Hari Anti Korupsi Sedunia dan Ilusi Pemberantasan Korupsi



Oleh. Nasywa Adzkiya 

(Aktivis Muslimah Banua) 


Setiap tanggal 9 Desember diperingati sebagai Hari Anti Korupsi Sedunia (Hakordia) termasuk Indonesia. Berharap tikus-tikus berdasi hilang dari muka bumi. Berbagai upaya dilakukan untuk memberantas mereka. Namun, alih-alih musnah, tikus berdasi itu justru semakin merajalela.


Pemerintah Indonesia memperingati Hakordia tahun 2023 di Provinsi Kalimantan Barat pada Kamis 7 Desember 2023 di Aston Pontianak Hotel & Convention Center dengan mengusung tema “Sinergi Berantas Korupsi, Untuk Indonesia Maju”, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ingin melibatkan peran masyarakat dan parsitipasi mereka untuk meningkatkan kesadaran dalam memberantas korupsi, sehingga masyarakat dapat menjadi aktor utama dengan terus menumbuhkan inisiatif dan rasa kepemilikan masyarakat dalam pemberantasan korupsi.(bpkp.go, 08/12/2023)


Namun, ironisnya penyelanggaran Hakordia bersamaan dengan ditetapkannya Firli Bahuri Ketua KPK nonaktif sebagai tersangka korupsi. Fakta ini tentu sangat memilukan. Apalagi korupsi ini dilakukan oleh pejabat-pejabat tinggi di negeri ini. 


Sebagaimana melansir dari laman kompas (23/11/2023), Firli Bahuri Ketua KPK yang saat ini menjabat, menjadi tersangka kasus dugaan korupsi termasuk pemerasan terhadap Syahrul Yasin Limpo. Penetapan tersangka diumumkan Polda Metro Jaya, Rabu (22/11) malam. Sebelum ditetapkan sebagai tersangka, Firli sudah dua kali diperiksa sebagai saksi. Dia diperiksa sebagai saksi 24 Oktober dan 16 November 2023 lalu. Selain itu, dalam perjalanan penyidikan, tim penyidik telah memeriksa 91 orang saksi dan tujuh orang ahli. 


Budaya korupsi di Indonesia


Sebagai masyarakat Indonesia tentu sudah menjadi rahasia umum bahwa korupsi telah membudaya di negeri ini. Dari instansi tinggi hingga kecil sekalipun budaya korupsi acap kali terjadi. Seolah korupsi menjadi hal yang wajar di negeri ini. Seperti kasus korupsi yang dilakukan oleh ketua KPK bukanlah kali ini saja terjadi. Sebelumnya  ada Antasari Azhar (2009) dan Abraham Samad (2015) yang juga ketua KPK terjerat kasus korupsi. Bagaimana mungkin lembaga tinggi yang bertugas memberantas korupsi justru melakukan korupsi itu sendiri. Lantas apa lagi yang bisa kita harapkan?


Akar Masalah Korupsi


Mencermati hal ini, persoalan korupsi bukanlah hanya karena perkara individu. Namun jika kita menelaah lebih jauh sebenarnya korupsi telah menggurita di negeri ini. Ini menunjukan bahwa korupsi telah menjadi persoalan yang sistemis. Selain faktor individu, sistem kapitalis sekuler yang diterapkan di negeri ini menjadi faktor penting mengguritanya budaya korupsi. 


Sekularisme telah menjadikan individu kehilangan nilai-nilai takwa. Akibatnya tidak ada kontrol yang dimiliki oleh individu di negeri ini. Sehingga nilai halal dan haram tidak lagi menjadi acuan. Melainkan jika ada keuntungan dan kesempatan maka dilakukan. Sebab dalam sistem kapitalis sekuler hari ini telah menjauhkan manusia dari keimanan kepada Allah. Padahal sifat-sifat tersebut terbentuk jika seseorang memiliki keimanan yang kokoh kepada Allah Swt. Jika negara tidak mampu mengkondisikan keimanan masyarakatnya, alhasil yang terjadi adalah berbagai kerusakan termasuk maraknya kasus korupsi. 


Berantas Tuntas Korupsi dengan Syariah Islam


Selama sistem yang digunakan bukanlah sistem yang berorientasi kepada akidah Islam, maka upaya yang dilakukan termasuk melibatkan kesadaran masyarakat untuk memberantas korupsi seperti jauh panggang dari api. Karena justru sistem sekuler kapitalistik hari ini lah yang menjadikan korupsi seperti lingkaran setan. 


Islam adalah agama yang memiliki seperangkat aturan yang paripurna untuk manusia. Di dalam Islam akidah umat akan terjaga. Syariah Islam akan mengondisikan umat  agar menjauhi kemaksiatan termasuk dalam hal ini korupsi. Dalam Islam korupsi termasuk perbuatan yang melanggar syariat, ia sama saja dengan mencuri. Oleh sebab itu negara di dalam Islam akan menjaga akidah umat sehingga umat takut akan berbuat dosa. Dengan begitu akan terbentuk masyarakat yang memiliki ketaqwaan dan beriman kepada Allah Swt.  


Dalam Islam negara akan membuat sistem pemerintahan yang tidak rentan akan korupsi. Tidak seperti sistem hari ini yang berbelit-belit sehingga membuka peluang terjadinya kasus korupsi. Pengurusan urusan umat akan dimudahkan. Negara berorientasi pada kebutuhan rakyat. Seandainya masih ada yang melakukan tindakan korupsi maka negara akan memberikan sanksi tegas terhadap pelakunya. Konsep sanksi dalam Islam yang tegas tentu akan membuat jera pelakunya. Sangat berbeda dengan sistem hari ini yang mana para pelaku korupsi bisa bersenang-senang di dalam tahanan.


Oleh karena itu pemberantasan korupsi tidak akan bisa tuntas dilakukan jika masih berharap pada sistem hari ini. Korupsi di negeri ini bisa diselesaikan dengan tuntas hanyalah jika kita kembali kepada syariah Islam kafah.


 Wallahu a'lam bishawab

Post a Comment

Previous Post Next Post