Ekonomi Surut, Naluri Ibu Tercerabut


Oleh Tutik Haryanti

Aktivis Muslimah


Perekonomian yang mapan merupakan salah satu penopang sejahteranya sebuah keluarga. Ketika ekonomi keluarga terjamin, maka kehidupan keluarga akan berjalan dengan baik. Tugas dan kewajiban masing-masing anggota keluarga dapat tertunaikan dengan sempurna. Namun sebaliknya, bila perekonomian keluarga carut marut, hal ini dapat berakibat pada rusaknya keluarga tersebut. Rasa kasih sayang di dalam keluarga kian terpinggirkan. Bahkan akal sehat pun dapat sirna seketika. 


Sebagaimana yang terjadi pada seorang ibu berinisial R (38) di Membalong, Belitung. Tega membunuh darah dagingnya sendiri di kamar mandi. Kemudian bayi tersebut dikubur di kebun milik tetangga, yang tidak jauh dari rumahnya. Setelah ditelusuri, ibu R mengaku berbuat demikian dikarenakan ketiadaan dana untuk membiayai dan membesarkan anaknya. Mirisnya, sang suami tidak mengetahui kehamilan istrinya tersebut. Sebab, sang istri sendiri juga tidak pernah menceritakan kepada suaminya bahwa dirinya sedang mengandung. (Tribunnews.com, 23/01/2024)


Demikian kejamnya hati seorang ibu, dimana naluri keibuannya hingga nekat mengakhiri hidup darah dagingnya sendiri? Bagaimana juga suami tidak tanggap terhadap istrinya yang sedang hamil, tidak adakah komunikasi yang baik dalam keluarga?  Lantas, dari peristiwa tersebut siapa sesungguhnya yang harus bertanggung jawab?



Ekonomi Sulit Biang Kejahatan


Bila mendengar keterangan ibu R, peristiwa ini terjadi karena sulitnya perekonomian yang mendera keluarganya. Hingga dia merasa tak sanggup lagi, menanggung beban biaya untuk membesarkan bayi yang dilahirkannya. Peristiwa semacam ini bukan hanya dijumpai pada satu atau dua keluarga saja. Namun, kondisi ini hampir merata dirasakan oleh sebagian besar keluarga.


Ketika hal ini dibiarkan tanpa ada penanganan yang serius, maka meniscayakan pada titik rawan yang sangat berbahaya. Pasalnya, perekonomian yang sangat sulit telah melatarbelakangi terjadinya tindak kejahatan. Bagaimana tIdak, biaya hidup yang sangat tinggi, tidak didukung dengan kemudahan dalam pemenuhan kebutuhan. Jelas, ini berpengaruh terhadap pola pikir dan perilaku masyarakat yang sudah sangat kebingungan. Maka dengan situasi dan kondisi sulit ini, menimbulkan dampak yang sangat buruk di tengah masyarakat. Diantaranya, timbul stres, depresi hingga terjadi kriminalitas (pembunuhan). Baik menghilangkan nyawa sendiri alias bunuh diri atau menghilangkan nyawa orang lain. 



Akibat Penerapan Kapitalisme


Sulitnya perekonomian keluarga tak luput dari sulitnya lapangan kerja bagi laki-laki atau suami saat ini. Terbatasnya ketersediaan lapangan  kerja, mengharuskan para suami putar otak. Bagaimana cara untuk dapat memenuhi kebutuhan keluarga. Segala cara mereka lakukan, terkadang tanpa menghiraukan halal atau haram. Yang terpenting dapat mendatangkan penghasilan. 


Peran perempuan atau ibu yang seharusnya mengurus dan mengatur rumah tangga, akhirnya tergadaikan. Ibu harus rela turun tangan untuk membantu suami sebagai pencari nafkah. Sehingga tugas dan peran ibu yang utama dalam mendidik anak terkalahkan. Anak menjadi liar karena lepas pengawasan. Ibu juga mudah terjangkit emosi dan stres, bahkan kalap sehingga tega membunuh anaknya sendiri, seperti yang dialami ibu R. Sebab, tak kuat lagi menahan beratnya hidup dan tak ingin menambah beban suaminya. 


Sejatinya, ini semua akibat diterapkannya sistem kapitalisme di negeri ini. Negara berlepas diri dari tanggung jawabnya dalam mengurus rakyat. Penguasa negeri lebih mengutamakan kepentingan pengusaha  yang mendatangkan manfaat bagi mereka. Rakyat seolah menjadi beban negara. Sehingga setengah hati dalam melayani dan memberikan fasilitas secara penuh bagi rakyat. Padahal Rasulullah saw. telah bersabda:


"Pemimpin adalah pengurus rakyatnya, dan bertanggung jawab atas yang dipimpinnya." (HR Muslim) 


Ketersediaan lapangan kerja bagi rakyat sangatlah minim. Penyediaan lapangan kerja yang menjadi tugas negara, diserahkan kepada pengusaha untuk menentukan kebijakan sendiri. Negara memberikan peluang kepada pengusaha dengan lahirnya regulasi yang menguntungkan dan melindungi mereka, dan justru menindas rakyat. Negara juga mengabaikan dalam memberikan pelayanan fasilitas umum dan terjaminnya kebutuhan dasar yang menjadi hak rakyat. Oleh karenanya, akibat kapitalisme banyak rakyat yang hidup di bawah garis kemiskinan.



