Marak Bunuh Diri pada Anak, Problem Serius Generasi


Oleh: Hartati, S.Pdi


Kasus bunuh diri kian marak di kalangan pemuda dan anak-anak. Hal tersebut tidak bisa dianggap remeh. Setiap elemen harus memberikan perhatian khusus terhadap kasus ini.


Baru-baru ini terjadi peristiwa bunuh diri yang dilakukan oleh seorang anak yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar yang berusia 10 tahun. Kepolisian Resor Pekalongan, Jawa Tengah memastikan penyebab kasus meninggal dunia seorang anak sekolah dasar berinisial K (10) di Kecamatan Doro karena bunuh diri setelah telepon genggam milik korban disita oleh orang tuanya (antaranews.com, 23/11/2023).


Peristiwa memilukan seperti ini ternyata bukan hanya sekali. Deputi bidang Perlindungan Khusus Anak kemenPPPA, Nahar mengungkapkan bahwa sepanjang tahun 2023 tercatat ada 20 kasus bunuh diri anak. Penyebabnya beragam, mulai dari perundungan, percintaan, hingga masalah dengan orang terdekat (keluarga) (rri.co.id, 10/11/2023).


Pada bulan Oktober ini sudah ada 4 kasus mahasiswa yang diduga bunuh diri. Kasus terakhir terjadi pada mahasiswa Universitas Dian Nuswantoro pada rabu malam 11 oktober 2023. Korban yang berusia 24 tahun diduga melakukan bunuh diri lantaran masalah pekerjaan dan pinjaman online atau pinjol (tempk.co, 12/10/2023). 


Faktor terbesar penyebab terjadinya kasus bunuh diri adalah depresi, gangguan kejiwaan yang muncul akibat adanya tekanan. Ketidakmampuan seseorang menghadapi tekanan tersebut membuat akalnya tidak mampu berpikir jernih. Mereka berani melakukan tindakan yang tidak masuk akal yang dianggap mampu mengurangi depresi, seperti melukai diri sendiri bahkan bunuh diri.


Tingginya kasus bunuh diri yang menimpa pemuda hari ini menggambarkan rapuhnya mental generasi. Generasi hari ini cenderung mengambil jalan pintas dan instan dalam menyelesaikan persoalan hidup yang menimpanya tak terkecuali bunuh diri. Mereka telah menjelma menjadi generasi yang mudah menyerah hingga mudah memutuskan untuk mengakhiri hidup.


Tidak bisa dipungkiri bahwa generasi hari ini sedang dihadapkan pada serangan pemikiran barat yang akhirnya membentuk mereka memiliki cara pandang hidup kapitalisme liberal. kapitalisme telah meletakkan standar kebahagiaan hidup tertinggi pada segala hal yang bersifat materi, seperti harta, ketenaran, kedudukan, dan sejenisnya. Alhasil generasi berlomba-lomba mengejar semua itu dengan berbagai cara dan saat mereka gagal mendapatkannya depresi pun tak terhindarkan.


Tak hanya itu, kapitalisme yang lahir dari asas sekulerisme atau paham yang memisahkan urusan agama dari urusan kehidupan sehari-hari telah menjadikan generasi kehilangan jati dirinya sebagai hamba Allah. Mereka menjalani hidup sesuka hati mengikuti hawa nafsunya. Standar halal haram pun tidak ada lagi dalam kamus hidup mereka.


Ketika mereka dihadapkan pada persoalan hidup, mereka mempertimbangkannya tanpa dikaitkan dengan pemahaman hidup yang benar. 

Padahal solusi persoalan kehidupan manusia hanya ada pada aturan Islam yang berasal dari pencipta manusia, yaitu Allah Swt. Negara sebagai penanggung jawab urusan umat gagal mengarahkan dan membentuk jati diri yang benar pada generasi. Negara justru mengusung dan menerapkan kurikulum pendidikan yang berasas kapitalisme sekularisme. Hal ini tentu semakin menjauhkan generasi dari cara pandang yang benar tentang hidup.


Parahnya lagi, masyarakat yang sudah teracuni mindset ala kapitalisme niscaya akan semakin merusak generasi. Oleh karena itu, penerapan sistem kapitalisme hanya akan memperpanjang persoalan bunuh diri yang marak di kalangan Pemuda.


Solusi tuntas atas persoalan ini hanyalah dengan menerapkan sistem Islam yang shohih dan solutif. Sebab  berasal dari sang pencipta manusia, Allah Swt. Islam telah menempatkan negara sebagai salah satu penanggung jawab terbentuknya generasi unggul dan berkepribadian Islam.


Oleh karena itu negara wajib mengkondisikan individu dan masyarakat agar memiliki mindset yang benar tentang hidup. Setiap warga negara khilafah akan dibina untuk memahami jati dirinya sebagai hamba Allah, sehingga ia akan selalu berusaha untuk taat dan menjauhi maksiat.


Sejak dini masyarakat akan dipahamkan konsep ujian atau problematika kehidupan yang pasti akan terjadi pada setiap manusia. Masyarakat juga akan dipahamkan bahwa bersamaan dengan ujian Allah akan memberikan manusia kemampuan untuk menyelesaikannya. 


Maka, ketika generasi ditimpa masalah mereka akan fokus untuk berupaya menyelesaikan masalahnya sesuai dengan syariat Islam. Masalah yang muncul pada generasi pun sejatinya tidak akan lahir dari problem sistemik sebagaimana dalam sistem kapitalisme. 


Sebab masyarakat dalam Khilafah akan hidup dalam suasana Islami. Dimana mereka berlomba-lomba dalam mengerjakan amal shalih bukan berlomba-lomba dalam mengejar materi dan kesenangan duniawi. Mereka akan terbiasa melakukan aktivitas amar ma'ruf nahi mungkar sehingga pemahaman Islam dalam diri umat termasuk generasi akan semakin menancap kuat. Generasi yang memahami cara menyelesaikan persoalan hidupnya juga didukung oleh sistem pendidikan Islam yang diterapkan khilafah.


Tujuan pendidikan berasaskan akidah Islam adalah menciptakan generasi berkepribadian Islam yang menguasai tsaqofah Islam dan IPTEK. Maka wajar khilafah mampu melahirkan generasi-generasi yang tangguh bukan generasi-generasi yang rapuh dan mudah menyerah.


Khilafah memfasilitasi generasinya untuk menuntut ilmu selain memberikan pendidikan gratis dan berkualitas, khilafah juga menyiapkan orang tua untuk memiliki kemampuan mendidik generasi dengan cara dan tujuan yang benar. Sungguh hanya Khilafah yang mampu mencetak generasi tangguh dan membangun peradaban gemilang.


Wallahu'alam.

Post a Comment

Previous Post Next Post