Solusi Pengangguran, Hanya Dengan Pelatihan ?


Oleh : Reshi Umi Hani

(Aktivis Muslimah) 


Bupati Paser dr. Fahmi Fadli mengungkapkan kekhawatirannya terkait isu sentral yang harus diselesaikan oleh Pemerintah Kabupaten Paser yakni terkait pengangguran. Beliau menyampaikan bahwa angka pengangguran tidak akan pernah bisa ditekan hingga nol, tetapi bisa di kurangi secara signifikan dengan beberapa upaya, salah satunya ialah dengan upaya melibatkan pihak ketiga yakni pihak swasta yang memiliki platform sama, yang digalangkan melalui pemberian keterampilan dan kompetensi kepada angkatan kerja hingga terbentuk pribadi yang siap pakai dan berdaya saing. 


Upaya pemerintah dengan menggandeng pihak ketiga berupa pelaksanaan progam-program pelatihan tidaklah cukup karena pada faktanya dalam pekasanaan prdogram-program pelatihan tersebut pemerintah dan pihak ketiga tersebut memberikan ketentuan tertentu dan bahkan tidak jarang ketentuan yang ada justru memberikan keterbatasan kepada jumlah orang yang ikut, sehingga hanya sebagian masyarakat pengangguran saja yang dapat ikut, tidak menyeluruh dan terkadang hanya bersifat temporer saja.


Hal tersebut tentu berdampak pada realisasi tenaga yang dipekerjakan masih sedikit dibanding jumlah penganggur, di tambah lagi dengan semakin melunjaknya angka usia produktif di Indonesia sebagai akibat dari bonus demografis yang sedang terjadi. 


Sering pula didapati output daripada program-progam pelatihan yang di galangkan oleh pemerintah hanya sebatas dilatih sebagai pekerja tenaga mekanik, satpam dan lain-lain yang statusnya sebagai buruh bagi para kapital.


 Seharusnya negara berkewajiban menyediakan lapangan kerja bukan bekerja sama dengan pihak ketiga yang serapan kerjanya terbatas dan bersyarat sesuai standar perusahaan. 


Pemerintah sudah sepatutnya berkewajiban dalam penyediaan lapangan pekerja bagi masyarakat terutama bagi para laki-laki, terutama mereka-mereka yang berstatus pengangguran. Sebagaimana pemerintah perlu memenuhi salah satu ketentuan bagi kaum muslim yang telah Allah ta’ala tetapkan dalam surah At-Taubbah ayat 105, sebagai berikut :

وَقُلِ اعْمَلُوْا فَسَيَرَى اللّٰهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُوْلُهٗ وَالْمُؤْمِنُوْنَۗ وَسَتُرَدُّوْنَ اِلٰى عٰلِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَۚ 


Artinya :Katakanlah (Nabi Muhammad), “Bekerjalah! Maka, Allah, rasul-Nya, dan orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu. Kamu akan dikembalikan kepada (zat) yang mengetahui yang gaib dan yang nyata. Lalu, Dia akan memberitakan kepada kamu apa yang selama ini kamu kerjakan.”


Sebagai kaum muslim seharusnya kita menilik dan berkaca kembali kepada sejarah, bagaimana pada masa Pemerintah dalam Islam, yakni khalifah, yang dalam pengelolaan nya akan bertanggung jawab dalam menjamin ketersediaan lapangan kerja bagi rakyatnya. 


Khilafah akan melakukan industrialisasi di dalam negeri dengan mendirikan industri alat-alat. Syekh Abdurrahman al-Maliki di dalam kitab As-Siyasatu al-Iqtishadiyatu al-Mutsla menyatakan, “Untuk menjadi negara industri, ditempuh satu jalan saja, yaitu menciptakan industri alat-alat (penghasil mesin) terbit dahulu. 


Dengan adanya industri alat-alat ini, akan tumbuh industri-industri yang lain.” Hasilnya, Khilafah pada masa lalu memiliki industri dengan spektrum yang sangat luas. Dengan berkembangnya industri maka penyerapan tenaga kerja pun akan semakin terbuka lebar bagi Masyarakat, sehingga tentu akan langsung berdampak pada menipis nya angka pengangguran. Dan akan semakin berkembang pula institusi maupun lembaga yang mendukung pengembangan SDM dan skil masyarakat dalam menyiapkan individu masyarakat yang berkompeten dalam masing-masing bidang pekerjaan yang ditekuninya.

Wallahu'alam bisshawab

Post a Comment

Previous Post Next Post