Beban Hidup Makin Pahit, Fitrah Ibu Makin Terimpit




Oleh Rufayda Islamia

Penulis & Aktivis


"Kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa." Lirik lagu yang sering terdengar saat kita kecil. Ibu adalah mentari dan pelindung bagi seorang anak yang baru saja dilahirkan ke dunia. Siti Hawa yang Allah amanahkan bertugas untuk mendidik generasi-generasi yang akan menjadi tonggak peradaban mulia. Di Al-Qur’an seorang perempuan dikatakan sebagai ummu wa’rabbatul bayt yang artinya ibu dan pengatur rumah tangga.


Namun hari ini, seakan-akan fakta tidak sesuai dengan fitrah utamanya. Ibu bukan lagi tameng utama untuk melindungi anak-anaknya. Peran ibu mulai bergeser sangat jauh, tidak semestinya. Bahkan kondisi hari ini menjadikan seorang ibu bisa melakukan hal-hal yang di luar akal manusia.


Seperti yang dikutip dari Tribunnews.com (23/01/2024) – "Insiden tragis di desa Membalong, Kabupaten Belitung, di mana seorang ibu rumah tangga berusia 38 tahun diduga membunuh dan membuang bayi yang lahir secara normal di kamar mandi. Kejadian itu terjadi pada Kamis, 18 Januari 2024, sekitar pukul 21.00 WIB. 


Motif dari tindakan mengerikan ini diduga terkait dengan faktor ekonomi, di mana ibu tiga anak tersebut merasa terdesak secara finansial. Lalu ketika proses melahirkan, pelaku melakukan di kamar mandi rumahnya tanpa diketahui siapa pun. 


Pelaku sendiri menyiapkan baskom berisikan air sebagai wadah saat bayinya keluar dari kandungan. Namun, perbuatan tersebut membuat bayinya meninggal dunia karena tidak bisa bernapas. Hingga pelaku membuang jenazah anaknya di pondok kebun warga yang berjarak sekitar tiga meter.”


Kejadian di atas hanyalah satu contoh dari berbagai fakta negatif tentang bergesernya fitrah seorang ibu. Hampir setiap waktu terjadi kejadian yang hampir sama, tetapi tidak pernah berujung dan tanpa solusi nyata.


Lalu, apa yang dapat membantu ibu mengoptimalkan fitrahnya sebagai pengatur rumah tangga?


Kesenangan duniawi dari materi sebagai tolok ukur kapitalisme menjadikan manusia jauh dari aturan agama. Materi yang tak terukur batas cukupnya, semakin terasa ketika beban kebutuhan hidup keluarga semakin terasa pahit. Kapitalisme menjadi pangkal dari terimpitnya fitrah keibuan sehingga dirinya jauh dari agama.


Gaya hidup hedonis yang menjadi ciri dari sistem kapitalisme juga menjadi salah satu penyebab mengakarnya persaingan ekonomi secara licik. Seseorang terbiasa hidup dalam sistem yang sekuler, tidak dididik untuk berkehidupan sederhana, menerima apa yang menjadi takdirnya, juga tidak disiapkan mentalnya untuk kemungkinan terburuk menghadapi berbagai ujian hidup yang ada, salah satunya faktor ekonomi.

 

Persaingan yang dipertontonkan, membuat seseorang semakin buta akan harta. Mereka mungkin tidak percaya bahwa rezeki insyaallah cukup untuk hidup, tetapi tidak akan pernah cukup untuk gaya hidup. 


Ketika hati gersang jauh dari agama ia tidak terkontrol kehidupannya, menjadikan seseorang melakukan hal buruk sebagai solusi atas permasalahan yang ada, sehingga tidak bisa membedakan mana hak dan juga batil.


Tentu ada banyak faktor lain yang berpengaruh. Lemahnya ketahanan iman, tidak berfungsinya keluarga, sehingga ibu juga terbebani pemenuhan ekonomi, lemahnya kepedulian masyarakat dan tidak adanya jaminan kesejahteraan negara atas rakyat per individu. Semua berkaitan erat dengan sistem yang diterapkan negara. Negara seharusnya dapat meriayah masyarakatnya agar memosisikan diri sesuai dengan fitrah.


Islam Punya Solusi


Islam memosisikan seorang ibu dalam tingkat yang mulia di hadapan Allah. Baik buruknya sebuah keluarga biasanya tercermin dari seorang ibu. Keutamaan seorang ibu tidak bisa dibandingkan dengan tingkat pendidikan maupun karier setinggi apa pun. 


Melalui rahim seorang ibu, generasi terbaik umat ini lahir yang namanya akan terkenang dalam tinta emas peradaban. “Al Ummu Madrasatul Ula, Iza A’dadtaha A’dadta Sya’ban Khoirul Irq”, yang berarti ibu adalah sekolah utama, bila engkau mempersiapkannya maka engkau mempersiapkan generasi terbaik.


Inilah yang menjadi tugas negara sebagai pelindung masyarakat. Jika fitrah ibu dibina secara optimal maka generasi akan benar. Kasih sayang seorang ibu terbentuk dari gharizah nau atau naluri berkasih sayang seharusnya dioptimalkan sesuai fitrahnya melalui penjagaan akidah dan kuatnya iman. 


Naluri akan bangkit ketika mendapat jaminan kehidupan yang baik dari luar, hal ini tidak bisa dilakukan oleh individu saja, tetapi negara juga harus menjadi support sistem bagi ibu dan anak.


Islam mewajibkan negara menjamin kesejahteraan ibu dan anak melalui berbagai mekanisme, baik jalur nafkah, dukungan masyarakat, dan santunan negara. 


Dalam Islam, seorang suami ditentukan tanggung jawab di pundaknya yaitu sebagai pencari nafkah untuk keluarga. Negara berkewajiban memastikan ketersediaan lapangan pekerjaan bagi laki-laki, memberikan pelatihan-pelatihan secara gratis untuk meningkatkan skill terutama seorang kepala keluarga. 


Ketika suami meninggal dunia, Islam pun telah mengatur jalur penafkahan. Sehingga fitrah ibu untuk di rumah terjaga sebagaimana semestinya, tidak akan semakin terimpit karena beban hidup yang semakin pahit.


Dalam kehidupan bermasyarakat, materi bukanlah tolok ukur dalam sebuah kebahagiaan. Kehidupan masyarakat dilandasi ikatan akidah, berlomba-lomba dalam kebaikan, dan tidak saling memamerkan harta kekayaan.


Islam memiliki sistem ekonomi dan politik yang mampu mewujudkan kesejahteraan individu per individu yang meniscahyakan ketersediaan dana untuk mewujudkannya. Negara harus mampu menyediakan harga bahan pangan terjangkau, gizi yang layak, pendidikan, kesehatan dan keamanan bagi seluruh masyarakat. 


Semua ini tentu dengan pengaturan kas negara yang baik dengan mengoptimalkan kekayaan alam hanya diatur oleh negara bukan swasta. Dengan pengaturan kehidupan bernegara yang baik, ibu dapat fokus mendidikan anak-anak mereka di rumah sesuai fitrah.


Wallahualam bissawab.

Post a Comment

Previous Post Next Post