Tak Perlu Berlomba Untuk Setara, Karena Allah Hanya Melihat Taqwa


Elis Sulistiyani

Komunitas Muslimah Perindu Surga 


Perempuan semakin berdaya dengan meningkatnya Indeks Pembangunan Gender, pernyataan ini disampaikan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA). (Antara newscom, 6/1/2023). Sehingga saat ini pun, kita banyak menyaksikan banyak kaum hawa yang banyak berjibaku di ranah publik, entah di dunia politik, ekonomi dan lainnya.


Kesetaraan gender sendiri  masih menjadi trust issue yang berkembang di masyarakat. Kacamata Kapitalisme memandang bahwa perempuan harus banyak terjun ke ranah publik dan harus mampu mandiri secara finansial supaya mereka tidak menjadi kaum kelas dua yang bisa direndahkan laki-laki. Mengingat banyak sekali kasus kekerasan dalam rumah tangga, ataupun perselingkuhan yang merugikan kaum hawa. 


Namun seiring dengan peningkatan indeks pembangunan gender ini, tingkat permasalahan yang menimpa perempuan juga tidak serta Merta menjadi turun. Yang terjadi justru sebaliknya, tingkat pelecahan yang dialami perempuan semakin tinggi dialami di ranah publik. Pun tingkat perceraian juga meningkat karena perempuan tak lagi ada pada posisi fitrahnya sebagai Ummu wa rabbatul Bayt. Karena memang kesetaraan gender bukanlah solusi untuk menghilangkan kekerasan pada perempuan.


Permasalahan yang timbul di kalangan kaum hawa justru muncul karena kesalahan cara pandang terhadap wanita. Dalam sudut pandang kapitalisme wanita dikatakan terhormat apabila dia mampu setara dengan laki-laki, punya penghasilan sendiri, dan mampu terjun ke ranah publik. Padahal kesalahan sudut pandang ini adalah salah satu sumber dari kesalahan dalam mendudukkan posisi perempuan.


Jika kita lihat dengan sudut pandang yang khas dari Islam,  dapat kita lihat bahwa Islam memandang perempuan sebagai ibu peradaban. Karena dari rahimnya akan lahir generasi penerus peradaban. Dari tangannya pula akan dibentuk generasi-generasi cemerlang, karena dialah sekolah pertama dan utama bagi anak-anaknya.


Saat posisi seorang perempuan masih dalam pengasuhan orang tuanya maka dia akan di perlakukan dan dijaga dengan baik, sebagaimana sabda Rasulullah Saw: “Bertindak baiklah terhadap perempuan” (HR. Ibn Majah).


Bahkan mereka yang dikaruniai anak perempuan akan masuk surga: “Barangsiapa memiliki tiga orang anak perempuan, lalu dia bersabar dalam menghadapinya serta memberikan pakaian kepadanya dari hasil usahanya, maka anak-anak itu akan menjadi dinding pemisah baginya dari siksa Neraka.” (HR: Al-Bukhari)


Pun pada saat perempuan menjadi seorang istri Islam berikan aturan kepada para suami untuk berbuat baik pada istrinya:  “Yang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik kepada istri-istri mereka.”  (HR At-Tirmidzi)


Sungguh indahnya Islam hadirkan aturan bagi perempuan sejak dia dalam masa pengasuhan dan masa menjadi istri, dia diberikan jaminan penjagaan dan perlindungan terbaik yang ditetapkan Syara'. 


Fitrah seorang perempuan adalah sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Untuk menjalankan fitrah ini maka tidak boleh ada isu kesetaraan gender yang justru akan merusak fitrahnya. Dibutuhkan individu perempuan yang sadar akan fitrahnya,  dia menyadari bahwa pada dirinya akan dibentuk generasi Islam yang akan melanjutkan estafet peradaban Islam.


Selain itu tak kalah penting perlu peran suami, keluarga dan juga masyarakat yang mendukung fitrah ini. Suami senatias memperlakukan istri dengan baik, tak ada sumpah serapah jikala marah, namun yang mestinya dilakukan adalah saling memberi hadiah.

Suami memberikan nafkah bagi anak istrinya semaksimal kemampuannya, sehingga istri tak perlu untuk ikut bekerja mencari nafkah. Tak kalah penting adalah peran negara dalam menjaga fitrah perempuan, salah satunya dengan memudahkan kaum ayah mencari nafkah dengan membuka lapangan pekerjaan yang banyak baginya. Selain itu negara juga memudahkan rakyat untuk mengakses kebutuhan dasarnya seperti sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan juga keamanan.


Jika memang perempuan ingin bekerja maka hukumnya mubah selama tidak meninggalkan kewajibannya sebagai istri dan ibu. Pun perempuan juga diberikan hak politik dengan ikut andil dalam majelis umat juga berhak untuk ikut memilih pemimpinnya.

Demikianlah cara Islam memandang dan menghormati perempuan. Laki-laki dan perempuan memiliki bagian pahalanya masing-masing sehingga tak perlu di samakan apalagi diperlombakan untuk diakui eksistensinya oleh pandangan manusia. Karena sejatinya Allah hanya melihat ketaqwaan dari setiap hamba-Nya.

Post a Comment

Previous Post Next Post