Caleg gagal terpilih, Timses Depresi, Potret Buramnya Penduduk Negeri ini


Oleh: Siti Rusfriani Verina, S.Pd


Pemilihan umum atau pemilu sudah dilaksanakan di bulan februari ini. Masyarakat negeri ini menunggu hasil pemilihan Presiden ( PilPres).  Kotak suara masyarakat sudah dilihat dan dihitung hasil suara dari masing-masing Caleg yang berkompetisi untuk mendapatkan kekuasaan menjadi pemimpin negeri tercinta ini. 


Meskipun belum diumumkan siapa yang akan menduduki kursi kekuasaan negeri ini, para Caleg dan Tim sukses sudah mengetahui hasil suara yang mereka dapatkan dari masyarakat. 

Banyak dari Calon legislatif (Caleg) maupun Tim sukses yang mengalami kecewa,depresi, stress, bahkan ada yang sampai bunuh diri di batang rambutan dan ada yang sampai tidak malunya meminta kembali uang yang telah diberikan kepada masyarakat, Astaghfirullah. 


Selain itu, ada Caleg yang menarik kembali bantuan paving blok yang sudah diberikan untuk pembangunan sudut jalan desa, membongkar jalan yang sebelumnya sudah dibangun dan  menyalakan petasan jumbo di mesjid hingga ada satu orang yang tewas karna itu. 


Hal ini mereka lakukan karena mengalami kekalahan saat pemilu 2024 yang mendapatkan hasil suara masyarakat yang kecil.


Fenomena Ini menunjukkan betapa buramnya penduduk negeri ini. Buram dalam mental berkompetisi untuk mendapatkan kekuasaan menjadi pemimpin umat, yang mana hanya ada mental untuk siap menang namun tidak ada mental untuk mendapatkan hasil kekalahan.


 Padahal memang inilah konsekuensinya ada yang terpilih dan ada yang tidak dalam pemilihan Presiden dan wakil presiden ini. Mental para Caleg yang gagal ini lemah dari sisi kompetisi, mereka banyak menghabiskan biaya untuk mendapat suara banyak dari masyarakat. 


Betapa jabatan menjadi sesuatu yang diharapkan mengingat keuntungan yang didapatkan. Sehingga rela membeli suara masyarakat dengan modal yang sangat besar dengan berbagai macam cara yang dilakukan dan pamrih mendapatkan suara masyarakat untuk dipilih atau di coblos dalam pemilu. 


Disisi lain menggambarkan model pemilu ini adalah pemilu yang berbiaya tinggi, tidak hanya tahun ini melainkan tiap diadakan pemilu menghabiskan biaya tinggi. Tentunya yang memiliki banyak uanglah yang bisa berkompetisi untuk mendapatkan kekuasaan menjadi pemimpin negara. Beginilah model pemilu di sistem Demokrasi ini.


Tidak menggunakan akal dengan sempurna tanpa melihat cara yang dilakukan untuk mendapatkan suara banyak dari masyarakat itu benar atau salah, sesuai atau tidak sesuai nya dengan syariat Islam. Karena tujuan mereka berbuat adalah asas manfaat, untuk mendapatkan manfaat dari perbuatan yang dilakukan, bukan tujuan mereka berbuat untuk mendapatkan ridho Allah SWT. 


Mereka tanpa berfikir malu ketika mengambil kembali yang diberikan kepada masyarakat menjelang pemilu, padahal sejatinya dalam Islam yang namanya sedekah itu dilakukan 

dengan ikhlas karena Allah dan tanpa mengharapkan imbalan apapun. Sedekah jelas mempunyai manfaat bagi yang melakukannya yaitu agar terhindar dari murka Allah SWT, dapat mempererat tali persaudaraan, memperpanjang umur dan memberikan ketenangan pada batin.

Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam (QS. Al-Hadid:18)


اِنَّ الْمُصَّدِّقِيْنَ وَالْمُصَّدِّقٰتِ وَاَقْرَضُوا اللّٰهَ قَرْضًا حَسَنًا يُّضٰعَفُ لَهُمْ وَلَهُمْ اَجْرٌ كَرِيْمٌ


”Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah dengan pinjaman yang baik, akan dilipatgandakan (balasannya) bagi mereka; dan mereka akan mendapat pahala yang mulia." (QS. Al-Hadid:18)


Pemilu dalam sistem Demokrasi bertujuan untuk mendapatkan suara terbanyak dari masyarakat agar mendapatkan kekuasaan dalam pemerintahan negeri. Cara yang ditempuh para Caleg  dan Timses untuk mendapatkan suara terbanyak yaitu dengan melakukan kampanye,berbagi sembako, uang dan bentuk bantuan sosial lainnya.


