Pinjol di Bulan Ramadan Begitu Tinggi, Apa yang Terjadi?




Oleh Rizka Adiatmadja

Praktisi Homeschooling


Kehidupan yang terasa semakin sulit, kondisi perekonomian pun bertambah pailit. Menyambut Ramadan dengan harus menerima kenyataan bahwa bahan-bahan pokok melonjak tak terkira, semakin menambah sesaknya derita. Kenyataan yang sudah menjadi tradisi di saat menyambut bulan suci. Selain bahagia karena diberikan ladang pahala yang begitu banyak di bulan puasa, masyarakat harus berlapang dada dan mengencangkan ikat pinggang karena harga kebutuhan pokok yang sulit dijangkau dan ditaklukkan.


Penghasilan yang tidak bertambah harus menutupi pengeluaran yang semakin membengkak parah. Akhirnya pinjol yang dipilih menjadi jalan pintas meskipun semua orang tahu itu bukanlah solusi yang akan membuat masalah tuntas.


Sudah jatuh tertimpa tangga pula, itu peribahasa yang tepat untuk menggambarkan buramnya perekonomian yang dihadapi masyarakat Indonesia. Menjadi miskin di antara SDA yang melimpah. Mimpi tentang sejahtera hanyalah isapan jempol semata.


Dikutip dari Bisnis.com, JAKARTA–AFPI atau Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia memberikan proyeksi saluran pinjol akan melonjak di bulan Ramadan 2024 ini. Menurut Entjik S. Djafar sebagai Ketua Umum AFPI, asosiasi memiliki target pendanaan di industri financial technology peer-to-peer (fintech P2P) lending saat Ramadan dapat tumbuh sebesar 12%.


Ia mengatakan industri fintech lending karena peningkatan permintaan pendanaan di bulan Ramadan. Entjik pun mewanti-wanti adanya potensi inflasi dan lonjakan kredit macet yang bisa menjadi tantangan dan perlu dihadapi industri menjelang momentum Ramadan 2024. (media online Bisnis.com, 3/03/2024)


Ada hal yang teramat kontradiksi terjadi. Seharusnya kesucian Ramadan adalah meningkatkan ketakwaan kepada Allah, mengapa harus dikotori dengan aktivitas ribawi yang jelas-jelas Allah haramkan?


Bulan keberkahan  seharusnya memberi kekuatan kepada umat Islam agar menjaga diri dari segala potensi kemaksiatan. Ironis, berpuasa tetapi memakan riba. Di sisi lain berlelah-lelah menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu, atas nama ketaatan. Namun, di lain ruang mencukupi kebutuhan dengan kemaksiatan. Perekonomian kapitalisme membuat manusia senantiasa berada di jurang kehancuran dengan pilihan-pilihan berisiko tinggi.


Aktivitas berutang kepada pinjol, ternyata banyak diandalkan oleh pelaku UMKM karena administrasi pinjol yang cenderung mudah daripada persyaratan yang diberikan perbankan atau lembaga lain. Meskipun pinjol menerapkan bunga yang begitu tinggi. Banyak sekali sebenarnya yang memberikan edukasi, jika  berutang ke pinjol itu teramat membahayakan. 


Selain bunga yang begitu tinggi, penagihan pun sangat mengintimidasi. Banyak berita terkait peminjam yang terkena depresi hingga bunuh diri. Apa pun lembaganya, baik bank ataupun fintech, semua tentunya berbasis riba, melahirkan kerusakan individu dan masyarakat secara merajalela.


Siapa pun kita, hendaknya menjauhi riba dari aktivitas kehidupan. Meskipun hidup di ranah perekonomian kapitalisme begitu menjerat dan menyulitkan. Riba tidak akan melahirkan keberkahan, sekecil apa pun bunga yang diwajibkan. Terlebih riba dari pinjol yang mencekik keadaan.


Allah berfirman, "Orang-orang yang memakan (bertransaksi dengan) riba tidak dapat berdiri, kecuali seperti orang yang berdiri sempoyongan karena kesurupan setan. Demikian itu terjadi karena mereka berkata bahwa jual beli itu sama dengan riba. Padahal, Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Siapa pun yang telah sampai kepadanya peringatan dari Tuhannya (menyangkut riba), lalu dia berhenti sehingga apa yang telah diperolehnya dahulu menjadi miliknya dan urusannya (terserah) kepada Allah. Siapa yang mengulangi (transaksi riba), mereka itulah penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya." (QS. Al-Baqarah: 275)


Hanya perekonomian Islam yang mampu menyejahterakan dan membumihanguskan riba dari akarnya. Solusi yang diberikan sistem pemerintahan Islam adalah memenuhi hak-hak masyarakat seperti sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan, dan keamanan. Bahkan masyarakat pun mampu memenuhi kebutuhan sekunder dan tersier dengan cara yang tidak melanggar seperti di sistem perekonomian kapitalisme.


Edukasi yang tepat terkait kesederhanaan atau kehidupan yang zuhud pun diberikan oleh pemerintahan sistem Islam sehingga gaya hidup hedonisme itu tak akan ditemukan. Mengutamakan saling berbagi dan membantu. Istilah yang kaya semakin sejahtera dan si miskin yang makin prihatin, tentu tak akan ditemukan di sistem Islam. 


Masyarakat di sistem Islam tidak akan dibuat pusing dengan memikirkan bahan pokok yang mahalnya tak terkira, tetapi fokus beribadah dan merasa cukup dengan yang dimiliki. Tidak bergantung pada riba, pemerintah pun tidak tinggal diam. Senantiasa memantau kebutuhan masyarakat sehingga tidak ada satu pun yang merasa terzalimi. Mudik tentu akan difasilitasi dengan transportasi yang disediakan negara secara aman dan bahkan  cuma-cuma. 


Untuk pelaku bisnis UMKM tak akan dibiarkan terlunta-lunta. Negara akan memberikan modal berupa dana hibah, bantuan dari baitulmal, atau bahkan pinjaman nonriba. Sistem Islam yang mampu menyejahterakan itu bernama Khilafah, satu-satunya sistem yang kompatibel dengan syariat Islam. 


Riba hanya akan tuntas dengan sistem dunia yang berkelas. Masyarakat tidak akan terpuruk seperti ini, sejahtera bukan hanya untuk muslim semata, tetapi nonmuslim pun akan turut serta menikmatinya. Tak akan ditemukan Ramadan yang seakan-akan memuat banyak perbuatan yang bertolak belakang, tetapi ruh ketaatan yang mengalir dan menggambarkan bahwa hanya naungan Islam yang mampu menyejahterakan.


Wallahualam bissawab.

Post a Comment

Previous Post Next Post