Perubahan Ala Rasulullah SAW


 Oleh: Lesi Puspitasari

Aktivis Muslimah

 

Bagi seorang Muslim, sosok Rasulullah SAW sangat berjasa sekali dalam melakukan perubahan. Perubahan yang beliau lakukan nyata di Kota Makkah dengan perubahan yang paling mendasar dilandasi akidah Islam. Islam benar-benar dijadikan dasar oleh Rasul SAW dalam visi dan misi perubahan yang dilakukannya selama kurang lebih 13 tahun. Beliau menghunjamkan akidah Islam sebagai dasar perubahan. Pemikiran yang paling dasar ini menggambarkan visi-misi hidup seorang Muslim yakni dari mana ia berasal? Akan ke mana ia setelah terjadi kematian? Lalu apa yang harus dilakukan? Ini adalah pemikiran dasar (akidah Islam).

 

Laa ilaaha illalLaah Muhammad Rasulullaah menjadi asas yang bersifat pemikiran terhadap Islam sebagai ideologi kehidupan, yakni di balik alam semesta dan kehidupan ini ada Allah yang menciptakan yang ada dari ketiadaan. Artinya, tidak ada Tuhan selain Allah.

 

Perubahan yang dilakukan Rasulullah SAW adalah perubahan yang bersifat inqilabiy/revolusioner. Artinya, menyeluruh bukan perubahan yang bersifat parsial dan tadarruj (bertahap). Karena realitasnya, yang terjadi di Makkah kala itu realitasnya kerusakan sistemis.  Kebobrokan terjadi di berbagai sisi kehidupan, mulai dari akidah, muamalah, adat istiadat, dan sisi kehidupan bermasyarakat lainnya. Kerusakan yang terjadi bersifat sistemis dan ideologis. Maka, perubahan yang harus dilakukan perubahan yang bersifat sistemis dan ideologis.

 

Umat yang ingin mewujudkan perubahan, harus menyadari tidak hanya mengganti orang-orang yang tadinya tidak amanah dengan yang amanah, tapi harus diikuti dengan pergantian sistem untuk memimpin tadi. Jika tidak, yang terjadi akan tetap sama. Ibarat sebuah mobil dan pengemudi, yang bertindak sebagai pengemudi adalah orang yang memang memiliki skill kompetensi untuk mengemudikan mobil tersebut, namun sayangnya, mobil yang digunakan tadi mobil yang rusak, maka jangan heran jika pengemudi dan mobil tadi juga akan masuk ke jurang, bukan karena tidak baiknya pengemudi, namun karena mobil itu sendiri tidak layak untuk dikemudikan.

 

Begitu juga dengan kepemimpinan dan sistem. Walaupun yang menjadi pemimpin itu orang yang baik, jujur, shalih, amanah, sistem yang ia gunakan untuk memimpin bukan sistem yang baik, yakni demokrasi tadi, bisa dikatakan ia orang yang shalih namun berada di tempat yang salah. Yang tadinya berniat untuk merubah, malah bisa akan terikut terubah, yang awalnya berniat untuk mewarnai, malah akan terwarnai, yang awalnya ingin mempengaruhi dengan kebaikan, malah terpengaruh dengan kejahatan.

 

Maka, berbicara perubahan harus meliputi perubahan pemimpin dan perubahan sistem. Sistem yang baik bersumber dari zat yang Maha Baik, Dia-lah Allah SWT, yang telah menjadikan Rasulullah SAW sebagai seorang nabi dan juga sebagai kepala negara.

 

Karakter dakwah nabi adalah nubuwah (kenabian) dan ri’asah (kepemimpinan). Pasca Rasulullah SAW wafat, maka fungsi nubuwahnya ikut berakhir, namun fungsi ri’asahnya tetap berjalan, yang kemudian dilanjutkan oleh para Khalifah, inilah sistem Khilafah Islam.

 

Sabda Rasul SAW, “Dulu Bani Israel diurus oleh para nabi. Setiap kali seorang nabi meninggal, ia digantikan oleh nabi yang lain. Sesungguhnya tidak ada nabi sesudah aku. Yang akan ada adalah para khalifah dan mereka banyak.” Para Sahabat bertanya, “Lalu apa yang engkau perintahkan kepada kami?” Nabi bersabda, “Penuhilah baiat yang pertama. Yang pertama saja. Berikanlah kepada mereka hak mereka. Sesungguhnya Allah akan meminta pertanggungjawaban mereka atas apa yang diminta agar mereka mengurusnya” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad dan Ibn Majah).

