HOBI IMPOR BERAS, KEDAULATAN PANGAN KIAN KANDAS


Oleh : Dini A. Supriyatin


Sampai saat ini pemerintah Indonesia masih terus hobi melakukan impor beras. Presiden Joko Widodo mengungkapkan Indonesia membutuhkan impor beras karena sulit untuk mencapai swasembada pangan. Hal itu dikarenakan jumlah penduduk Indonesia yang terus bertambah. Setiap tahunnya ada sekitar 4 - 4,5 juta bayi yang baru lahir. Sehingga kebutuhan pangan seperti beras akan bertambah setiap tahunnya. 


Menurut Badan Pusat Statistik ( BPS ), Indonesia telah melakukan impor beras sebanyak 3,06 juta ton pada tahun 2023. Ini merupakan angka impor tertinggi dalam kurun waktu 5 tahun terakhir. 


Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini mengatakan bahwa angka impor tersebut mengalami peningkatan 613,61% dibanding 2022 lalu.


Jika kita telisik lebih dalam, persoalan ini bukan terjadi karena bertambahnya jumlah penduduk. Tetapi karena langkah yang ditempuh pemerintah bukanlah langkah yang solutif dan antisipatif. 


Indonesia disebut negara agraris dimana sebagian warga negaranya menggantungkan hidup dari sektor pertanian. Ini juga yang menyebabkan sektor pertanian menjadi hal paling penting dalam menunjang kebutuhan pangan. Tapi dibalik sebutan itu ternyata tidak menjadikan Indonesia sebagai negara yang mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangan. Sebaliknya malah sebagian besar pemenuhan kebutuhan pangan tersebut adalah hasil impor. Salah  satunya beras. Beras yang menjadi makanan pokok mayoritas penduduk Indonesia sebagian besar adalah hasil impor.


Kebijakan impor beras dengan dalih agar mampu menekan harga beras yang terus melambung tinggi serta untuk memenuhi stok beras nasional. Tetapi faktanya harga beras tidak turun sedikitpun. Ironisnya kebijakan impor beras ini membuat harga gabah para petani semakin anjlok. Sementara itu biaya produksi semakin mahal dan tidak sebanding dengan harga jual gabah. Para petanipun lebih banyak merugi dari pada untung. Justru para importir dan oknum yang bermain didalamnya lah yang mendapatkan untung besar. 


Dikarenakan adanya permainan pasar yang mengakibatkan para petani terus menerus merugi, akhirnya para petani pun enggan menjadi petani dan lebih memilih menjual lahan pertaniannya kepada para kapitalis.


Selain itu alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan industri, perumahan, pertokoan, jalan tol dan lain - lain mengakibatkan semakin menyempitnya lahan pertanian yang tersedia. Sehingga hasil produksi pertanian semakin berkurang.


Seharusnya sebagai negara agraris Indonesia mampu mewujudkan ketahanan dan kedaulatan pangan. Tetapi langkah pemerintah yang mengambil solusi pragmatis akhirnya tidak menuntaskan akar permasalahan dan hanya memberikan keuntungan pada segelintir orang. Padahal sudah menjadi kewajiban bagi negara untuk memenuhi kebutuhan hidup warganya, apalagi dalam hal kebutuhan makanan. Begitu juga para petani yang mendapat julukan pilar utama ketahanan pangan nasional. Keberadaannya haruslah diperhitungkan agar nasibnya tidak terpuruk lagi. 


Berbeda halnya dalam islam. Islam menjadikan negara sebagai pihak yang paling bertanggung jawab untuk menyediakan kebutuhan dasar bagi warga negaranya termasuk dalam hal pangan. Oleh karena itu negara akan memikirkan dengan keras bagaimana caranya  agar negara mampu memenuhi kebutuhan pokok warganya dan mewujudkan kedaulatan pangan. 


Negara akan membatasi alih fungsi lahan dan juga membuka lahan baru agar bisa digunakan untuk mengoptimalkan lahan pertanian. Kemudian memberikan bantuan berupa subsidi benih dengan kwalitas tinggi, pupuk dan pengadaan alat - alat berteknologi mutakhir guna mendukung pengelolaan pertanian agar hasilnya maksimal.


Bila diperlukan, para petani akan diberikan pembinaan serta pelatihan oleh para ahli agar dapat menghasilkan produk pertanian yang lebih unggul. 


Dengan begitu stok pangan dalam negeri akan terpenuhi. Kedaulatan pangan juga akan terjaga. Sehingga negara tidak perlu mengadakan impor. Kalaupun masih butuh untuk impor, itupun dilakukan hanya dalam jangka pendek dan dalam kondisi yang benar - benar genting.


Selain itu negara akan mengatur serta mengawasi jalannya proses distribusi pangan. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya kecurangan yang dapat menimbulkan tingginya harga ketika sampai kepada penjual. Sehingga nantinya masyarakat akan memperoleh harga yang murah. 


Demikianlah islam memberikan solusi yang mampu menuntaskan setiap permasalahan hingga ke akarnya. Harapan untuk mewujudkan kedaulatan pangan akan terealisasi apabila daulah khilafah tegak di muka bumi. 

Wallahu alam bi showab

Post a Comment

Previous Post Next Post