Riba Merajalela Akibat Penerapan Sistem Rusak

 


Oleh Suherti

Ibu Rumah Tangga dan Aktivis Muslimah


Kesejahteraan masyarakat akan didapat apabila sandang, pangan dan papan bisa tercukupi.  Sehingga kehidupan tenang dan tentram pun akan terwujud. Tetapi sangat disayangkan kesejahteraan kehidupan di dalam sistem kapitalis, seakan hanya menjadi impian setiap kepala keluarga. Karena sulitnya mencari pekerjaan yang layak, untuk mampu mencukupi kebutuhan rumah tangga. Setiap hari harga kebutuhan bahan pokoknya saja selalu naik dan tidak sesuai dengan pendapatan yang akhirnya lebih banyak pasak daripada tiang mengakibatkan kemiskinan struktural dalam sistem ini.


Keadaan masyarakat yang serba kurang dan jauh dari kata sejahtera, seringkali dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang memiliki modal besar yang tidak mempedulikan nasib sesamanya. Adanya kebebasan dalam berperilaku dan tidak adanya kontrol oleh pemerintah mengakibatkan menjamurnya jasa pinjaman berbasis ribawi yang beredar langsung di masyarakat seperti bank emok dan pinjaman online (Pinjol) masih sering digunakan oleh masyarakat khususnya masyarakat kabupaten Bandung dan sekitarnya. (Soreang Ayo Bandung 4/2/2024)


Meskipun akibat dari utang pinjaman berbasis ribawi ini telah banyak menimbulkan masalah di dalam masyarakat bahkan seringkali berujung pada tindakan kriminal, hal semacam ini akan terus ada dalam sistem ini sebab tidak ada batasan perbuatan yang membatasinya karena standar perbuatanya adalah manfaat, dan sumber kebahagiaanya adalah meraih materi sebanyak- banyaknya. Jadi meskipun bank emok sudah menjadi musuh bagi sebagian masyarakat dan penegak hukum, akan tetapi jika masi ada sebagian masyarakat yang mau memanfaatkanya bank emok akan terus langgeng beroperasi. Karena, tidak ada larangan tegas dari pemerintah yang melindungi dan mengayomi rakyatnya dari kasus ribawi. Mrisnya pemerintah juga memakai sistem ekonomi berbasis ribawi, hal ini menjadi kebiasaan dalam masyarakat kapitalis melakukan praktek ribawi.

 

Tentu hal semacam ini tidak akan terjadi jika yang dipakai dalam masyarakat adalah aturan Islam, sebab dalam Islam Allah Swt dengan tegas melarang praktek riba.

Allah berfirman:

 وَاَحَلَّ اللّٰهُ الۡبَيۡعَ وَحَرَّمَ الرِّبٰوا‌ ؕ فَمَنۡ جَآءَهٗ مَوۡعِظَةٌ مِّنۡ رَّبِّهٖ فَانۡتَهٰى فَلَهٗ مَا سَلَفَؕ وَاَمۡرُهٗۤ اِلَى اللّٰهِ‌ؕ وَمَنۡ عَادَ فَاُولٰٓٮِٕكَ اَصۡحٰبُ النَّارِ‌ۚ هُمۡ فِيۡهَا خٰلِدُوۡنَ

"Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya Iarangan dari Tuhannya, laIu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang Iarangan) dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka mereka kekaI di dalamnya. (QS Al Baqarah 275).


Di dalam Islam yang menjadi standar perbuatan seorang hamba adalah halal dan haram, dan standar kebahagiaanya adalah meraih rida Allah, sehingga apapun perbuatanya harus terikat dengan hukum syara. Dalam Islam pemimpin bertindak sebagai pelindung sekaligus pengayom rakyatnya yang menjamin kebutuhan sandang, pangan dan papan seluruh rakyatnya, secara langsung menjamin fasilitas umum gratis dalam hal pendidikan dan kesehatan. Sehingga masyarakat tidak bingung memikirkan biaya jika ada anggota keluarganya yang sakit, dan seluruh masyarakat tidak pusing memikirkan mahalnya biaya pendidikan. Hal ini akan melahirkan generasi yang cerdas dan bertakwa. Secara tidak langsung pemerintah membuka seluas-luasnya lapangan pekerjaan bagi setiap kepala keluarga, sehingga lebih mudah menjalankan amanah untuk memenuhi semua kebutuhan rumah tangganya. Jika kebutuhan rumah tangga terpenuhi tidak mudah tergiur bujukan untuk meminjam bank emok dan pinjol. Pemerintahan dalam Islam akan menindak tegas siapa saja yang melakukan praktik ribawi karena telah melanggar syariat.


Ketenangan, ketentraman dan kesejahteraan, dalam hidup bermasyarakat akan lebih terasa. Ketakwaan kita juga akan lebih terjaga jika aturan yang diterapkan adalah hukum dan aturan yang datang dari Sang pemilik kehidupan, yaitu Allah sebagai Sang Pencipta sekaligus Sang pengatur kehidupan manusia dan semua aturan Allah akan dapat diterapkan hanya dengan penerapan Islam kaffah dalam bingkai khilafah.


 Wallahua'lam bissawab

Post a Comment

Previous Post Next Post