Banjir Berulang, Kian jadi Tradisi di Musim Hujan


Oleh : Neny Nuraeny

Ibu Rumah Tangga dan Pendidik Generasi


Musim hujan tiba, banjir pun datang. Hujan yang seharusnya mendatangkan keberkahan malah menjadi musibah. Sedikitnya ada dua ribu rumah terendam banjir besar yang melanda Kabupaten Bandung, seperti Kecamatan Dayeuhkolot dan Baleendah. Jumlah tersebut belum akurat, masih ada kemungkinan bertambah,  hal ini dikarenakan sulitnya mendapatkan data yang kongkrit di tengah kepungan banjir. Uka Suska Puji Utama selaku Kepala pelaksana harian BPBD Kabupaten Bandung menyebutkan bahwa warga terdampak itu  lebih dari dua ribu KK, itu berarti hampir dua ribu rumah. Para korban banjir tidak semua mengungsi, sebagian ada yang masih bertahan di rumahnya karena menganggap masih merasa aman. Uka juga menambahkan hingga Jumat pagi, ketinggian di beberapa titik sudah mulai menyusut, dan berharap masyarakat untuk tetap waspada mengingat hujan akan turun saat sore hari hingga malam. Banjir besar dan bencana lain seperti tanah longsor serta angin puting beliung di Kabupaten Bandung beberapa waktu lalu, belum menentukan status tanggap darurat. “Kaitan dengan tanggap darurat, hari ini juga kami BPBD bersama yang terkait lainnya akan mengadakan rapat evaluasi berkaitan dengan bencana ini. Apakah sudah memenuhi unsur tanggap darurat atau bagaimana,” paparnya. (Radio Republik Indonesia, Bandung 12 januari 2024)



Banjir merupakan masalah klasik yang sering terjadi saat musim penghujan tiba. Rasanya hampir setiap tahun terus terjadi, bahkan nampaknya menjadi rutinitas saat musim hujan. Sayangnya upaya antisipasi dan mitigasi bencana belum diperhatikan secara serius oleh pemerintah. Padahal BMKG sudah memberi peringatan  adanya cuaca ekstrim yang berpotensi banjir. Penguasa seharusnya segara mengatasi permasalahan banjir ini, dengan upaya yang maksimal tanpa mempertimbangkan untung rugi, dan berapa biaya mitigasi bencana yang akan dihabiskan, yang penting bencana ini tidak terulang lagi. Sayangnya harapan masyarakat untuk mendapat solusi  tuntas terhadap penanganan banjir ini hanya harapan semata. Kebijakan penguasa yang menerapkan sistem kapitalisme hanya mementingkan keuntungan semata, tidak peduli dengan kondisi umat yang sedang terimpa musibah. Kapitalisme hanya mencetak penguasa yang tidak serius mengurusi rakyat dan bahkan gemar menyusahkan masyarakatnya, demi kepentingan pribadi dan oligarki. 


Berbeda dengan sistem Islam yang  menerapkan Islam kaffah, dan  kepemimpinannya  diemban oleh seorang Khalifah. Mindset Pemimpin dalam Islam  tugasnya mengurusi dan memenuhi kebutuhan rakyat dengan sepenuh hati. Karena tanggung jawab mereka tidak hanya sebatas di dunia melainkan juga di akhirat kelak. Tak heran jika dalam menjalankan amanahnya selalu menghadirkan rasa di awasi oleh Allah Swt,  sehingga perilakunya terikat dengan syariat.  Sabda Rasulallah saw. “Imam adalah raa’in (pengembala) dan dia bertanggung jawab atas rakyatnya.” (HR Bukhari). Seorang Khalifah akan mengoptimalkan sekeras mungkin untuk mencegah penyebab terjadinya banjir. Sehingga masyarakat akan tetap aman dan terindar dari banjir. Selain itu sistem Islam memiliki sistem keuangan berbasis Baitul Mal sebagai penopang keuangan yang stabil dan kuat. Ketika bencana melanda, negara dapat mengambil anggaran dari pos kepemilikan umum dan pos kepemilikan negara dari Baitul Mal.


Adapaun langkah negara dalam mengatasi banjir dapat dilihat dari beberapa aspek.  Jika banjir diakibatkan oleh fenomena alam secara alami, baik itu pengaruh musim, dan curah hujan, maka Pemerintah akan memaksimalkan peran BMKG untuk memetakan wilayah atau daerah yang akan berpotensi bencana alam. Kemudian wilayah tersebut akan di persiapakan dan di tata sebagai wilayah siaga bencana. Hal ini berupaya untuk meminimalisir korban jika dan kerugian harta benda. Berbeda jika banjir terjadi karena faktor-faktor  yang dapat di cegah seperti keterbatasan daya tampung tanah terhadap curah air hujan, gletser, gelombang pasang  dan lain-lain. Maka pemerinta akan membangun bendungan kokoh yang mampu menampung curahan air dari aliran sungai, curah hujan dan lain sebagainya. Bahkan bukti-bukti bendungan yang di bangun semasa kejayaan Islam  masih bisa ditemukan hingga sekarang. Salah satunya bendungan Shadravan, Kanal, Darian, Bendungan Jareh, Kanal Gargar dan Bendungan Mizan yang berada di provinsi Khuzestian, Iran Selatan. Itu semua untuk irigasi dan pencegahan banjir. Kemudian pemerintah  juga akan melakukan pengerukan sungai dan danau secara berkala  agar tidak terjadi pendangkalan. Upaya yang lainnya adalah memetakan daerah rendah yang rawan genangan air dan membuat kebijakan supaya masyarakat tidak membangun pemukiman dan menempati daerah tersebut. Selanjutnya jika ditemukan kasus yang awalnya aman banjir tapi wilayah tersebut terjadi penurunan tanah yang bedampak banjir, pemerintah akan membangun sungai buatan dan saluran drainase untuk mengurai pemumpukan air dan mengalihkan aliran air ke tempat yang lebih aman. Apabila upaya tersebut masih belum berhasil, maka akan mengevakuasi penduduk ke tempat yang layak dengan konpensasi tempat mereka yang sepadan. Tidak hanya itu pemerintah juga akan menata tata ruang wilayah. Pembangunan harus stabil dengan menyertakan drainse serapan air, penggunaan tanah berdasarkan karakteristik tanah.  


Apabila upaya-upaya telah dilakukan dengan optimal mungkin, tapi bencana masih melanda, maka akan disiapkan para tim sar yang profesional dan alat-alat yang canggih, sehingga tidak akan memakan korban.  Selain itu, para ulama ikut berperan untuk menguatkan hati dan keimanan para korban yang tertimpa banjir, untuk tetap sabar dan tawakal kepada Allah Swt. Demikianlah upaya pemerintah dalam penanggulangan banjir. Pengambilan kebijakannya tidak hanya sekedar dari pertimbangan rasional saja tapi juga sesuai dengan ketentuan syariat.

Wallahu a’lam bissawab.

Post a Comment

Previous Post Next Post