Suara Rakyat Demi Kepentingan Siapa?



Oleh Reni Juariah

Ibu Rumah Tangga dan Aktivis Muslimah


Di kabupaten Bandung Barat, Selasa 26 Desember 2023. Terkabarkan Ketua Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilihan, Partisipasi Masyarakat  KPU Provinsi Jawa Barat mengabarkan sekitar 32 ribu lebih orang dengan gangguan jiwa akan memberikan suaranya pada pemilu 2024.  Walaupun dengan data pasien terawat disebuah rumah sakit berdasarkan dokter, pasien bisa menentukan pilihan.


Pada saat inilah semua rakyat diberi hak untuk memutuskan pilihan atas pemimpin, dimulai dari perempuan, laki-laki, orang tua maupun muda, orang sehat sampai orang sakit jiwa atau penyandang disabilitas dibutuhkan suaranya  demi berjalannya pemilu.


Pada tahun inilah semua rakyat berharap akan dapat pemimpin yang benar-benar mengurusi kebutuhan semua rakyat nya, mulai dari kebutuhan sandang, pangan, papan, berharap pemimpin yang amanah, adil, dan memenuhi semua janji-janji dalam masa kampanye. Mampu memberi perubahan.


Bagi kita, Pemilu 2019 semestinya memberi banyak pelajaran. Pengorbanan yang dicurahkan benar-benar luar biasa besar. Belum termasuk uang resmi dan uang gelap yang dikeluarkan partai politik dan para caleg yang mengharapkan kemenangan.


Wajar jika disimpulkan, politik demokrasi adalah politik berbiaya mahal, dan karenanya membuka celah intervensi pihak-pihak para pemilik modal di samping menumbuhsuburkan perilaku koruptif di jajaran pemegang kekuasaan. Hadirnya intervensi dan keterlibatan para pemodal kelak tampak dari kebijakan yang dihasilkan. Nyaris semua aturan dan Undang-Undang  yang dikeluarkan, didedikasikan untuk melayani kepentingan para pemilik modal.


Lihatlah, apa yang didapat dari pengorbanan rakyat dengan berdarah-darah mengantarkan jagonya ke kursi kekuasaan? Pemerintah kerap menghadiahi mereka dengan berbagai kejutan.


Pertama, UU Cipta Kerja yang mengukuhkan proyek-proyek penjajahan dan memicu konflik horizontal, termasuk konflik lahan. Kedua, melambungnya harga-harga kebutuhan pokok termasuk BBM dan LPG yang tak kunjung turun. Ketiga, layanan kesehatan yang makin mahal dan kebijakan pendidikan yang makin kacau. Serta alasan lainnya.


Adapun proyek-proyek pembangunan yang dilakukan, nyatanya tidak menyentuh kebutuhan rakyat. Al-hasil rakyat lagi-lagi menjadi korban, hingga janji kesejahteraan makin jauh dari harapan. [MNews/SNA]


Perubahan yang kita butuhkan bukan sekadar perubahan parsial berupa pergantian pemimpin setiap lima tahunan melainkan harus mengarahkan pada perubahan sistem hidup yang diterapkan.


Berbeda dengan sistem politik yang diajarkan dalam Islam. Politik dalam Islam disandarkan pada akidah Islam yang lurus. Yang memandang Allah Subhanahu Wa Taala adalah Al- khalik pencipta dan Al- Mudabbir sebagai pengatur dalam kehidupan.


Oleh karenanya praktik politik wajib dijalankan di atas aturan-aturan syariat. Dan wajib ditegakan oleh semua pihak penguasa maupun rakyatnya, politik dalam pandangan Islam merupakan ri'ayah syu'unil ummah atau pengurus urusan umat dengan syariat Islam saja.


Oleh karna itu politik tidak hanya dimaknai sebagai kekuasaan. Islam memandang bahwa kekuasaan hanya menjadi sarana menerapkan hukum-hukum syariat sebab keadilan ada ditangan asy-syari pembuat hukum ialah Allah Subhanahu Wa Taala. Dalam sistem politik Islam rakyat dilibatkan memilih pemimpin. Hanya saja Islam telah menetapkan syarat-syarat sah kepemimpinan, diantaranya seorang muslim, laki-laki baligh, berakal, adil, merdeka, dan mampuh melaksanakan amanah kepemimpinan, 


Islam juga telah menetapkan metode baku dalam pengangkatan pemimpin yakni dengan baiat. Sedangkan pemilihan oleh rakyat secara langsung hanya salah satu cara untuk memilih pemimpin setelah mahkamah mazhalim menetapkan calon khalifah yang lolos verifikasi mereka tentu harus orang berakal bukan orang dengan gangguan jiwa.


Islam memfungsikan akal sebagaimana tujuan diciptakannya akal oleh Allah Subhanahu Wa Taala. Untuk memahi hakikat hidup sebagai hamba Allah dan memahami Al-Qur'an sebagai pengunjuk hidup, Islam mengakui orang dengan gangguan jiwa sebagai makhluk Allah yang wajib dipenuhi kebutuhan nya. Namun tidak mendapatkan beban amanah termasuk dalam memilih pemimpin.


Bersama hadis ini menegaskan bahwa Rasulullah bersabda : 

"Pena diangkat atau dibebaskan dari tiga golongan. Yang pertama orang tidur sampai ia bangun. Kedua, anak kecil sampai ia baligh. Katiga, orang gila sampai ia kembali sadar." (HR Abu daud)


Orang dengan gangguan jiwa dalam Islam juga sangat jarang ditemui. Mengingat kesejahteraan  dan keadilan dirasakan oleh umat sebagai rahmatan lil alamin 


Wallahualam bissawab

Post a Comment

Previous Post Next Post