Kenaikan Indeks Pembangunan Gender, Gerbang Menuju Kehancuran Keluarga


Oleh: Normah Rosman

(Pegiat Literasi) 


Dengan meningkatnya Indeks Pembangunan Gender menjadi bukti jika perempuan semakin berdaya. Menurut Deputi Bidang Kesetaraan Gender KemenPPPA Lenny N Rosalin, perempuan berdaya akan menjadi landasan yang kuat dalam pembangunan bangsa. Dikutip dari Antaranews pada 6/1/2023 bahwa dalam menyonsong tahun 2024, komitmen KemenPPPA dan perlindungan anak akan terus ditingkatkan. PPPA juga menambahkan, pihaknya akan berfokus pada penguatan kelembagaan dan perbaikan pelayanan publik, terutama terkait lima arahan prioritas Presiden dengan mengedepankan sinergi dan kolaborasi lintas sektor mulai dari pemerintah pusat dan daerah, masyarakat, dunia usaha serta media. 


Maka sehubungan dengan itu Deputi Bidang Kesetaraan Gender  KemenPPPA, Lenny N Rosalin, mengatakan jika perempuan semakin berdaya karena mampu memberikan sumbangan pendapatan signifikan bagi keluarga, menduduki posisi strategis di tempat kerja, dan turut terlibat dalam politik pembangunan dengan meningkatnya keterwakilan perempuan di lembaga legislatif. Ini menunjukkan peningkatan Indeks Pemberdayaan Gender. 


Wanita, Keluarga dan Karir


Jika berbicara tentang wanita, tentu tak ada habisnya. Seperti halnya pria, wanita juga bisa terjerat oleh godaan dunia. Dalam sistem kapitalisme yang berasaskan manfaat, tak sedikit wanita yang tergadai pemikiran dan kehormatannya demi meraih dunia yang fana. Perempuan dianggap semakin berdaya dengan meningkatnya Indeks Pembangunan Gender. Di mana perempuan mulai mengambil peran dalam pemerintahan, sosial, budaya dan berbagai aktifitas di luar rumah, yang melibatkan banyak bahkan hampir semua peran wanita. Dengan kegiatan outdoor yang banyak menyita waktu seorang wanita, terlebih lagi jika ia juga bergelar seorang ibu, tentunya akan berdampak pada psikologis mereka dan anak-anak mereka. Karena sejatinya dengan banyak beraktifitas di luar rumah, maka akan menambah masalah dalam hidupnya dan keluarganya.


Peningkatan Indeks Pembangunan Gender diukur dari kemampuan seorang perempuan dalam menghasilkan materi, partisipasinya di ranah publik, besarnya keterwakilan politik perempuan di lembaga legislatif, serta kebebasannya dalam mengaktualisasikan diri tanpa diskriminasi dan batasan. Saat ini ada banyak perempuan yang mandiri secara ekonomi. Dengan melakoni berbagai macam pekerjaan mulai dari mengeksplor tubuh dengan dalih seni, terbang ke sana-sini karena tuntutan profesi bahkan menjadi TKW demi anak dan suami. Keterlibatan perempuan di dunia kerja hampir di semua lini, tanpa disadari diiringi dengan kehancuran keluarga akibat tingginya angka perceraian, kerusakan moral, perzinaan (perselingkuhan), merajalelanya pornografi, pelecehan seksual hingga kekerasan terhadap perempuan.


Perempuan saat kini bangga akan perannya dalam berkarir di ranah publik. Alih-alih merasakan ketenangan dan kesenangan, justru sejatinya mereka merasakan kekosongan dalam diri mereka, karena melanggar fitrah mereka sebagai seorang wanita dan ibu. Di mana semua waktu, pikiran, dan tenaganya tercurahkan sepenuhnya kepada perusahaan atau institusi tempat mereka bekerja, sembari meredam fitrahnya yang terus menuntut untuk dipenuhi. Karena memainkan peran ganda, antara rumah dan kantor. Kondisi ironis ini adalah dampak dari ideologi demokrasi kapitalisme yang memang tidak menjamin akan terpenuhinya hak-hak perempuan. Penerapan sistem ini hanya menghasilkan negara dan pemerintah yang gagal dalam melindungi perempuan.


