Fungsi Kekuasaan dalam Islam



Oleh Juwita 

Aktivis Muslimah


Dalam Islam sangat penting di mana kekuasaan harus di sandingkan dalam agama bahkan sebagian ulama, menyatakan agama dan kekuasaan itu ibarat saudara kembar karena itu sering dikatakan, agama adalah fondasi, sementara kekuasaan adalah penjaganya. Apa Saja yang tidak memiliki fondasi akan hancur dan apa saja yang tidak memiliki penjaga akan lenyap ( Abu Hamid al-Ghazali, Al-Iqtis-had fi al-I'tiqad, 1/78).


Karena itu Rasulullah saw. sejak awal berdo'a kepada Allah agar diberi suatu kekuasaan. Namun, bukan kekuasaan yang sembarangan tetapi bisa menolong agamanya. Kekuasaan yang pertama, untuk menegakkan agama Islam yang sekaligus menjadi motif pertama Rasulullah saw.


Untuk meminta kekuasaan kepada Allah Swt. yang pada akhirnya Rasulullah saw. menjadi penguasa (atau kepala negara) Daulah Islam di Madinah dan menegakkan Islam serta menyebar luaskan dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. Kedua, untuk mengurus berbagai kepentingan dengan menggunakan syari'ah Islam semua warga negara muslim maupun nonmuslim terurus dan terayomi dengan baik tidak ada yang berani saling menzalimi, dan tidak ada pihak yang kuat memangsa pihak yang lemah.


Berbeda dengan kondisi saat ini di mana Islam dan kekuasaan dipisahkan. Negara memberlakukan kapitalisme sekuler, akibatnya penguasa bukan hanya gagal mencegah berbagai kezaliman yang menimpa rakyatnya. Penguasa yang berkolaborasi dengan oligarki bahakan sering menjadi aktor utama dalam berbagai kebijakan zalim terhadap rakyat. Tidak lain aneka Undang-Undang dan kebijakan negara yang menguntungkan oligarki dan merugikan rakyat. Seperti pengesahan sejumlah Undang-Undang oleh pemerintah contohnya: UU migas, UU mineral dan batu bara, UU kelistrikan, dan Omnibus law, UU IKN, dll.


Karena itu, dalam pandangan Islam tidak ada artinya kekuasaan jika tidak digunakan untuk mengurus berbagai urusan dan kepentingan rakyat dengan syari'ah Islam. Sayangnya bangsa ini memilih sekularisme meski berpenduduk mayoritas muslim, Islam tidak dipilih untuk berdampingan dengan kekuasaan bahkan Islam acap kali absen dalam setiap momen pergantian kekuasaan, seperti saat pilpres/pemilu dalam Islam bukan hanya ibadah ritual, urusan moral atau perkara spiritual saja, tetapi Islam juga mengatur ekonomi, sosial, pendidikan politik, pemerintahan hukum, peradilan, dll. Selain itu sedikit ulama yang menyerukan para penguasa agar memimpin dan mengurus rakyat dengan syari'ah Islam.


Padahal dalam kitab-kitab para ulama fiqih, misalnya tidak hanya dalam thaharah (bersuci) Ubudiyah (salat, puasa, zakat, atau haji) di dalamnya juga dibahas muamalah, termasuk ekonomi siyaasah  (politik), hudud hingga imamah (khilafah) bahkan jihad (perang), fi sabilillah, dll. Jelas dalam Islam fungsi kekuasaan untuk menegakkan Islam serta mengurus berbagai urusan dan kepentingan rakyat dengan syari'ah Islam. Semua ini adalah wujud keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt. 


Tentu saja semua itu bisa terwujud apabila seluruh lapisan masyarakat bahkan negara ada kemauan untuk menjalankan, menerapkan seluruh syariat Islam secara sempurna, dalam semua aspek kehidupan. Itulah yang di praktikan oleh Baginda Nabi Muhammad saw. selaku penguasa di Madinah dulu. 

Wallahualam bissawab

Post a Comment

Previous Post Next Post