWT. Seorang beriman hendaknya berbahagia menyambutnya. Di antara hikmah bahagia menyambut Ramadhan adalah bahwa rasa bahagia menunjukkan keimanan bersemai dalam dada. Betapa tidak! Padanya pahala amal sholih dilipat berganda-ganda, pintu-pintu surga dibuka, tertutup pintu-pintu neraka, terbelenggu setan-setan yang menggoda. Di dalamnya terdapat malam yang lebih baik daripada seribu bulan perbandingannya. Dari sisi manakah ada suatu waktu yang menyamai waktu bulan Ramadhan? Saatnya kita lapangkan dada untuk gembira menyambutnya. Rosulullah SAW bersabda;


“Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa padanya. Pintu-pintu surga pun dibuka. Pintu-pintu Jahim (neraka) ditutup. Setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dibandingkan 1000 bulan. Siapa yang dihalangi dari kebaikannya, maka sungguh ia terhalangi.” (HR. Ahmad)



Ramadan di Tengah Himpitan Persoalan



Namun, di tengah rasa bahagia dan rindu menyambut Ramadan, banyak hal yang menyedihkan. Betapa banyak Ramadan sudah kita lewati, tetapi kondisi umat masih saja belum beranjak baik. Nyaris seluruh sektor kehidupan, mulai dari ekonomi, politik, sosial, pendidikan, pergaulan, hukum hingga hankam, tidak ada yang luput dari jeratan persoalan.


Di dalam negeri, kegembiraan umat menyambut Ramadan selalu harus ternodai dengan berbagai permasalahan. Harga-harga kebutuhan meroket naik, terutama bahan pokok. Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan harga komoditas pangan akan mengalami inflasi pada bulan Ramadan mendatang. Hal ini merupakan situasi musiman seperti tahun-tahun sebelumnya.

"Biasanya mengacu pada data historis pada momen Ramadan harga beberapa komoditas diperkirakan meningkat," kata Deputi Bidang Statistik Produksi BPS, M. Habibullah dalam konferensi pers Indeks Harga Konsumen di kantornya, Jakarta, Jumat (1/3/2024).


Habibullah mengatakan kenaikan harga itu disebabkan permintaan yang meningkat pada bulan Ramadan. Adapun, beberapa komoditas yang berpotensi naik di antaranya, daging ayam, minyak goreng, dan gula pasir. Dia bilang kenaikan harga-harga komoditas tersebut akan mendorong tingkat inflasi secara umum.

Habibullah berkata komoditas pangan lainnya seperti beras juga berpotensi naik. Menurut dia, kenaikan itu dipicu oleh kemungkinan dimulainya musim kemarau dan penurunan produksi beras di Indonesia. Dia menyebut apabila harga beras naik, maka juga akan mendorong inflasi secara umum.

"Apabila beras ikut meningkat akibat penurunan produksi dan masuknya kemarau, maka dapat berpotensi semakin mendorong inflasi secara umum. Sepanjang awal tahun ini, harga beras sendiri sudah mengalami kenaikan yang tinggi. BPS menyebut tingkat inflasi secara umum pada Februari 2024 mencapai 2,75% year on year dan 0,37% month-to-month. Secara bulanan, beras mengalami inflasi sebanyak 5,32% dengan andil 0,21% terhadap inflasi umum. Sementara secara tahunan, beras berkontribusi terhadap inflasi sebesar 0,67%. BPS mencatat kenaikan beras terjadi di hampir semua provinsi di Indonesia




Agar Ramadan Tidak Sekadar Seremonial



Sungguh kondisi umat ini bukanlah habitat asli mereka. Umat Islam sejatinya adalah umat terbaik yang diturunkan di antara umat manusia lainnya. Umat Islam adalah umat pemimpin yang selama belasan abad mampu menebar rahmat di seluruh alam. Bahkan umat Islam dalam sejarah panjangnya mampu menjadi mercusuar peradaban yang menyinari dunia dari masa ke masa.


Inilah yang semestinya menjadi bahan perenungan kita. Mengapa Ramadan ke Ramadan tidak memberi pengaruh dalam memperbaiki performa umat Islam sedunia? Sedangkan spirit Ramadan adalah spirit perjuangan dan perubahan. Rasulullah saw. menjadikan momentum Ramadan sebagai lapangan riadat dan amal kesalehan. Bukan hanya untuk seremonial sisi ritual, tetapi juga jihad menegakkan panji kebenaran sekaligus berjuang membangun peradaban.


Umat Islam semestinya paham bahwa akar dari semua problem dan kekisruhan yang menimpanya adalah penerapan sistem sekularisme demokrasi kapitalisme neoliberal. Sistem ini memang sudah lama dipaksakan penerapannya oleh negara adidaya dan anteknya demi melanggengkan penjajahan.


Sistem ini menafikan kedaulatan Tuhan, digantikan oleh kedaulatan rakyat yang diagung-agungkan. Tidak heran jika peran agama, khususnya Islam, dalam kehidupan terus berupaya disingkirkan. Upaya penegakannya pun terus berusaha diadang, padahal kunci kebangkitan umat Islam justru ada pada tegaknya Islam.


Sejarah telah membuktikan, sepanjang umat Islam berpegang teguh pada agamanya dan hidup di bawah naungan institusi Khilafah yang menegakkannya, mereka berhasil menjadi umat terbaik, bahkan menjadi pionir peradaban. Khalifah konsisten menegakkan syariat kafah yang dengannya jaminan kebaikan akan diperoleh rakyatnya. Justru ketika umat mulai mencampakkan Islam dan hidup dengan sistem kepemimpinan sekuler, mereka jadi objek penjajahan dan hidup dengan berbagai penderitaan.


Dengan demikian, hadirnya Ramadan semestinya menjadi momentum untuk meningkatan ketakwaan yang mewujud dalam bentuk ketaatan total pada seluruh ajaran Islam sehingga sukses Ramadan terukur dari kesiapan umat untuk hidup dalam naungan Khilafah yang merupakan ajaran dan sistem Islam.


Selamat datang, Ramadan! Semoga kehadiranmu kali ini tidak sebagaimana Ramadan-Ramadan sebelumnya. Ramadan tahun ini harus memberi spirit perubahan ke arah Islam di tengah umat, meski untuk tegaknya Islam tentu butuh perjuangan sesuai yang Rasulullah saw. contohkan.


Allah Swt. berfirman,


قُلْ هَٰذِهِۦ سَبِيلِىٓ أَدْعُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِى ۖ وَسُبْحَٰنَ ٱللَّهِ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ


“Katakanlah, ‘Inilah jalan (agama)-ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.'”(QS Yusuf: 108). 


Waallahu A'lam bisshowab

Post a Comment

Previous Post Next Post