 

Perubahan tidak cukup dengan keinginan, harapan, dan tuntutan yang digaungkan, namun harus diawali dengan kesadaran tentang perkara yang meniscayakan perubahan tersebut yakni:

 

Pertama, umat harus sadar penyebab utama penderitaan, kezaliman, serta berbagai krisis yang sekarang dirasakan terus menghimpit karena sistem kehidupan yang salah.  Sekularisme kapitalisme lah yang melahirkan semua kerusakan tersebut.  Kesadaran yang benar tersebut akan mendorong umat menuntut perubahan sistem.

 

Kedua, umat harus memahami sistem apa yang akan menyelamatkan mereka dari penderitaan di dunia dan akan menghantarkan pada keselamatan di akhirat kelak.  Jangan sampai salah dalam menentukan pilihan solusi karena akibatnya akan menjerumuskan pada penderitaan lain, hanya saja pelakunya berganti. Seperti kata pepatah lepas dari mulut harimau masuk ke dalam mulut buaya. 

 

Sistem alternatif itu hanya satu, yakni sistem kehidupan yang berasal dari pencipta manusia yang dalam istilah fiqh Islam disebut khilafah Islamiyah.  Khilafah ialah kepemimpinan umum atas seluruh kaum Muslim di dunia untuk menegakkan hukum atau syariah Islam dan mengemban dakwah ke seluruh dunia (Abdul Qadim Zallum, Nidzam al Hukmi fi al Islam, 2002: 34).  Atas hal itu, ada tiga esensi khilafah: menegakkan syari’ah kaffah, menyatukan umat (membangun ukhuwah), dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia

 

Kesadaran terhadap sistem pengganti ini sangat penting agar perubahan tidak salah arah. Juga untuk menjaganya tetap konsisten di jalan perjuangan dan tidak terbelokkan oleh iming-iming, dan lobi-lobi dari pihak lain yang ingin menjegal arus perubahan. Kesadaran ini harus disertai keyakinan bahwa sistem ini janji Allah SWT yang pasti terjadi (QS an-Nur:55).  Terkait ayat ini, Imam Ibnu Katsir dalam Tafsirnya menyatakan,Ini adalah janji dari Allah SWT kepada Rasulullah saw, bahwasanya Dia akan menjadikan umatnya (umat nabi Muhammad SAW) sebagai khulafa` al-ardl, yakni: pemimpin-pemimpin manusia dan penguasa atas mereka; dan dengan mereka negeri-negeri diperbaiki dan seluruh manusia tunduk kepada mereka, …

 

Tegaknya kembali sistem Islam juga merupakan kabar gembira dari Rasulullah saw sebagaimana dalam sabda beliau, Lalu akan ada kekuasaan diktator yang menyengsarakan. Ia juga ada dan atas izin Alah akan tetap ada. Selanjutnya akan ada kembali Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian.” (HR Ahmad, Abu Dawud ath-Thayalisi dan al-Bazzar).

 

Ketiga, umat harus memahami metode perjuangan untuk menegakkan khilafah. Perjuangan tidak boleh ditempuh dengan metode yang salah. Namun harus mencontoh jalan perjuangan yang sudah dilewati baginda Rasulullah saw (QS al Ahzab:21), yakni dakwah pemikiran.  Pemikiran yang benar akan menuntun pada perubahan yang tepat, sebaliknya pemikiran yang salah akan berujung pada kegagalan dan kesesatan.

 

Keempat, umat harus memahami bahwa menegakkan khilafah adalah kewajiban semua muslim (QS Ali Imran:104).  Kewajiban ini akan senantiasa ada selama institusi khilafah belum hadir.  Siapapun yang melalaikan kewajiban ini akan terkena dosanya. Dan cara untuk melepaskan diri dari dosanya adalah berupaya terlibat aktif dalam perjuangannya, bukan hanya mencukupkan diri sebagai penonton. 

 

Jika umat secara mayoritas sudah menghendaki perubahan dan merindukan hadirnya kepemimpinan Islam, maka akan muncul kekuatan politik yang tidak bisa dibendung. Saat itu tegaknya Khilafah menjadi keniscayaan, in syaa Allah.[]

Post a Comment

Previous Post Next Post