Harga Beras Melejit, Rakyat Menjerit

 



Oleh Arista Yuristania

 (Aktivis Muslimah)


Stok beras di beberapa agen beras dan minimarket belakangan ini terjadi kelangkaan. Tak hanya di Jakarta, di daerah lain pun diketahui terjadi kelangkaan dan kalaupun tersedia harganya lebih tinggi dari biasanya. (media online IDXChannel, 19/02/2024)


Rizal salah seorang agen beras di daerah Banjaran Kabupaten Bandung mengatakan, banyak faktor penyebab kelangkaan beras. Salah satunya adalah jumlah pasokan dari produsen yang berkurang. Rizal menyebutkan bahwa saat ini memang bukan waktunya panen raya dan kesulitan para pedagang untuk mendapatkan pasokan beras pun sempat tersendat sejak Januari 2024. Rizal mendatangkan beras dari para petani beras di Garut, Jawa Barat. (media online IDXChannel, 19/022024)


Kondisi yang memprihatinkan bagi rakyat Indonesia saat ini, untuk bisa bertahan hidup harus pandai-pandai mencari bahan pangan murah. Bahkan mereka rela antre dan berdesak-desakan untuk mendapatkan beras bersubsidi, jika dari tempat mereka ada informasi bagi-bagi beras.


Hal ini menjadi sorotan media asing. Routers dalam artikelnya"Sprawling Queues For Subsidised Rice Highlight Of Indonesia Poor", memuat berita tentang mahalnya harga beras di Indonesia dan antrean masyarakat miskin demi mendapatkan beras murah. Media yang berkantor pusat di London tersebut juga meliput puluhan warga yang sebagian besar perempuan di Bekasi, mengantre untuk membeli sekarung beras bersubsidi. (Tempo, 28/02/204)


Salah satu penyebab naiknya harga beras di Indonesia adalah adanya fenomena El Nino yang telah mengurangi curah hujan di sebagian besar wilayah Asia. Namun benarkah fenomena cuaca El Nino menjadi satu-satunya penyebab mahalnya harga beras?


Masyarakat Indonesia memang sudah terbiasa dengan budaya mengantre untuk mendapatkan harga bahan pokok yang dijual murah karena bersubsidi. Berdasarkan panel harga pangan Badan Pangan Nasional (Bappenas), harga beras premium naik menjadi Rp16.420, harga beras medium naik menjadi Rp14.330 dan harga tertinggi ada di Papua pegunungan yaitu dari Rp20.980 sampai dengan Rp24.490.


Kita harus menyadari ada masalah dalam pengelolaan pangan. El Nino dan gagal panen bukanlah faktor tunggal yang membuat beras menjadi mahal. Kebijakan Bansos yang ugal-ugalan tanpa memikirkan ketersediaan pasokan juga menjadi penyebab beras langka. (media online Dpr.go,2802 2024)


Pengamat politik mengatakan Indonesia dari hulu ke hilir menerapkan pasar bebas dan tidak adanya proteksi oleh pemerintah jika harga beras bergejolak. Hal ini karena penerapan sistem kapitalis yang akhirnya melandaskan semua hal pada asas liberalisasi, termasuk perdagangan. Tidak terkecuali dalam hal pangan dan pertanian. Dalam sistem kapitalis negara hanya menjadi regulator saja, tanpa benar-benar meriayah rakyat, dan memenuhi setiap kebutuhan pokok mereka, termasuk dalam hal pangan.


Hal ini berbeda dengan sistem Islam, jika diterapkan secara kaffah. Islam memandang politik pangan ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pangan rakyat. Negara tidak boleh kalah dari para kapitalis yang mengejar keuntungan, mengakibatkan politik pertanian dan pangan tidak berjalan baik. Negara akan menjaga dan mengatur pertanian untuk bisa mewujudkan ketahanan pangan.


Islam menerapkan berbagai kebijakan dalam mengelola pangan. Negara menjamin pemenuhan pangan bagi setiap masyarakat dengan mengoptimalkan penyediaan pasokan pangan dari dalam negeri dengan melaksanakan konsep pertanian Islam. Selain itu juga negara memaksimalkan potensi pertanian dalam negeri dengan modernisasi pertanian dan sinergisitas antar wilayah sehingga tidak perlu impor beras.


Apabila kita belajar Riayah dari Khalifah Umar, mengutip dari buku Umar Ibn Al-Khattab, His Life and Times, Vol. 1. Kekeringan dan kelaparan parah sempat terjadi pada tahun ke-18 setelah hijrah. Tahun itu disebut Ar-Ramadah karena angin menerbangkan debu seperti abu (ar-ramad). Bencana itu mengakibatkan kematian hingga hewan-hewan ikut merasakan dampaknya. Khalifah Umar merasa bertanggung jawab melakukan berbagai usaha untuk membantu rakyatnya, termasuk mendistribusikan pangan dari Dar Ad-Daqeeq. Makanan dari institusi yang menangani kebutuhan logistik masyarakat itu dibagikan oleh sang pemimpin Umar bin Khattab untuk masyarakat. Selain itu juga Umar berdoa memohon pengampunan dan rezeki dari Allah Ta'ala hingga akhirnya turun hujan dan berakhirlah bencana. Umar tidak bisa tidur sebelum seluruh rakyatnya bisa dipastikan telah terpenuhi kebutuhannya. Andai saja pemimpin muslim mau menerapkan politik pandangan Islam. Berbagai masalah pangan bisa tuntas hingga ke akarnya. Wallahualam bissawab.

Post a Comment

Previous Post Next Post