Banjir Kembali Melanda, Kesalahan Tata Ruang Kota?


Oleh : Suaibah S.Pd.I.

( Pemerhati Masalah Umat) 


Hujan kembali melanda di berbagai wilayah memicu bencana di beberapa tempat di Indonesia, seperti yang terjadi Jakarta, Badung dan Riau.


Sebagaimana yang diberitakan cnnindonesia pada 13/1/2024 bahwa seiring datangnya musim penghujan, banjir terjadi di berbagai wilayah di Indonesia. Seperti di Riau, 6.467 orang dari Kabupaten Rokan Hilir, Kepulauan Meranti, dan Kota Dumai mengungsi. Rumah, lahan, dan tempat usaha mereka terdampak banjir sejak beberapa pekan terakhir ini. Ribuan rumah dan fasilitas umum, seperti jalan, masjid, dan sekolah pun tergenang banjir. Banyak sekolah diliburkan karena ruang kelas terendam. 


Banjir juga terjadi di Braga, Kota Bandung. Hujan lebat di kawasan Lembang membuat air Sungai Cikapundung meluap dan tanggul penahan air jebol sehingga air bah masuk ke permukiman warga. Banjir tidak hanya membawa air, tetapi juga lumpur dan sampah. Banjir bandang tersebut berdampak pada 857 warga dari 400 kepala keluarga. 


Tak ketinggalan banjir juga mengguyur di Jakarta. Hujan deras yang terjadi pada Kamis (11-1-2024) menyebabkan lima RT dan enam ruas jalan di DKI Jakarta terendam banjir. (Berita Satu, 11-1-2024). Di Jambi, banjir terjadi di Kerinci-Kota Sungai Penuh, Bungo, Tebo, Batang Hari, Muaro Jambi, Merangin, dan Sarolangun. Bukan hanya banjir, beberapa daerah di Jambi, seperti Kerinci, Sungai Penuh, Bungo, Tebo, Merangin, dan Sarolangun Jambi juga mengalami bencana tanah longsor. Total ratusan ribu jiwa sudah terdampak akibat banjir besar tersebut. 


Sesungguhnya potensi dan penyebab bencana bisa _diprediksi_ sebelumnya dan juga termasuk bencana rutin yang dipengaruhi cuaca. Bencana banjir bukanlah soalan baru, karena hampir setiap musim peghujan tiba bencana banjir pasti melanda, seolah jadi langganan bencana.


Ada beberapa alasan yang menyebabkan terjadinya bencana banjir. Selain hutan yang semakin gundul, lahan yang beralih fungsi sebagai daerah resapan berubah menjadi lahan _komersil_ atau obyek wisata sehingga berkurangnya kawasan resapan air. Sungai yang semakin dangkal, _drainase_ tak memadai dan sungai yang penuh sampah. Dari realitas yang terjadi menunjukan bahwa tata kelola alam saat ini sangatlah memprihatinkan.


Inilah persoalan yang terjadi jika tata kelola lahan dipasrahkan pada _mekanisme_ ala _Kapitalisme_ . Dalam sistem _Kapitalisme_ hak kepemilikan diserahkan secara bebas kepada para pengusaha atau pemilik modal untuk mengelolanya tanpa memperhatikan dampak yang ditimbulkannya, apakah itu akan merusak lingkungan atau tidak, yang penting menghasilkan uang dan memperoleh keuntungan yang menggiurkan.


Berbeda halnya dalam pandangan Islam, dalam sistem Islam pengelolaan lingkungan menjadi _prioritas_ yang diperhatikan dengan berbagai upaya semaksimal mungkin sehingga tidak akan memicu dan bencanapun dapat _diantisipasi_ . Tata kota menjadi simbol peradaban Islam. Sebagian kota menjelma menjadi pusat politik dan pemerintahan, ekonomi, ilmu pengetahuan, dan pusat studi agama.



Adapun _ikhtiar_ yang akan dijalankan oleh sistem Islam adalah sebagai berikut: _Pertama_ , adanya pemetaan oleh Negara daerah-daerah rendah yang rawan terkena genangan air dan membangun saluran baru agar air yang mengalir di daerah tersebut bisa dialihkan atau bisa diserap oleh tanah secara maksimal.


 _Kedua_ , Negara menetapkan daerah-daerah tertentu sebagai daerah _cagar alam_ yang harus dilindungi yang tidak boleh dimanfaatkan kecuali dengan izin dan akan menetapkan sanksi berat bagi yang merusak lingkungan hidup.


 _Ketiga_ , ketika terjadi bencana, negara akan menanggulangi korban bencana agar mereka memperoleh pelayanan yang baik selama berada dalam pengungsian dan memulihkan kondisi _psikis_ mereka agar tidak _depresi_ , _stress_ maupun dampak-dampak yang menggangu _psikologis_ lainnya serta memberikan bantuan atas setiap kondisi darurat bencana yang menimpa.


Dengan demikian, musibah yang melanda manusia adalah _qhadha_ dari Allah Swt., tetapi dibalik _qhadha_ tersebut ada fenomena alam yang bisa ditangkap termasuk _ikhtiar_ atau usaha untuk menghindarinya sebelum terjadi. Sehingga terjadinya bencana dapat _diantisipasi_ , atau bencana pun tetap terjadi tetapi tidak banyak memakan korban. Semua itu bisa terjadi jika diterapkan islam dalam semua aspek kehidupan. Maka, saatnya umat kembali pada aturan yang benar yakni aturan yang berasal dari Sang Pencipta alam semesta, Allah SWT. Ketika diterapkan islam _kaffah_ , sungguh keberkahan itu nampak di pelupuk mata. _Baldatun Thoyyibun wa rabbun ghoffur_ .


 _Wallahu’alam bishowab_

Post a Comment

Previous Post Next Post