Hakikat Perempuan Dalam Islam


Berbeda dengan sistem demokrasi kapitalisme, Islam menempatkan perempuan pada posisi yang bermartabat. Peran kaum muslimah sudah digariskan dengan jelas, bahwa perempuan memiliki peran utama di rumah, sebagai ummun wa robbatul bayt (ibu dan pengurus rumah tangga) dan juga pendidik anak. Islam memberi perhatian lebih pada peran vital perempuan dalam pembentukan keluarga dan melahirkan generasi unggul. Islam tidak membebankan masalah finansial di pundak perempuan, karena tugas utama perempuan adalah mengurus rumah tangga dan anak-anak. Perempuan juga mendukung suami dalam menguatkan perannya dalam berbagai kiprah.


Islam memiliki berbagai mekanisme untuk menjadikan perempuan sejahtera dan tetap terjaga fitrahnya. Dengan penerapan sistem Islam, maka negara memberikan jaminan kesejahteraan kepada seluruh rakyatnya termasuk perempuan. Negara wajib menyediakan lapangan kerja bagi kaum laki-laki agar mekanisme pernafkahan yang berada di pundaknya bisa ditunaikan dengan sempurna. Sandang, pangan, papan, pendidikan dan kesehatan dapat diakses dengan mudah dan murah. Sehingga kaum bapak dapat bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dengan demikian, perempuan akan dengan senang hati berada di rumah, dan tak perlu bersusah payah memeras keringat untuk membantu perekonomian keluarga. 


Perempuan, khususnya ibu rumah tangga, kedudukannya sebagai pendamping laki-laki. Peran utama mereka adalah mengurus rumah tangga, mengatur keuangan, mendidik anak-anaknya, dan mendidik kaum perempuan di masyarakat. Dengan menjadi manajer di rumah sendiri, perempuan akan lebih terhormat dan mulia. Sehingga perempuan dianggap berdaya dan bangkit jika ia menyadari peran dan tugasnya. Itulah kebangkitan hakiki bagi kaum perempuan. Dari Anas Radiallahu anhu, ia berkata: kaum perempuan datang menghadap Rasulullah saw. dan bertanya, “Ya Rasulullah, kaum pria telah pergi dengan keutamaan dan jihad di jalan Allah. Adakah perbuatan bagi kami yang dapat menyamai amal para mujahidin di jalan Allah?” Maka Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa di antara kalian berdiam diri di rumahnya, maka sesungguhnya ia telah menyamaiamal para mujahidin di jalan Allah.” (HR Al-Bazzar). Begitu mulianya peran perempuan di rumah tangga hingga pahalanya setara dengan pahala mujahid. 


Meskipun perempuan bertugas di rumah, bukan berarti ia tidak bisa keluar menuntut ilmu. Perempuan diwajibkan cerdas dengan terus menuntut ilmu dan mengkaji tsaqofah sebagai bekalnya. Adapun ilmu ini diperoleh dari rumah, tapi jika tidak memperolehnya di rumah, maka bisa keluar rumah seperti ke majelis ilmu atau pendidikan formal, yang tentu saja akan dibimbing oleh sesama perempuan. Perempuan bisa mengambil peranan strategis di ranah publik sebagai daiyah yang berkontribusi dalam mencerdaskan kaumnya. Peran ini bukanlah peran remeh temeh, karena perempuan memiliki kontribusi yang sangat besar dalam pembentukan keluarga yang tangguh, generasi terbaik dan masyarakat madani. Karena itu, tiap perempuan haruslah cerdas agar mereka bisa memahami hakikat diri dan berkiprah sesuai dengan fitrahnya. Wallahu a’lam.

Post a Comment

Previous Post Next Post