Deforestasi Menghantui Indonesia


Oleh Intan A.L

Ibu Rumah Tangga


Hijau rumahku hijau bumiku 

Kami keluarga dan anak cinta lingkungan selalu berusaha lindungi bumi kita 

Hemat menggunakan sumber daya alam 

Agar terhindarkan dari kehancuran

(Lagu anak AT. Mahmud)


Penggalan lagu anak di atas menerangkan pada anak-anak akan pentingnya melindungi bumi guna menghindari bencana alam akibat keserakahan manusia. Makna sederhana yang secara positif mengajak anak untuk mencintai lingkungan. Sayangnya, negeri hijau ini kini sudah banyak berubah. Menurut data Badan Informasi Geospasial (BIG), selama 5 tahun yakni 2018-2022, luas hutan Indonesia telah berkurang 1,33 juta ha. Hutan yang hilang lebih banyak terjadi di pulau Kalimantan. Menurut BPS (Badan Pusat Statistik) banyak faktor yang membuat luas hutan berkurang namun BPS sendiri tidak merinci faktor apa yang paling dominan dari semua sebab yang ada.


Hutan adalah salah satu aset sumber daya alam yang luar biasa. Kualitas udara pun dipengaruhi oleh keberadaan hutan. Maka, menjaga kelestarian hutan haruslah menjadi masalah serius yang diperhatikan banyak pihak. Sayangnya, penerapan aturan yang lebih mementingkan keuntungan semata menggeser prioritas dalam melestarikan lingkungan. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), merilis data bahwa hutan tropis di Indonesia terus berkurang dari tahun ke tahun (kompas.com, 27/05/22). 


Lahan-lahan hutan dibuka, baik untuk Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan, untuk keperluan tambang, non-tambang semisal lahan jalan umum, jalan tol, jaringan telekomunikasi, jaringan listrik, migas, dan geothermal, maupun peruntukan Pelepasan Kawasan Hutan, izin perubahan peruntukkan kawasan hutan produksi yang dikonversi menjadi bukan kawasan hutan, seperti untuk perkebunan kelapa sawit. Bahkan,  selama tahun 2014-2018, luas perkebunan kelapa sawit mengalami peningkatan pertumbuhan sebesar 7,89 persen (kompas.com, 27/05/22).

Timpangnya keberpihakan kepada mereka yang mencari keuntungan dibanding menjaga kelestarian lingkungan tidak lepas dari penerapan aturan kapitalis sekuler. Kehendak yang hanya ingin meraup keuntungan tanpa  mempertimbangkan dengan teliti dampak yang akan terjadi pada berkurangnya lahan hutan sesuai dengan karakter kapitalis yang hanya mau untung sendiri. Maka, tak heran kesenjangan kelestarian lingkungan akan terus terjadi. Sebab, bebasnya hak kepemilikan lahan bagi individu atau kelompok tertentu adalah akar masalah yang harusnya dibenahi. Selama kapitalisasi berbagai objek terus dilakukan, masalah deforestasi tak akan pernah tuntas diatasi.


Fakta ini ada di dalam  sistem hidup kapitalisme yang membawa kerusakan tidak hanya bagi manusia tapi juga alam dan lingkungannya. Asas manfaat yang menyandarkan pada kepentingan materi adalah hal utama sehingga menjaga kelestarian lingkungan yang tidak menguntungkan bukanlah prioritas mereka. Pandangan seperti ini sangat bertentangan dengan Islam yang menganggap menjaga kelestarian lingkungan sebagai masalah penting yang perlu diperhatikan dengan sungguh-sungguh. Allah Swt. berfirman yang artinya, “Apabila berpaling (dari engkau atau berkuasa), dia berusaha untuk berbuat kerusakan di bumi serta merusak tanam-tanaman dan ternak. Allah tidak menyukai kerusakan.” (TQS. Al-Baqarah:205). Ayat ini menunjukkan larangan untuk melakukan kerusakan pada alam termasuk pada tumbuhan dan pepohonan. Begitu pula sabda Rasulullah saw yang menunjukkan nada yag sama tentang menjaga kelestarian lingkungan dan melakukan perbaikan, “Tidaklah seorang muslimpun yang menanam satu tanaman kemudian burung atau manusia juga hewan makan dari tanaman tersebut melainkan itu menjadi shadaqah baginya.” (HR. Bukhari).


Islam sangat memperhatikan masalah kelestarian lingkungan. Sebab asas aqidah yang menjadi arah pandang dalam menjalankan aturan mengharuskan penguasa menjaga amanah sebagai pemimpin yang tidak hanya memperhatikan kesejahteraan masyarakat tapi juga alam dan sekitarnya. Dorongan iman dan tanggungjawab sebagai penguasa di hadapan Allah Swt. adalah modal utama mereka untuk tegas dalam memperhatikan masalah pemanfaatan lahan. Terlebih, Islam mengatur kepemilikan lahan sebagai milik umum sehingga pemanfatannya pun diperuntukkan bagi kesejahteraan umum di bawah pengawasan negara. Sehingga praktek eksploitasi lahan demi kepentingan individu atau kelompok akan dilarang keras dalam Islam. Sehingga masalah deforestasi akan teratasi secara berkala dalam penerapan syariah yang komprehensif dan menyeluruh. Oleh sebab itu, meninggalkan sistem kapitalisme yang kini diterapkan merupakan suatu keharusan. Tidak ada jalan lain selain kembali kepada Islam secara sempurna dalam naungan pemerintahan yang sesuai hukum Allah agar masalah deforestasi dapat dituntaskan secara total.


Wallahu a'lam bishshawwab

Post a Comment

Previous Post Next Post