 Tujuannya untuk mendapatkan  manfaat dari yang telah diberikan, bukan semata-mata untuk mengharapkan ridho Allah SWT. Beginilah sistem Demokrasi Kapitalisme yang berasaskan sekulerisme yaitu memisahkan agama dalam kehidupan dan memisahkan agama dalam negara.


 Kekuasaan hanya bisa didapatkan oleh orang yang berduit. Yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Aturan yang diadopsi dan diterapkan dalam pemerintahan yaitu aturan yang berasal dari manusia bukan aturan dari sang Pencipta. Manusia memiliki sifat lemah,terbatas dan saling membutuhkan satu sama lainnya.


 Begitu juga Akal manusia terbatas tidak mampu untuk membuat aturan sendiri dalam kehidupan. Tentunya aturan dari Allah yang diterapkan dalam kehidupan yaitu yang ada didalam Al-Qur'an dan hadist.


Islam memandang jabatan menjadi seorang pemimpin umat adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT. Amanah yang tanggung jawab nya besar yaitu mengurusi urusan umat dalam segala aspek kehidupan.


 Sebagaimana yang kita contoh Rasulullah SAW dalam memimpin umatnya amanah dalam tanggung jawab nya sebagai pemimpin umat dan menerapkan aturan Islam secara keseluruhan. Dan Islam juga menetapkan cara-cara yang ditempuh untuk mendapatkan kekuasaan harus sesuai dengan hukum Syara', bukan dengan cara yang tidak diridhoi oleh Allah sebagaimana fenomena yang terjadi pada pemilu sistem hari ini.


 Rasulullah SAW menegaskan jabatan adalah amanah yang wajib dijaga. Suatu hari, Abu Dzar berkata, “Wahai Rasulullah, tidakkah engkau menjadikanku (seorang pemimpin)? Lalu, Rasul memukulkan tangannya di bahuku, dan bersabda, ‘Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau lemah, dan sesungguhnya hal ini adalah amanah, ia merupakan kehinaan dan penyesalan pada hari kiamat, kecuali orang yang mengambilnya dengan haknya, dan menunaikannya (dengan sebaik-baiknya).” (HR Muslim).


Dalam Islam, pemilu adalah uslub atau cara untuk mencari pemimpin atau majelis umat, dengan mekanisme sederhana, praktis, tidak berbiaya tinggi dan penuh kejujuran tanpa tipuan maupun janji-janji. Betapa luar biasanya ketika aturan Islam diterapkan dalam kehidupan, dalam pemilu pun tidak serumit seperti pemilu sistem hari ini.


 Aturannya menenangkan hati, menentramkan jiwa dan sesuai dengan fitrahnya manusia. Para calon yang akan dipilih dalam pemilu pun berkriteria memiliki kepribadian Islam dan hanya mengharapkan keridhaan Allah SWT semata.


 Sahabat Rasulullah Umar bin Khattab ketika beliau dipilih dan diamanahkan jadi Khalifah, beliau merasa bersedih dan khawatir nantinya tidak mampu untuk mengemban amanah ini. Yang difikirkan bukan kesenangan ketika diangkat jadi pemimpin umat melainkan tanggung jawab berat yang akan dilaksanakan dan akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah.


 Gaji ketika menjadi Khalifah saja diberikan hanya untuk mencukupi kebutuhan Khalifah saja, tidak diberikan secara berlebihan.  Ini menunjukkan bahwa menjadi Khalifah, pemimpin umat yang dicari bukanlah materi melainkan pahala dari Allah ketika menjalankan amanah dipilih menjadi wakil umat untuk menerapkan aturan Islam dalam kehidupan. 


Masya Allah, betapa sempurna Islam sebagai suatu sistem kehidupan. Tentunya jika Islam benar-benar diterapkan dalam kehidupan, akan menjadi Rahmat bagi seluruh alam. Tentunya menjadi kewajiban kaum muslimin untuk mengembalikan penerapan aturan Islam dalam kehidupan. Wallahu a'lam bisyawab.

Post a Comment

Previous Post Next Post