Omong Kosong HAM Sebagai Solusi Persoalan Dunia


Oleh : Wa Ode Vivin
 (Aktivis Muslimah)


Makin nampak penolakan  masyarakat terhadap perlindungan di bawah HAM. masyarakat makin sadar keberadaan HAM hanya simbolis belaka bagi kaum bawah yang tidak berdaya. Ini terkuak dalam media tentang turunnya prestasi HAM yang cukup tinggi.


Seperti yg dilansir dalam lamam CNN Indonesia, Setara Institute bersama International NGO Forum on Indonesia Development (INFID) mengatakan skor indeks Hak Asasi Manusia (HAM) Indonesia 2023 menurun menjadi 3,2 dari sebelumnya 3,3. "Pada Indeks HAM 2023, skor rata-rata untuk seluruh variabel adalah 3,2, yakni turun 0,1 dari tahun sebelumnya yang berada pada skor 3,3," kata setara dalam keterangan tertulis (Minggu, 10 Desember 2023).


HAM (Hak Asasi Manusia) adalah lahiran  negara Barat. Mereka merumuskan HAM dengan dalih agar semua manusia bisa mendapatkan hak-haknya dalam menjalani kehidupan. 


Kenyataannya keberadaan HAM hanya diperuntukkan bagi pemegang kekuasaan dalam negara, dan sangat X bagi pejuang yang mengemban dakwah islam, kenapa?.


Sebab dalam perumusan kebijakan HAM, mereka meniadakan keberadaan Tuhan sebagai pencipta dan pengatur kehidupan,  mereka hidup dalam sistem sekularisme yang jelas tabiatnya adalah memisahkan aturan agama dalam kehidupan.


Aturan agama hanya terpaku pada aktivitas ibadah ruhiyah belaka, seperti shalat, puasa, ibadah haji dan lain-lain. Sementara dalam menjalankan kehidupan siyasah (politik) ekonomi, pendidikan, kesehatan, politik, sosial, dan lain-lain diatur menggunakan akal manusia sebagai pembuat aturan kehidupan. Sehingga menjadi wajar jika banyak muncul rasialisme/rasisme misalnya, karena sebagian manusia menganggap bahwa diri mereka lebih baik daripada manusia lain. Ketiadaan aturan yang pasti (baku) dalam menjalani kehidupan, membuat manusia saling mempertahankan argumennya, sehingga menimbulkan banyak perpecahan dan pada akhirnya menghantarkan mereka sampai ke derajat yang lebih hina daripada derajat segerombolan binatang.


Dunia menjadikan HAM sebagai standar dalam menyelesaikan berbagai persoalan di dunia. Namun bagi seorang muslim, HAM adalah prinsip yang salah, karena menjadikan manusia bebas tanpa aturan, sementara fitrah manusia adalah lemah. 


Penerapan HAM dalam kehidupan akan bertabrakan dengan kepentingan orang lain, sehingga persoalan tak kunjung selesai, bahkan menyimpan bahaya pada masa yang akan datang. 


Hidup di bawah perlindungan dan terjamin keamanannya adalah hak setiap individu yang menjadi kewajiban bagi penguasa selaku pelayan masyarakat. Namun kenyataannya, hidup dalam naungan sistem kapitalisme sekuler, tindak kejahatan semakin marak. 


Sebut saja maraknya berbagai kedzaliman dalam negeri ini. Terjadinya kezaliman adalah keniscayaan dalam sistem kapitalisme karena kapitalisme adalah ideologi buatan manusia yang notabene makhluk yang lemah dan terbatas. Pemimpin dalam kapitalisme yang memiliki mindset sibuk mengejar perolehan kekuasaan, menjadikannya mustahil untuk tulus mengurus persoalan kemanusiaan.


Masih percaya HAM?


Inilah sistem kapitalisme sekuler, hukum yang dibuat oleh pemikiran manusia yang terbatas terbukti cacat dan gagal mewujudkan harapan menciptakan hukuman yang menjerakan dan mencegah kejahatan.


Sangat berbeda jauh jika aturan yang dipakai adalah Islam. Islam menanamkan prinsip bahwa manusia terbaik adalah yang paling bertakwa kepada Allah. Tidak ada standar ganda dalam hukum perbuatan, karena mereka meyakini bahwa Allah bukan sekadar Pencipta tetapi juga Pengatur, sehingga setiap umat muslim harus mau terikat dengan aturan ini yakni terikat dengan hukum syara'. 


Allah SWT berfirman: “Wahai manusia!!! Sungguh, kami telah menciptakan kamu dari seorang lelaki dan seorang perempuan, lalu Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.” (TQS. Al-Hujarat : 13).


Selain itu, penguasa dalam Islam merupakan pengurus urusan umat dan melindungi kehormatan setiap umat baik itu muslim maupun non muslim. Semua akan terjaga seperti kehormatan, keadilan, kenyamanan, kebebasan beragama, dan lain sebagainya. Sebab pemimpin dalam islam paham betul bagaimana kewajiban menjaga seluruh jiwa raga umat dan sadar akan dimintai pertanggung jawaban kelak di akhirat.


Sebagaimana sabda Rasulullah Saw "Imam adalah pengurus dan ia bertanggung jawab terhadap seluruh umat yang diurusinya." HR.Muslim dan Ahmad).


Dalam hadis Rasulullah Saw. jelas penguasa berkewajiban melayani dan memberikan hak-hak rakyat seperti dalam menjalani kehidupan yang layak, yakni hak nyawa, harta, pendidikan, kesehatan, dan memudahkan rakyatnya dalam bekerja dengan menyiapkam lapangan kerja untuk para pencari nafkah sehingga mampu memberikan kesejahterahan bagi seluruh keluarga, setiap kepala keluarga maupun orang-orang yang layak bekerja untuk keluarganya. 


Sehingga tidak akan ada perselisihan antar manusia karena ketidakjelasan standar perbuatan mereka. Hanya dengan sistem Islam, berbagai kezaliman yang ada, akan dapat diselesaikan, dan tidak akan ditemukan penguasa yang menutupi kebijakan penuntasan pelanggaran HAM.


Islam akan menetapkan semua perbuatan terikat hukum syara. Dan dengan penerapan Islam secara kaffah hak dasar manusia akan terpenuhi begitu juga terpenuhinya maqasid syariah sehingga manusia dapat hidup tenang. 


Wallahu'alam bishowab

Post a Comment

Previous Post Next Post