Sekularisme Menghilangkan Hati Nurani


Kemiskinan juga sangat berpengaruh terhadap pemikiran dan perilaku masyarakat. Ditambah pula minimnya akidah membuat masyarakat jauh dari Sang Pencipta. Segala perbuatan yang dilakukan tidak disesuaikan dengan hukum dan aturan Allah Swt. Ini akibat asas sekuler yang dilahirkan oleh kapitalisme yang telah menjauhkan agama dari kehidupan.


Sekularisme telah menghilangkan akal sehat, sehingga membuat naluri seorang ibu pun tercerabut dari dirinya. Perbuatan yang dilakukan tidak lagi berlandaskan hukum syarak, tetapi lebih pada memperturutkan hawa nafsu. Tanpa memandang bahwa kelak ada pertanggung jawaban di hadapan Allah Swt. atas semua tindakannya. 



Islam Mengembalikan Naluri Ibu


Islam adalah agama yang sempurna. Datang dari Sang Maha Sempurna yang memberikan pedoman dan petunjuk bagi hambanya dalam menjalankan kehidupan. Bukan mengatur dalam hal ibadah saja, seperti shalat, puasa dan zakat. Namun, Islam mengatur dalam segala perbuatan baik hubungannya dengan Sang Pencipta, dengan dirinya sendiri dan juga dengan sesama manusia. Termasuk dalam mengatur naluri seorang ibu.


Setiap individu akan selalu diuji dengan kadar ujian masing-masing. Sebagaimana firman Allah Swt. dalam surat Al- Baqarah ayat 155-157 yang berbunyi:


"Dan akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mengucapkan "innalilahi wa innailaihi rajiun". Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk."


Kita dituntut bersabar dan rida atas ketetapan-Nya. Jadi, apabila mendapat ujian sulitnya ekonomi lantas bukan berarti diperbolehkan menghilangkan nyawa diri sendiri ataupun orang lain, apalagi darah daging sendiri, hanya ingin terlepas dari beratnya beban hidup. Sebab semua makhluk yang diciptakan Allah telah dijamin rezekinya masing-masing. Sehingga kita tidak perlu khawatir akan nasib masa depan nanti. 


Islam juga mengajarkan agar naluri ibu tetap terjaga. Pertama, terciptanya komunikasi yang baik dan saling menjaga kasih sayang di dalam keluarga. Harus saling terbuka agar dapat mengerti dan memahami segala masalah yang dihadapi. Saling mensuport dan membantu satu sama lain. Penanaman akidah yang kuat dalam keluarga sangatlah penting. Sehingga memiliki keyakinan sepenuhnya, bahwa di setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Selalu menjaga ketaatan serta menjalankan syariat Allah Swt. agar terhindar dari perbuatan maksiat.


Kedua, adanya masyarakat Islami, yang saling peduli terhadap lingkungan di sekitarnya. Sehingga apabila ada tetangga yang kesulitan, maka mereka cepat-cepat memberikan bantuan. Terciptanya amar makruf nahi mungkar di tengah masyarakat. Tidak individualisme seperti yang terjadi di sistem kapitalisme sekuler hari ini. 


Ketiga, peran negara dalam menjamin kebutuhan rakyatnya, melalui pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) secara maksimal. Negara Islam akan memberikan jaminan secara merata baik muslim maupun non muslim. Terutama kebutuhan dasar rakyat yakni, pangan, sandang dan papan. Membuka lapangan kerja seluas-luasnya diperuntukkan bagi para suami agar dengan mudah memberikan nafkah bagi keluarganya. Bila ada suami yang sudah meninggal atau cacat sehingga tidak mampu lagi memberikan nafkah, maka tugas tersebut akan diambil alih oleh ayahnya, kakeknya, saudara laki-lakinya, pamannya. Ketika mereka tak mampu, maka akan ditanggung oleh negara. Negara Islam juga memberikan fasilitas secara murah bahkan gratis untuk pendidikan, kesehatan dan fasilitas umum lainnya. Negara juga akan mengawasi agar rakyat dapat menjalankan syariat-Nya.


Khatimah


Dengan demikian kesejahteraan akan dirasakan oleh seluruh rakyat. Seorang ibu juga dapat menjalankan perannya sebagaimana mestinya. Dengan perasaan tenang, aman dan nyaman. Sehingga tidak perlu merasa khawatir lagi akan nasib dirinya, anak dan keluarganya. Sebab, semua elemen dapat berfungsi dengan baik, dengan diterapkannya Islam secara kafah oleh negara.

Wallahualam bissawab.

Post a Comment

Previous Post Next Post