Nasib Buruk Rohingya, Muslim Wajib Bela


 

Oleh: Fatiyah Danaa. H, 

Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok

 

Pengungsi Rohingya yang sejak 2009 sudah memasuki Indonesia kini kembali disorot sejak mereka mendaratkan 219 pengungsinya di Kota Sabang pada hari Rabu (22/11/2023). Mereka ditolak ramai-ramai oleh masyarakat setempat karena berbagai alasan, salah satunya karena tidak adanya tempat penampungan serta perilaku buruk Rohingya selama di Indonesia.

 

Tidak hanya di Indonesia, berbagai negara pun dengan jelas menolak Rohingya dan sepakat tidak memberikan sokongan dalam bentuk apa pun kepada mereka. Malaysia merupakan salah satu negara yang pernah menolak kedatangan mereka dengan dalih negara sudah tidak mampu menampung lagi pengungsi Rohingya, karena menurut mantan PM Malaysia sejak 2020 sudah terdapat 100.000 pengungsi Rohingya di negara tersebut.

 

Hipokrit, salah satu kata yang tepat untuk mendeskripsikan negara-negara ini yang dengan gamblang enggan mengulurkan tangannya untuk membantu pengungsi Rohingya. Padahal negara-negara tersebut amat menggaungkan ide-ide HAM, bahkan ikut mendeklarasikan Piagam HAM PBB. Ternyata semua itu hanyalah omong kosong, tidak berperan apa pun dalam memanusiakan pengungsi Rohingya. Mereka pun tidak mendapatkan hak-haknya sebagai manusia.

 

Rohingya merupakan etnis minoritas Muslim berasal dari Myanmar yang tidak diakui keberadaannya dan sudah beberapa kali mengalami operasi militer pemusnahan etnis atau genosida. Jejak sejarahnya yang dipersekusi oleh negaranya sendiri dari diburu, dipenjara, disiksa dan dibunuh sudah jelas, tetapi dunia memutuskan untuk menutup mata.

 

Secara garis besar yang terjadi terhadap Rohingya memiliki kemiripan dengan apa yang terjadi di Palestina. Tapi kenapa dunia terutama Indonesia memberlakukannya dengan berbeda? Padahal sesama saudara seakidah? Masyarakat Indonesia beramai-ramai meyatakan ketidaksukaannya terhadap pengungsi Rohingya, mulai dari sikapnya yang buruk, tindak kriminalitas hingga muncul isu akan terjadi penguasaan lahan seperti yang dilakukan zionis Yahudi terhadap Palestina dan masih banyak lagi narasi buruk tentang Rohingya.

 

Sudah kita saksikan bahwa media sosial merupakan alat manjur yang memiliki efek layak senjata seperti yang dilakukan netizen Indonesia pada pasukan Zionis Yahudi. Tapi sayangnya kali ini yang terjadi adalah sebaliknya, netizen banyak termakan narasi buruk tentang pengungsi Rohingya.


Menurut penceramah Ustadz Felix Siauw dalam sebuah podcast, dia mengutarakan bahwa sikap yang benar terkait Rohingya adalah memisahkan Rohingya ini dari sisi kelakukannya dan posisi mereka sebagai Muslim. Karena dengan posisinya sebagai Muslim memang sudah sepatutnya harus saling memuliakan. Sejumlah masyarakat sipil hingga akademisi meyakini bahwa aksi-aksi intimidasi yang muncul tidak lepas dari narasi kebencian dan disinformasi. Jadi memang kelihatannya ada permainan dari pihak lain yang meng koar-koarkan narasi buruk yang belum tentu kebenarannya atas Rohingya hingga tersebar luas di media sosial.

 

Akhirnya masyarakat Indonesia termakan oleh berita tersebut dan ikut terprovokasi untuk segera mengusir Rohingya dari tanah air. Bahkan berita yang tersebar bahwa mahasiswa Aceh usir pengungsi Rohingya merupakan hoaks. Menurut korlap aksi yang terjadi adalah mereka membawa para pengungsi Rohingya ke Kanwil Kemenkumham dari Balai Meuseuraya untuk melakukan aksi kepada Pemda Aceh untuk dapat menyelesaikan permasalahan pengungsian Rohingya bukan secara langsung mengusir mereka. Karena sejatinya ini merupakan permasalahan yang harus diselesaikan pemerintah bukan masyarakat.

 

Jadi kita harus mewajari feedback yang diberikan kepada para pengungsi Rohingya dari masyarakat Indonesia. Karena memang hal ini tidak sepatutnya diselesaikan oleh masyarakat tetapi harusnya pemerintah yang turun tangan untuk mencari solusi untuk permasalahan Rohingya. Solusi yang mengakar pada akar permasalahan Rohingya. Tapi tidak memalingkan fakta bahwa hakikatnya kita sesama muslim harus membantu saudara seiman. Hal ini akan sulit untuk diselesaikan karena negara-negara Muslim terpecah belah menjadi negara nation state.

 

Tidak ada negara yang merasa bertanggung jawab atas Rohingya atas dasar saudara seakidah, walaupun ada negara yang membantu pengungsi-pengungsi Rohingnya termasuk Indonesia, itu didasarkan hanya pada kemanusiaan yang akhirnya tidak berlangsung lama malah memunculkan narasi-narasi buruk mengenai Rohingnya.

 

Seharusnya kaum Muslim fokus pada akar persoalan yang menyebabkan pengungsi Muslim Rohingya ke luar negara mereka, bukan fokus pada persoalan-persoalan turunannya. Apalagi ikut terprovokasi dan terhasut sehingga mengabaikan ajaran Islam untuk menolong dan membantu saudara seiman. Dan ikut memperjuangkan bersatunya negara-negara Muslim karena hanya dengan negara yang bersandarkan hukum Allah permasalahan Rohingya akan bisa dituntaskan.[]

Post a Comment

Previous Post Next Post