Perempuan Mulia Dengan Islam


Oleh : Qomariah.


Bahkan berbagai upaya yang dicanangkan oleh para aktivis, yaitu peringatan 16 hari Anti kekerasan terhadap perempuan 2023 (days of Activism against gender-based violence 2023), dalam peresmian women's global leandership institute, akan berlangsung mulai 25 November--10 Desember 2023, tirto (23/11/2023), hari penting ini diperingati secara global termasuk di Indonesia, hari Anti kekerasan terhadap perempuan bisa diperingati dengan berbagai kegiatan positif yang relevan dengan tema peringatan.


Hari Anti kekerasan terhadap perempuan (HAKTP)2023, merupakan sebuah kampanye yang diselenggarakan selama 16 hari, gerakan ini bertujuan untuk mencegah dan menghapus kekerasan terhadap anak-anak perempuan maupun perempuan dewasa.


Kampanye ini rutin digelar setiap tahun mulai 25 November yang merupakan tanggal peringatan hari anti kekerasan terhadap perempuan internasional.


Inilah fakta yang terjadi hari ini, kalangan feminis dan rezim global dengan paradigma kesetaraan gender, telah lama merespon fakta kejahatan terhadap perempuan dan anak perempuan, dengan berbagai upaya termasuk kampanye global 16 hari Anti kekerasan terhadap perempuan (HAKtP), baik LSM perempuan maupun pemerintah Indonesia telah menjadi bagian dari arus perjuangan, pemilih dan rezim global dalam mengkampanyekan 'menghapus kekerasan terhadap perempuan.'


Tetapi tatanan sekuler saat ini, telah memunculkan tantangan bahkan bahaya bagi siapapun, terutama perempuan dan anak-anak perempuan, kejahatan berupa kekerasan fisik, kehormatan, bahkan nyawa mereka, tidak ada tempat yang aman lagi, bahkan di rumah-rumah mereka, justru kondisi ini semakin memburuk.


Hampir 89.000 perempuan dan anak perempuan dibunuh dengan sengaja pada tahun 2022 di seluruh dunia, menurut sebuah  makalah penelitian baru, dari kantor PBB untuk narkoba dan kejahatan (UNODC), dan wanita PBB, 55 persen (48.800) dari seluruh pembunuhan terhadap perempuan, dilakukan oleh anggota keluarga atau pasangan intim, hal ini menggarisbawahi kenyataan yang meresahkan, bahwa rumah bukanlah tempat yang aman bagi perempuan dan anak perempuan, artinya rata-rata lebih dari 133 perempuan atau anak perempuan dibunuh setiap hari oleh seseorang di rumahnya sendiri.


Menjadi sebuah pertanyaan besar, kampanye dan perjuangan para pendiri ini sudah lama dilakukan, mereka sangat gencar menyuarakan ide-ide dan solusi bagi masalah perempuan, serta mendambakan rumah dan lingkungan aman bagi perempuan. Namun, mengapa permasalahan kekerasan terhadap perempuan belum berakhir, bahkan makin meningkat ?


Namun, walaupun sudah puluhan tahun kampanye ini digaungkan, tetapi permasalahan KTP malah makin tidak terkendali, bahkan setelah pemberlakuan UU TP--KS, kekerasan terhadap perempuan juga makin marak.

Oleh karenanya, kampanye ini bagaikan kampanye kosong yang tidak pernah bisa menghapus permasalahan perempuan.


Lantas apa penyebabnya ? Komnas perempuan menyebutkan bahwa kasus femisida (pembunuhan terhadap perempuan) terjadi semakin ekstrem, namun pengaduan kasus femisida ke lembaga layanan maupun ke Komnas perempuan nyaris tidak ada.


Dari pantauan di media Komnas perempuan menemukan 84 kasus femisida pasangan intim, sebagai ekskalasi KDRT yang berujung pada pembunuhan, baik oleh suami maupun mantan suami korban. Bentuk penganiayaan nya beragam, antara lain dicekik, ditindih, dipukul, di bekam, ditendang, dibacok, dimutilasi, di banting, dibakar dan sebagainya, (Data Komnas perempuan,25/11/2022).


Para penggiat kesetaraan gender pun menyimpulkan, bahwa fenomena ini lahir dari gagasan kepemilikan laki-laki terhadap perempuan, oleh karenanya ide kesetaraan gender telah nyata makin menyebabkan perempuan teraniaya, begitupun konsep HAM menjadikan semua orang merasa bebas bertindak atas nama hak asasi, bukankah ini justru mendorong seseorang berbuat jahat pada yang lainnya ? 


Ide kesetaraan gender dan HAM sendiri sejatinya lahir dari pandangan hidup barat yang serba liberal, liberalisasi yang lahir dari paham sekuler, akar persoalan maraknya kekerasan terhadap perempuan, oleh sebab itu, memperjuangkan UU TP--KS yang dianggap mampu menghukum pelaku kekerasan adalah perbuatan sia-sia ketika sistem demokrasi yang menjamin liberalisasi di negeri ini masih diterapkan.


Hanya Islam memiliki solusi yang hakiki, dalam sudut pandang terhadap perempuan, yaitu perempuan adalah makhluk yang harus dilindungi. Kedudukan perempuan dan laki-laki adalah sejajar dalam ketakwaannya, tetapi Allah SWT memberikan syariat yang berbeda kepada keduanya, Allah menetapkan kewajiban nafkah kepada para laki-laki, dan kewajiban bagi perempuan ibu dan manajer rumah tangga (ummun waroabbatul bait), sungguh hal itu bukanlah untuk mengerdilkan yang satu dan meninggikan yang lain, semua itu diatur semata karena sang pencipta manusia, lebih mengetahui yang terbaik bagi hambanya.


Rasulullah Saw bersabda,"sesungguhnya perempuan adalah saudara kandung laki-laki."(HR.Abu Daud).

Sedangkan Islam menjamin perlindungan bagi perempuan, dan Islam juga memiliki konsep bahwa negara  yang menjamin terlindunginya perempuan dari segala macam bahaya, termasuk kekerasan, berbeda dengan demokrasi, menjamin kebebasan perempuan dalam bertingkah laku, atas dasar HAM.


Dengan daulah Islam (khilafah), kekuatan kepemimpinan dan sistemnya akan menjamin perempuan terlindungi dari kekerasan, serta menjamin media, bersih dari tayangan yang berbau pornografi dan kekerasan, sistem ekonominya sudah mensejahterakan,  sehingga perempuannya sudah tidak ada minat untuk bekerja, kecuali untuk mengamalkan ilmunya dengan syariat Islam, serta mengangkat derajatnya dalam ketakwaan, juga menjalankan amanah sebagai ibu dan manajer rumah tangga, serta berusaha sebaik mungkin untuk menjadi madrasatul ula, dan menciptakan rumah yang aman, nyaman bagi seluruh penghuninya.


Inilah konsep Islam dalam melindungi perempuan, konsep ini hanya Islam yang bisa mewujudkannya, tetapi tidak mungkin bisa diterapkan sempurna jika sistemnya masih batil, yaitu demokrasi kapitalisme. 


Bahwa Perempuan dan umat manusia seluruhnya, hidup dalam masyarakat yang aman dan sejahtera, bila diterapkannya,

sistem Islam (khilafah), sesuai metode dakwah Rasulullah Saw. Insyaallah.


Wallahu a'lam bishawab.

Post a Comment

Previous Post Next Post