Refleksi Hari Ibu, Menguak Peran Utama Perempuan yang Kian Terpinggirkan


Oleh Irma Faryanti

Pegiat Literasi 




Setiap tanggal 22 Desember, masyarakat memperingati Hari ibu. Sebuah momen penghargaan atas jasa wanita mulia yang selalu ada di hati anak-anaknya. Sosok yang tidak pernah mengenal lelah menjalani perannya demi keluarga tercinta. 


Namun ada yang berbeda pada peringatan Hari Ibu kali ini. Walaupun kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak telah mengusung tema besar yaitu: “Perempuan Berdaya, Indonesia Maju” Tapi masih ada tema-tema lain yang direkomendasikan untuk merayakannya, yaitu: Bunga dan kebaikan, super woman di hidupku, Tea Party elegan, Cinta yang Tak Terukur, Dunia Fantasi Keluarga, Minggu Sehat Ibu dan Express Your Love Through Art. 


Dalam rangkaian peringatan Hari Ibu, Bintang Puspayoga selaku Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan anak (PPPA), menggandeng Lions Club Jakarta Selatan Tulip Distrik 307-B1 untuk membagikan 250 paket bantuan spesifik pemenuhan hak anak berupa beras, pasta gigi, dua jenis susu dan biskuit anak. Pembagian bertempat di daerah Kampung Pemulung Cinere, Kecamatan Limo, Kota Depok, juga disalurkan ke Sekolah  Kembar dan Yayasan Dhuafa Binaan Warmadewa. Selain itu digelar pula pemeriksaan kesehatan dan cek kadar gula darah gratis. (www.kemenppa.co.id Kamis 14 Desember 2023)


Menurut Bintang, adalah hak anak untuk mendapatkan pemenuhan kebutuhan  hidup, tumbuh, berkembang, serta mendapat perlindungan. Hal ini memerlukan sinergi kolaborasi dari berbagai pihak, bukan hanya tanggung jawab pemerintah pusat dan daerah, tapi butuh juga peran lembaga masyarakat, dunia usaha dan media.


Peringatan Hari Ibu sebetulnya sudah ada sejak tahun 1928, yang mengacu pada Momentum Kongres Perempuan. Sebuah momen penting yang diikuti oleh para wanita di berbagai wilayah. Mereka disatukan oleh visi misi yang sama yaitu ingin memerdekakan dan memperbaiki nasib kaum hawa.


Dari tema yang diusung yaitu “Perempuan berdaya, Indonesia Maju” tersirat harapan bahwa ke depannya kaum wanita dapat menggunakan potensi dirinya agar bisa menafkahi diri serta keluarganya. Pendapatan mereka bisa berpengaruh pada Gross Domestic Product (GDP), yang jika angkanya naik, akan berpengaruh pada kesejahteraan masyarakat. Inilah logika dasar kapitalis.


Prinsip tersebut telah menipu kaum perempuan, dengan slogan-slogan palsunya seperti pemberdayaan ekonomi, kebebasan, kesetaraan gender dan lain sebagainya. Padahal faktanya mereka hanya dijadikan poros berputarnya roda perekonomian, kerja siang dan malam hanya untuk mencari nafkah. Tidak adanya jaminan keamanan, membuat mereka harus mendapat perlakuan tidak manusiawi, dilecehkan, dieksploitasi majikan dan lain sebagainya.


Berbeda dengan kapitalis, Islam justru memandang kemajuan bangsa tidak dari sisi perekonomian,  tapi dari kemajuan peradaban yang dilahirkan dari ideologi yang benar. Agama ini justru menegaskan bahwa tugas dan peran strategis perempuan terletak pada fungsi keibuannya dengan merawat, membesarkan dan mendidik anak-anaknya. Dan dalam menjalankan semua itu, tidak akan menjadikannya miskin dan membuat negara menjadi mundur sebagaimana yang dituduhkan kaum feminis bahwa aktivitas domestik hanya akan memiskinkan dan merendahkan kaum wanita.


Selain itu, kaum wanita juga tidak akan direpotkan dengan kewajiban mencari nafkah karena sejatinya yang diwajibkan untuk melakukannya adalah kaum pria. Seluruh kebutuhannya menjadi tanggungan suami ataupun walinya, sebagaimana tercantum dalam petikan ayat pada QS al Baqarah 233:

“.....Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut….”


Untuk itu, negara sebagai pengayom rakyat akan memfasilitasi semua itu dengan menyediakan lapangan kerja seluas-luasnya, dan memenuhi seluruh kebutuhan masyarakat. Sehingga tidak akan ada lagi kaum perempuan yang harus mengabaikan perannya karena sibuk mencari nafkah keluarga.


Hanya saja, semua ketentuan ini hanya dapat diwujudkan ketika Islam dijadikan sebagai aturan kehidupan yang diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan dalam naungan sebuah kepemimpinan.

Wallahu alam Bissawab

Post a Comment

Previous Post Next Post