Dapatkah Islamophobia Berakhir?

 


Oleh: Nida Aprida


Kebencian terhadap muslim meningkat akibat genosida Israel di Gaza yang sampai hari ini memakan korban hampir 31.000 jiwa. Serangan serangan yang khusus ditujukan kepada kaum muslim bukan hanya di gaza palestina saja tetapi telah terjadi di berbagai belahan dunia.


Penting untuk memahami dampak besar yang dimiliki genosida Israel di Gaza terhadap umat Muslim secara luas. Serangan-serangan brutal yang ditujukan kepada warga sipil, termasuk anak-anak dan perempuan, telah menimbulkan trauma yang mendalam dan meninggalkan luka yang sulit sembuh. Selain menyebabkan korban jiwa yang sangat besar, serangan-serangan tersebut juga menghancurkan infrastruktur, mengganggu layanan kesehatan dan pendidikan, serta mengakibatkan kehilangan sumber daya ekonomi bagi penduduk Gaza.


Di Swedia pada tahun 2015, India (Rohingya) pada tahun 2018, di New Zealand pada tahun 2019. Norwegia, Inggris, Pranciss, German, Srilanka dll. Munculnya Islamofobia di dunia barat sebenarnya pertama kali terjadi pada saat peristiwa 11 September di Amerika serikat, sebagai agenda global wajib memerangi terorisme. Sejak saat itu Islam menjadi sasaran tuduhan dan diskriminasi. Terlebih media barat terus menarasikannya negative, memberi gambaran buruk islam dengan berbagai stigma. Islam dianggap pro dengan kekerasan dengan ajaran jihad dan perangnya. Fanatisme islam dinilai menimbulkan benih ekstrimisme dan terorisme.


Adanya fenomena fobia terhadap Islam semakin menguat setelah peristiwa tragis 11 September. Insiden tersebut tidak hanya menimbulkan trauma mendalam bagi ribuan korban dan keluarga mereka, tetapi juga memicu gelombang ketakutan dan prasangka terhadap umat Islam secara global. Fenomena ini menciptakan gambaran ketakutan di kalangan barat akan kebangkitan ideologi Islam yang dilihat sebagai ancaman terhadap keamanan dan stabilitas dunia.


Sejak peristiwa 11 September, narasi negatif tentang Islam seringkali dipertontonkan oleh media massa dan diadopsi oleh beberapa tokoh politik. Hal ini menyebabkan umat Islam dianggap sebagai musuh potensial yang harus diwaspadai dan dikendalikan. Stereotip negatif tentang agama ini menjadi begitu meluas sehingga setiap tindakan terorisme yang melibatkan individu atau kelompok yang mengaku Islam dengan cepat dikaitkan dengan seluruh umat Islam secara umum.


Namun, penting untuk diingat bahwa Islam sebagai agama yang damai dan toleran telah disalahartikan dan disalahpahami dalam banyak kesempatan. Islamophobia harus dihentikan. Solusinya tidak cukup hanya berdakwah dan memberi penjelasan bagaimana ajaran islam yang benar. Umat harus disadarkan, di balik islamofobia ada rencana jahat untuk mencegah ideologi islam tegak kembali di dunia ini. Selain membongkar skenario jahat orang kafir. 


Umat pun harus disadarkan bahwa penyelesaian islamofobia akan tuntas ketika syariat islam ditegakkan di bumi ini dengan ditegakkannya kembali Khilafah. Saat itulah seluruh manusia akan menyaksikan keadilan dan kesejahteraan yang nyata di hadapan mereka. Fitnah dan tuduhan keji mereka terkait islam dengan sendirinya terbantah realitas yang disuguhkan daulah islam. Rahmat dan kebaikan yang dijanjikan islam akan tersebar ke seluruh penjuru dunia. Wallahu a’lam bish-shawabi

Post a Comment

Previous Post Next Post