Kasih Ibu Telah Hilang Digerogoti Sekularisme


Oleh: Zuliyama, S.Pd
 (Relawan Opini)


Kasih Ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa

Hanya memberi, tak harap kembali

Bagai sang Surya menyinari Dunia


Lagu lawas diatas sedikit banyak masih melekat di ingatan kita. Isi lagu yang menggambarkan betapa tingginya kasih seorang Ibu, hingga diibaratkan sang Surya. Kita pun tak akan menyangkal untuk mengatakan Ibu adalah sosok yang paling kita syukuri karena telah hadir di dunia ini.


Mirisnya, kini kasih ibu sepanjang masa mulai tak berjejak pada sebagian orang. Dilansir dari kompas.com (23/02/2024), polisi mengungkapkan kasus jual beli bayi oleh ibu berinisial EM (30) dari seorang ibu berinisial T (35) di Tambora, Jakarta Barat terjadi karena alasan ekonomi. “T punya suami di Wonosobo kemudian bekerja di Jakarta dalam kondisi hamil, suaminya juga tidak bertanggung jawab. Sehingga di tengah kesulitan ekonomi, datang saudari EM untuk menawarkan, mengambil bayi tersebut dengan sejumlah uang dan untuk membiayai persalinan” kata Kapolres Metro Jakarta Barat Kombes M Syahduddi saat konferensi pers. 


Sementara itu, dilansir dari republika.co.id (24/02/2024), diungkapkan bahwa kasus perdagangan bayi oleh Polres Metro, Jakarta Barat merupakan fenomena gunung es hingga perlu perlindungan dari atas (pemerintah) sampai ke bawah (masyarakat). “Kami menekankan bahwa kasus perdagangan anak ini fenomena gunung es” kata Seto Mulyadi. “Bahwa tugas perlindungan anak adalah juga di kalangan masyarakat, di tengah masyarakat sendiri dan bukan sekadar dibentuk dari atas (Pemerintah), tapi juga dibentuk dari bawah atas kesadaran masyaraat,” sambung Kak Seto yang seorang psikolog juga Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI).


Sekularisme Penyebab Hilangnya Kasih Ibu?


Hilangnya kasih ibu disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya kemiskinan. Jika kita melihat fakta, ketidakmampuan seorang ayah dalam memenuhi kebutuhan keluarganya merupakan masalah yang menjamur di masyarakat. Hal ini sesuai dengan data yang ditunjukkan oleh Badan Pusat Statistik dimana jumlah penduduk miskin mencapai 25,90 juta orang pada Maret 2023. 


Biaya hidup yang tinggi menjadi suatu keniscayaan melihat mahalnya kebutuhan hidup termasuk tingginya biaya kesehatan dan fasilitas pendidikan. Sayangnya, fakta tersebut tidak dibarengi tersedianya lapangan pekerjaan dengan pendapatan yang layak. Akibatnya, seorang ayah sebagai kepala keluarga tak mampu memenuhi tanggung jawab nafkah atas keluarganya. Selain itu, abainya negara juga semakin memperparah masalah kemiskinan yang merebak. Rakyat dibiarkan berjuang sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, bahkan semakin dicekik dengan adanya pajak yang kian meningkat. Adapun bantuan dari pemerintah, hanyalah solusi semu yang nyatanya tak menyelesaikan akar masalah. Ditambah lagi, seringkali bantuan yang diberikan tak sampai kepada rakyat yang seharusnya menerima bantuan. Melihat berbagai persoalan tersebut, tak heran dengan ketidakmampuan seorang ayah membuat  seorang ibu juga turut serta berjuang menuntaskan masalah ekonomi yang ada. Seorang ibu pun tak lagi memprioritaskan rumah tangga dan anak-anaknya hingga seringkali mengabaikannya. Dampak terburuknya, anak-anak mereka malah tak jarang dijadikan komiditas jual beli saat ada yang menginginkannya.


Masalah tersebut dapat terjadi tak lain karena sistem sekularisme yang dianut oleh negara saat ini. Sistem sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan membuat para penguasa tak lagi menjadikan aturan-aturan Allah sebagai landasan perbuatannya. Mereka bertindak sesuai dengan kehendak pribadinya hingga tak jarang berbuat sesuka hati. Masyarakat pun sering kali dibiarkan kesusahan mencari pekerjaan hingga tak mampu memenuhi kewajiban nafkahnya. Adapun jika negara memberikan bantuan, maka bantuan tersebut lebih sering nyangkut di kantong-kantong penyalur bantuan ataupun malah sampai kepada rakyat yang tak butuh untuk diberikan bantuan. Sementara itu, rakyat yang menghadapi masalah kemiskinan ditambah rendahnya keimanan membuat mereka menuntasan masalah kemiskinannya dengan perbuatan tercela yaitu menjual bayinya sendiri.


Hanyalah Aturan Islam Yang Bisa Mempertahankan Kasih Ibu?


Dalam islam, negara akan mengupayakan agar seorang ayah memiliki pekerjaan hingga bisa memenuhi kebutuhan keluarganya. Namun, jika seorang ayah atau pihak lain yang bertanggung jawab atas nafkah tidak memiliki kemampuan untuk itu, maka kewajiban nafkah akan dialihkan kepada negara. Hal ini sebagaimana tugas penguasa/negara sesuai sabda Rasulullah: “Imam yang diangkat untuk memimpin manusia itu laksana penggembala dan dia akan dimintai pertanggungjawaban akan rakyatnya (yang digembalakannya)” (HR. Imam Al-Bukhari). Dengan demikian, seorang ibu tak perlu turut serta dalam pencarian nafkah.

 Adapun seorang ibu yang melandasi perbuatannya atas halal haram akan senantiasa mengurusi rumah tangga serta anak-anaknya. Tingginya keimanan seorang ibu juga akan membuat ia tak sampai menjual bayinya meski ditimpa masalah kemiskinan yang teramat karena kesadaran yang tinggi akan tanggung jawabnya. Hal ini sebagaimana Rasulullah saw. bersabda: “Seorang wanita adalah pengurus rumah tangga suaminya dan anak-anaknya, dan ia akan dimintai pertanggung jawaban atas kepengurusannya.” (HR Muslim). Dari sini jelaslah betapa pentingnya menerapkan aturan islam dalam kehidupan sebagai solusi dari berbagai permasalahan yang ada. Wallahua’lam bissawab.

Post a Comment

Previous Post Next Post