Mudik Sulit Gara-Gara Tiket Melejit


Oleh : Artika



Sudah hampir sepekan umat Islam di berbagai belahan dunia menjalankan ibadah puasa ramadhan. Ya, Ramadhan memang bulan yang paling dinanti umat Islam karena dibulan ini semua amal ibadah dilipatgandakan pahalanya. Berbagai menu takjil berbaris rapi di masjid-masjid setiap sore hari menjelang magrib. Baik muslim maupun muslimah memenuhi shaf shalat Sunnah tarawih setiap malamnya. Indah sekali, apalagi setelah Ramadhan ini ada tradisi mudik ke kampung halaman bersilaturahmi dengan orang tua dan sanak saudara yang telah lama dirindukan, melengkapi sukacita dihari kemenangan.


Namun tak setiap orang bisa merasakan suka cita mudik lebaran. Harga transportasi yang kian hari kian melejit terutama menjelang hari raya membuat rutinitas mudik menjadi sulit. Menurut Bisnis.com (16/03/2024), sebanyak 7 maskapai RI mendapatkan imbauan untuk tidak membuat harga tiket pesawat 'meledak' pada periode mudik Lebaran 2024.


Sudah menjadi rahasia umum bahwa kenaikan harga transportasi menjelang hari raya sangat signifikan baik tranportasi darat, laut maupun udara. Momen ini dimanfaatkan oleh para pemilik modal khususnya di bidang transportasi karena banyak orang rela merogoh kocek yang dalam demi bisa membeli tiket mudik ke kampung halaman. Bagi mereka yang mempunyai pekerjaan tetap dan berpenghasilan cukup tak masalah membeli tiket walaupun mengalami kenaikan, lantas bagaimana dengan para pekerja harian, penghasilan dibawah upah minimum regional atau bahkan mereka yang sampai hari ini belum mendapatkan pekerjaan karena imbas Pemutusuan Hubungan Kerja? Sirna sudah impian untuk silaturahmi melepas rindu pada keluarga yang sudah lama ditinggal ke tanah perantauan.


Ya, memang transportasi adalah hal vital yang dibutuhkan oleh masyarakat, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun di momen tertentu seperti mudik lebaran. Saat ini mustahil rasanya mengharapkan transportasi nyaman dan berkualitas dengan harga yang tak menguras isi dompet. Berbagai perusahaan transportasi seakan berlomba menaikan kelas dengan harga fantastis yang tak terjangkau kalangan menengah kebawah. Hal ini lumrah terjadi karena hari ini kita berada pada sistem demokrasi sekuler yang menerapkan sistem ekonomi kapitalis dimana negara hanya sebagai regulator yang memihak kepentingan korporat. Barang pemenuhan hajat hidup publik seperti pangan, air bersih, perumahan, energi, maupun transportasi dan jasa seperti kesehatan dan pendidikan, hanyalah komoditas ekonomi untuk dikomersialkan sehingga harganya terus melonjak karena semua dinilai atas dasar untung-rugi.


Hal ini sangat berbanding terbalik dengan yang Rasulullah SAW contohkan dalam sistem yang diatur oleh syariat Islam yaitu sistem khilafah. Dimana islam memandang transportasi publik sebagai kebutuhan dasar manusia yang dalam pemenuhannya wajib di jamin oleh negara. Tidak ada untung rugi didalamnya, semua fasilitas terbaik disediakan negara untuk kebutuhan umat. Negara berwenang penuh dan bertanggung jawab langsung untuk memenuhi hajat publik ini. Ketika publik membutuhkan transportasi Lebaran yang nyaman, aman, selamat, dan tepat waktu, negaralah yang bertanggung jawab menjamin semua itu.


Pemenuhan jaminan transportasi untuk rakyat tentu membutuhkan dana besar. Negara mampu mewujudkannya karena memiliki sumber pemasukan negara dari Baitul mal khilafah sehingga mampu memenuhi kebutuhan rakyatnya. Di antaranya dari hasil pengelolaan harta kekayaan umum, termasuk hutan, tambang, minyak dan gas, juga dari sumber-sumber kharaj, jizyah, ghanîmah, fa’i, ‘usyur; dan sebagainya. Semua itu akan lebih dari cukup untuk bisa memberikan pelayanan publik secara memadai dan gratis untuk seluruh rakyat, tentu dengan kualitas yang jauh lebih baik daripada yang dihasilkan oleh sistem kapitalisme seperti sekarang ini. Maka sangat penting sekali untuk segera menerapkan sistem ekonomi Islam secara kaffah dalam bingkai khilafah sehingga fungsi negara bisa berjalan sebagaimana mestinya. Wallahu'alam bishowab

Post a Comment

Previous Post Next Post