Rawan Ganguan Mental Bukti Bobroknya Demokrasi


Luluk Afiva, ST

Praktisi Pendidikan


Pesta demokrasi belum dilaksanakan, anehnya beberapa  rumah sakit dan rumah sakit jiwa telah mempersiapkan ruangan khusus untuk mengantisipasi para caleg yang mengalami stress atau ganguan jiwa akibat gagal dalam kontestasi. Di satu sisi kita sangat mengapresiasi kesiapan dari RS maupun RSJ, namun di sisi lain muncul pertanyaan mengapa fokus menyelesaikan akibat bukan menyelesaikan sebabnya. Mengapa dalam pesta demokrasi banyak orang stress, depresi maupun ganguan mental?


Hal ini sebagaimana informasi yang diperoleh dari Kompas TV (24-01-24) bahwa RS Oto Iskandar Dinata, Soreang, Bandung, Jawa Barat, sedang menyiapkan 10 ruangan VIP untuk persiapan pemilu dan menyiapkan dokter spesialis jiwa untuk caleg yang mengalami gangguan kejiwaan, seperti gelisah, cemas, gemetar, dan susah tidur. RSUD dr. Abdoer Rahiem Situbondo Jawa Timur pun sama, tengah menyiapkan poli kejiwaan dan ruangan rawat inap jiwa, baik yang akut maupun kronis atau ringan. 


Kasus ganguan mental yang dialami para caleg yang gagal dalam ajang pesta demokrasi (Pemilu) sebenarnya menunjukkan pada kita bahwa demokrasi memang sistem yang bobrok. Karena ide ini lahir dari sekularisme yang memisahkan agama dari politik (negara). Sehingga mereka akan menghalalkan segala cara untuk meraih kekuasaan untuk memperkaya diri dan kelompoknya. Bagi  mereka standar kebahagiaan adalah materi dunia.


Selain itu, Pemilu dalam politik demokrasi berbiaya mahal. Sudah menjadi rahasia umum jika para calon merogoh kocek yang fantastis untuk bisa maju. Misalnya, disampaikan oleh LPM FE UI, modal yang harus dikeluarkan untuk caleg DPR RI berkisar Rp1,15 miliar—Rp4,6 miliar. Ketua PKB Cak Imin juga mengatakan, butuh Rp40 miliar untuk menjadi caleg RI dari DKI Jakarta. Fahri Hamzah mengatakan butuh dana setidaknya Rp5 miliar untuk menjadi capres.


Jika para calon harus menguras harta bendanya untuk bisa mencalonkan diri. Banyak diantara mereka yang mengambil jalan dengan berutang, menjual aset yang dimiliki, mencari sponsor dan lain-lain. Alhasil, jika gagal, mereka akan kehilangan harta benda dan harus mengembalikan semua utangnya. Inilah yang menjadikan mereka akhirnya kena mental ketika gagal.


Wajar pula ketika menjadi pemenang mereka akan berpikir supaya biaya yang sudah dikeluarkan bisa kembali dan bisa mendapatkan kekayaan sebanyak-banyaknya, karena memang itu asas dari sekularisme yang hari ini menjadi mindset mereka. Sehingga merupakan ilusi jika demokrasi dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat, dan juga mustahil akan terwujud kesejahteraan rakyat.


Pada hakekatnya demokrasi hanya alat legitimasi untuk mengokohkan kekuasaan para oligarki (kapitalis, pemilik modal). Rakyat hanya dijadikan tumbal-tumbal demokrasi, dijejali madu yang sejatinya adalah racun. Rakyat dibodohi seakan-akan merekalah yang memilih penguasa (pemimpin) padahal sejatinya pengusaha (kapitalis)-lah yang punya kuasa.Bukankah sudah banyak bukti bahwa suara bisa dibeli, suara bisa dicurangi, suara bisa dimanipulasi. Sementara para calon tidak bisa berbuat apa-apa, maka wajar mengalami stress, depresi, ganguan jiwa Bahkan bunuh diri.


Kondisi  ini berbeda sekali dengan sistem Islam. Kekuasaan dan jabatan dalam pandangan Islam adalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah Taala. Oleh karenanya, siapa saja yang ingin mencalonkan dirinya memegang jabatan, ia harus benar-benar yakin dirinya akan bisa amanah dalam menjalankannya. Ini karena bagi pemimpin yang tidak amanah, balasannya adalah neraka, sehingga jabatan negara harus dijalan oleh orang yang paham agama agar  sesuai dengan Syariat Allah.


Walhasil, orang-orang yang mencalonkan memegang jabatan dalam sistem Islam (Khilafah) adalah mereka yang taat pada aturan Allah Taala  dan tujuannya hanya mencari rida-Nya. Jika ia kalah, tidak akan berpengaruh terhadap mentalnya.  Selain itu pelaksanaan kontestasi dalam sistem politik Islam juga sederhana, tidak membutuhkan biaya tinggi. Sehingga kalaupun kalah tidak menjadi beban.

Post a Comment

Previous Post Next Post