Hentikan Bully Hanya dengan Islam!

 


Oleh: Risma Choerunnisa, S.Pd.


Bullying dianggap salah satu dosa besar pendidikan.  Nyatanya hingga saat ini belum berhenti meski sudah dibentuk satgas di berbagai satuan pendidikan. Seperti belum lama ini Kasat Reskrim Polrestabes Medan akhirnya menangkap pelaku bully dan penganiayaan terhadap siswa MAN 1 Medan. Selain itu, kasus dugaan perundungan atau bullying siswa kelas 3 SD oleh teman sekolahnya di salah satu SD swasta di Sukabumi, yang menyebabkan korban patah tangan, telah dilaporkan pihak keluarga korban ke Polres Sukabumi Kota pada Senin (16/11/2023).  Sementara itu, di Jakarta, 12 siswa kelas X SMAN 26 Jakarta menjadi korban bully oleh kakak kelas. Kondisi siswa-siswa tersebut sangat memprihatinkan setelah dianiaya secara brutal oleh kelas XI dan XII. Kasus-kasus di atas hanya sebagian kecil dari banyaknya kasus pembullyan yang masuk ke media.

Jika ditelisik, maraknya kasus pembullyan ini menunjukkan adanya kesalahan cara pandang kehidupan dan akar masalah persoalan. Saat ini, disadari atau tidak, banyak nilai-nilai yang menjadi aturan tak tertulis masyarakat dalam bertingkah laku. Padahal aturan itu lahir dari paham sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Hal ini diperparah dengan diembannya paham sekulerisme ini oleh negara, bukan hanya oleh individu.

Selain masalah arah pandang, pembullyan juga ditumbuh kembangkan oleh buruknya sistem pendidikan sehingga lahir generasi yang buruk pula perilakunya. Lihat saja, sistem pendidikan sekarang yang sangat dijauhkan dari agama. Seperti pelajaran agama yang jamnya terus disunat, seragam muslimah yang terus dipermasalahkan, belum lagi rohis yang dianggap sebagai bibit terorisme. Hal ini menghasilkan pelajar yang makin jauh dari agama. Mereka hanya ditargetkan untuk pintar dalam bidang akademik agar bisa mendapat pekerjaan yang bagus dengan upah melimpah. Namun mereka melupakan aspek ketakwaannya.

Demikian juga buruknya lingkungan sekitarnya. Karena karakter masyarakat saat ini yang sangat individualis, hal itu mengikis kepedulian antar sesama. Masyarakat seakan tak acuh terhadap kriminalitas atau perbuatan yang mengarah ke pembullyan asalkan itu bukan anak mereka sendiri. Kadang, pembullyan secara verbal dianggap wajar dan normal nakalnya anak-anak.

Untuk mengatasi masalah pembullyan ini, Islam memiliki sistem pendidikan terbaik, berasas akidah Islam, yang meyakini adanya hari pembalasan.  Keyakinan ini bisa mencegah adanya kejahatan karena keyakinannya pada pertanggungjawaban kelak. Islam telah menetapkan bahwa kewajiban untuk menyelamatkan anak dari segala bentuk kezaliman bukan hanya ada di tangan keluarga dan lingkungan, tapi juga negara memiliki andil.

Memang benar bahwa kewajiban pengasuhan anak kepada ibu hingga anak tamyiz, juga kewajiban pendidikannya di tangan ayah dan ibunya. Namun hal  itu tidak cukup dan harus didukung oleh lingkungan masyarakat yang baik karena aka menentukan corak anak. Tidak kalah penting adalah adanya peran negara yang menerapkan aturan Islam secara utuh dalam rangka mengatur semua urusan umat, termasuk penjamin keamanan dan kesejahteraan dengan adil dan menyeluruh.

Maka dari itu, dalam Islam negara menjadi satu-satunya institusi yang dapat melindungi dan mengatasi permasalahan anak, termasuk masalah pembullyan. Ini semua akan terjadi jika menerapkan aturan Islam secara menyeluruh dalam institusi negara.

Wallahu’alam bishowab..

Post a Comment

Previous Post Next Post