IMPOR BERAS MAKIN DERAS KEDUALATAN PANGAN KIAN KANDAS


Oleh Yeni Aryani


Orang no satu di republik ini mengakuinya sendiri, yakni pak Jokowi. Indonesia membutuhkan impor beras karena sulit untuk mencapai swasembada. Jumlah penduduk kian bertambah juga menjadi salah satu alasannya. Impor beras menjadi solusi akhir dan dipandang perlu di ambil oleh pemangku kebijakan agar dapat memenuhi kebutuhan beras dalam negeri. 


Dilansir oleh CNBC Indonesia, Presiden Jokowi (Joko Widodo) mengungkapkan Indonesia membutuhkan impor beras karena sulit mencapai swasembada, terlebih lagi jumlah penduduk Indonesia yang terus bertambah mereka butuh beras. "Yang kita harapkan adalah kita ini mampu mencukupi kebutuhan beras dalam negeri namun dalam praktiknya sangat sulit, karena produksi tidak mencapai tiap tahun. Kita bertambah yang harus diberikan makan" kata Jokowi di acara pembinaan Petani Jawa Tengah di Banyuwangi, Selasa 2 Januari 2024


Dalam kesempatan itu juga Jokowi membagikan bantuan beras, Cadangan Beras Pemerintah (CBP) hingga mengecek gudang Bulog di Batu Cermin, Labuan Bajo Kabupaten Manggarai Barat. Propinsi Nusa Tenggara Timur NTT pada Senin 4 Desember 2023. Selain membagikan bantuan beras Cadangan Pemerintah Jokowi juga mengapresiasi para petani jagung. "Ini saya harus acungkan jempol" kepada petani jagung yang produksinya terus meningkat hingga mengurangi ketergantungan dari impor. Dari 3,7 juta ton tahun 2015 hingga saat ini turun menjadi 800 ribu ton


Kesulitan mencapai swasembada pangan adalah bukti ketidakmampuan negara memenuhi kebutuhan beras dalam negeri dengan kata lain negara gagal mewujudkan ketahanan pangan dan kedaulatan pangan kian kandas. Mengapa negara ini gagal? Bukanlah lahan sangat luas tersedia, Indonesia diberkahi oleh Allah SWT tanah yang subur, kilm tropis yang mendukung, dari sumber daya manusia juga Indonesia tidak kalah dengan negara negara Asia tenggara lainnya. Dengan memberikan pendampingan , arahan, bimbingan dari tenaga ahlinya dalam hal pertanian di dukung oleh sarana prasarana yang memadai Indonesia akan mampu mencapai swasembada pangan. Impor beras bukan solusi tunas justru ini cara praktis mendapatkan keuntungan. Kebijakan impor beras dan lainnya seperti garam justru membuat petani dalam dalam negeri mati perlahan. Seharusnya negara berusaha mewujudkan ketahanan pangan dengan langkah solutif dan antispasif. Termasuk menyediakan lahan pertanian di tengah banyaknya alih fungsi lahan. Berkurangnya jumlah petani yang menanam padi dan sulit petani mempertahankan eksistensi karena negara merampas hak lahan warga, belum lagi kita bicara soal pupuk. Pupuk susah didapat, walaupun ada harganya tidak murah. Para petani perlu merogo kocek lebih dalam, belum lagi biaya tanam, biaya kebutuhan rumah tangga lainnya yang terus menerus semakin melambung. Satu problematika petani belum bisa di atasi sudah menyusul problematika lainnya. Inilah bukti nyata ketidakmampuan negara yang menerapkan sistem MoradMarid demokrasi buatan manusia


Hal seperti tidak akan terjadi apabila negara muslim tersebut menerapkan syariat Islam Kaffa dalam kepengurusan segala aspek kehidupan. Islam menjadikan negara sebagai pihak yang bertanggung jawab menyediakan semua kebutuhan pokok masyarakat termasuk makanan. Negara adalah pelayan umat yang memberikan pelayanan yang teribaik bukan berpikir atau menentukan untung dan rugi. Negara yang menerapkan syariat Islam tidak akan berbisnis dengan umatnya justru dalam Islam negara akan melakukan berbagai jalan untuk mewujudkan kedaulatan pangan. Karena dalam Islam pemimpin sangat mengerti dan memahami akan amanah dalam tugasnya 


Wallahu alam 10/1/2024

Post a Comment

Previous Post Next Post