Mahasiswa Krisis Peran


Oleh: Rahmatul Aini S.Sos

(Aktivis Dakwah & penulis) 


Beberapa hari terakhir isu pengungsi Rohingya terus di angkat di media sosial, bahkan sampai menembus ranah pemerintah. Banyak pro kontra atas datang nya sejumlah pengungsi Rohingya mulai dari kalangan masyarakat, influenser, tokoh agama, bahkan mahasiswa. 


Baru-baru ini beredar sebuah video sejumlah mahasiswa mendemo secara langsung ke kamp pengungsi Rohingya. Bahkan mahasiswa Aceh tersebut disorot media asing lantaran mendemo pengungsi Rohingya yang datang ke provinsi mereka. Demo itu terjadi pada Rabu kemarin (27/12). Para mahasiswa Aceh itu juga dilaporkan menendang barang milik para pengungsi Rohingya yang menangis di lantai. Foto-foto para mahasiswa Aceh memakai almamater itu juga difoto media-media internasional. Insiden itu membuat para pengungsi Rohingya stok dan trauma kata UNHCR. Pihak UNHCR berkata ada 137 pengungsi yang akhirnya di pindahkan. (Liputan6. com)


Padahal kondisi saat itu banyak di antara pengungsi anak-anak dan wanita yang sedang kurang sehat. Kata dr. MN Ardi Santoso S.PA. M. Kes beliau yang terjun melihat kondisi lapangan secara langsung. 


Memalukan! Hal rendah dan tak beradab ini Justru dilakukan oleh mahasiswa bergelar intelektual, bicara Rohingya bukan masalah perihal agama saja tapi juga bicara kemanusiaan. Tentu saja hal ini mencoreng nama dan lebel mahasiswa. Karena seharusnya mereka menjadi "agen of change" tonggak sebuah peradaban, di tengah isu yang simpang siur tentang Rohingya seharusnya mahasiswa hadir sebagai garda terdepan untuk bisa meredam atas kisruh masalah tersebut, namun sayang aksi yang sangat biadab itu ternyata tercermin pada mahasiswa.


Katanya mereka sebagai (agen) yang akan melindungi hak tanah air bangsa, menjadi suara-suara masyarakat, menjadi orang yang tak pernah dibeli oleh kepentingan elit konglomerat, hidup mereka didedikasikan sepenuhnya untuk masyarakat. Lalu dimana mereka ketika konflik agraria terus menerus dialami oleh masyarakat Indonesia? kemana suara mereka, kemana semangat mereka yang membara, adakah mereka justru sudah terbeli oleh korporat? Jika permasalahan Rohingya begitu diseriusi dan di berengus sedemikian getolnya karena ketakutan mereka akan tanah air yang jatuh ke tangan Rohingya, mengapa tak melakukan tindakan yang sama dengan masyarakat pribumi yang hak nya dirampas dan dimakan oleh oligarki, apakah kepentingan masyarakat sudah tak menjadi persoalan utama mereka? Jika semua mahasiswa bermental pengecut, krisis peran, mudah terbeli seperti sekarang ini, sungguh bukan Rohingya yang kami tangisi tapi kami menangisi mereka-mereka yang sudah tidak memiliki moral, budi pekerti, menjadi role model buruk bagi generasi berikutnya, kami menangisi terkikis nya jiwa kepedulian terhadap sesama manusia, kami menangisi tujuan mereka yang kian meredup. Dalam sistem hari ini mahasiswa di cetak menjadi alat kepentingan para oligarki, potensi mereka di setir, tugas kuliah yang terus makin menumpuk menjauhkan mereka akan esensi tupoksi sebagai mahasiswa, pemikiran mereka makin jumud dengan berbagai macam tekanan dalam hidup, jika sudah seperti ini apalagi yang masyarakat harapkan dari mereka? 


Ngerinya sistem demokrasi mendesain para intelektual menjadi mahasiswa bermental lemah, mahasiswa yang krisis peran, mahasiswa study oriented namun apatis terhadap masalah disekitar. Inilah kecacatan demokrasi yang tidak akan pernah mampu menghasilkan output generasi yang bermutu dan berkualitas, menjadi generasi yang akan mengedepankan hak-hak rakyat menebar manfaat bagi ummat. Tak cukup mengganti presiden sebagai jalan satu-satunya untuk mengatasi problem ini tapi yang kita butuhkan adalah mengganti sistem yang rusak ini dengan sistem benar yakni hadirnya institusi daulah islam yang akan mampu menghasilkan output generasi yang berkualitas menjadi mutiara ummat, dan menjadi estafet kepemimpinan ummat. 


Wallahu alam

Post a Comment

Previous Post Next Post