Ilusi Kapitalisme dalam Wujudkan Zero Stunting

Oleh Hasna Fauziyyah K

Pegawai Swasta


Statistik PBB mencatat, lebih dari 149 juta (22%) balita di seluruh dunia mengalami stunting, dimana 6,3 juta balita stunting adalah balita Indonesia. Menurut UNICEF, stunting disebabkan anak kekurangan gizi dalam dua tahun terakhir, ibu kekurangan nutrisi saat kehamilan, dan sanitasi yang buruk. 


Saat ini, prevalensi stunting di Indonesia adalah 21,6 %, sementara target yang ingin dicapai adalah 14% pada tahun 2024. Untuk itu, diperlukan upaya bersama untuk mencapai target yang telah ditetapkan, salah satunya dimulai dari unit terkecil dalam masyarakat, yakni keluarga. Kominfo.go.id


Untuk menyelesaikan kasus ini, menurut Budi Gunadi Sadikin ada tiga upaya pencegahan yang dilakukan Kementrian Kesehatan untuk mencegah stunting di Indonesia, pertama adalah pemberian TTD bagi para remaja putri, kedua pemeriksaan kehamilan dan pemberian makanan tambahan pada ibu hamil, dan ketiga adalah dengan pemberian makanan tambahan berupa protein hewani pada anak usia 6-24 bulan. 

Anggota komisi IX DPR RI, Rahmad Handoyo menyoroti penanganan masalah stunting di Indonesia belum optimal. Menurut Rahmad, program makanan tambahan untuk mencegah stunting di Depok, Jawa Barat yang sempat menjadi sorotan karena temuan makanan di bawah standar. 


Sementara guru besar fakultas kesehatan masyarakat Universitas Indonesia, Hasbullah Thabrany mengungkapkan adanya indikasi penyelewengan dana penanganan stunting di tingkat daerah. Sebelumnya pemerintah juga mencatat bahwa dana stunting di suatu daerah ada yang digunakan untuk kepentingan rapat dan perjalanan dinas.


Kasus stunting pada anak-anak bukan sekedar masalah gizi yang tidak mencukupi, namun bagaimana keluarga mampu memenuhi kebutuhan gizinya. Kemampuan ini berkaitan erat dengan kondisi perekonomian keluarga. Sementara pada faktanya banyak keluarga yang terjebak dalam kemiskinan ekstrem. Jangankan berfikir untuk masalah gizi, untuk sekedar makan layak saja, banyak keluarga yang tidak mampu.


Kemiskinan ekstrem terjadi karena kemiskinan sistemik akibat penerapan sistem kapitalisme. Kapitalisme memposisikan negara sebagai regulator yang abai terhadap kebutuhan rakyat. Kapitalisme juga menghasilkan penguasa berperangai buruk dan picik yang memanfaatkan kedudukannya untuk memperkaya diri. Alhasil, penguasa akan setengah hati mengurus rakyat. 


Di sisi lain, prinsip kebebasan kepemilikan kapitalisme membuat pemilik modal mudah menguasai sumber daya alam, padahal kekayaan itu adalah harta yang seharusnya digunakan untuk mengurus rakyat, seperti menyediakan layanan kesehatan gratis, menyediakan lapangan pekerjaan, dan lain-lain.


Berbeda jika yang menerapkannya adalah negara Islam, yakni Daulah Khilafah Islamiyah. Khilafah, bukan negara abai seperti negara kapitalisme, namun adalah negara yang meriayah (mengurus). Karena itu khilafah akan mengurus rakyat dengan optimal dengan upaya terbaik. Jika ada masalah yang menimpa keluarganya, khilafah akan berupaya dengan keras untuk menyelesaikannya dengan tuntas.


Untuk mengatasi kasus stunting misalnya,  khilafah akan memastikan setiap anak, yaitu individu per individu terjamin kebutuhan gizinya, dimulai dari keluarga. Khilafah akan memastikan setiap kepala keluarga mendapatkan pekerjaan, sehingga mereka bisa memberi nafkah kepada keluarga mereka dengan cara yang makruf.


Lapangan pekerjaan di dalam khilafah terbuka luas dan mudah diperoleh. Dengan bekerjanya seorang ayah, sebuah keluarga telah memiliki kemampuan daya beli barang dan jasa. Selanjutnya khilafah akan memastikan bahan pangan mampu dijangkau oleh daya beli masyarakat. Khilafah akan menghilangkan distorsi pasar (penimbunan, mafia pangan, kartel dan sejenisnya). 


Dengan demikian, anak telah tercukupi gizinya dari dalam keluarga. Di sisi lain, khilafah akan menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan secara gratis. Karena dalam Islam, kesehatan merupakan salah satu kebutuhan dasar publik yang mutlak harus ditanggung oleh negara, bukan sektor komersial seperti dalam sistem kapitalisme saat ini. 


Semua warga khilafah, baik miskin atau kaya, muslim atau nonmuslim mereka akan mendapatkan pelayanan yang sama, sehingga para ibu mudah memeriksakan kondisi kesehatan anak-anak mereka, termasuk konsultasi gizi. Para ibu juga akan mudah mendapatkan edukasi dari dokter anak bagaimana merawat dan memenuhi kebutuhan gizi anak. Inilah solusi tuntas dari kasus stunting dari kaca mata khilafah. Oleh karena itu, berjuang untuk menegakkan kembali khilafah adalah sebuah keniscayaan yang harus segera dilakukan, karena khilafah yang akan menuntaskan seluruh permasalahan negeri ini termasuk masalah stunting.


Wallahu a'lam bishshawab

Post a Comment

Previous Post Next Post