Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan, Hanya Seremonial Semata?

 



Oleh. Aisyah Abdullah 

(Pegiat Literasi)


Kaum perempuan hampir di seluruh dunia selalu menjadi kaum yang tertindas, terzalimi dan dianggap kaum nomor dua. Hal ini memicu para perempuan bangkit untuk mempertahankan diri. Mereka memunculkan banyak gerakan untuk membela hak-haknya sebagai manusia dan sebagai perempuan.


Hari anti kekerasan terhadap perempuan 2023 merupakan hari penting yang diperingati secara global termasuk di Indonesia. Ini merupakan sebuah kampanye yang diselenggarakan selama 16 hari. Gerakan HAKTP bertujuan untuk mencegah dan menghapus kekerasan terhadap anak-anak perempuan maupun perempuan dewasa. (Tirto, 23/11/23).


Memang sangat memprihatinkan kasus kekerasan yang terjadi terhadap perempuan saat ini. Namun bukankah setiap tahunnya kampanye anti kekerasan terhadap perempuan diselenggarakan?

Tapi mengapa seolah-olah tidak mengurangi kekerasan yang dialami perempuan. Namun justru semakin meningkat.


Dari data Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), kasus kekerasan terhadap perempuan mengalami peningkatan. Mereka mencatat laporan kekerasan ada 2,5 juta kekerasan berbasis gender yang diterima selama 21 tahun 484,993 salah satunya kekerasan terhadap istri.(Kompas, 20/06/23).

 

Kemen-PPPA pada periode 1 Januari sampai  27 September 2023 mencapai  17.347 kasus kekerasan seksual terhadap perempuan. (Databoks)


Ini menunjukkan bahwa peringatan anti kekerasan terhadap perempuan hanya seremonial belaka. Sebab tidak memiliki langkah nyata untuk mengupas tuntas problem kekerasan yang di alami perempuan. Maka kampanye bukanlah solusi tepat karena tidak mampu menyasar sampai ke akar-akarnya. 


 Sistem Kapitalisme Memandang Perempuan


Kita bisa melihat hampir seluruh dunia termasuk Indonesia sendiri, saat ini mengadopsi sistem kapitalis sekuler liberal yang mana  dalam sistem ini perempuan dipandang sebagai objek komoditas karena perempuan dianggap sebagai barang dan jasa yang bisa diperjual belikan untuk menghasilkan cuan (materi).  Selain itu perempuan dianggap berdaya dan berharga tatkala mampu menghasilkan materi seperti penopang ekonomi keluarga bahkan negara.


Dengan kecantikan fisik yang dimiliki untuk bisa dieksploitasi atau berdiri di atas kaki sendiri tanpa bergantung pada siapa pun. Tolok ukur demikianlah semakin leluasa untuk berperilaku tanpa memperhatikan rambu-rambu yaitu halal haram. 


Dan negara yang berasaskan kapitalisme juga mendukung pemberdayaan perempuan, tidak menjamin hak-hak mereka dan berlepas tangan dari mengurus urusan rakyat.


Walhasil berbagai macam kekerasan terjadi baik diranah domestik karena masalah ekonomi atau pun di ranah publik dan lain-lain.


Perempuan dalam Pandangan Sistem Islam


Dalam Islam perempuan dipandang sebagai kehormatan yang harus dijaga dan kaum yang dimuliakan. Sebagaimana Rasulullah bersabda " Aku wasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik kepada para perempuan." (HR. Muslim).


Dalam hadis lain disebutkan" Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap terhadap istrinya, dan aku adalah yang paling baik terhadap istriku." (HR. Tirmidzi).

 

Maka terlihat jelas bahwa Islam memperlakukan kaum perempuan dengan benar sesuai dengan fitrahnya menjaga, menyayangi, melindungi dan berbuat baik kepada mereka.


Tidak ada diskriminalisasi yang mengharuskan mereka memperjuangkan hak-haknya sebagai wanita dalam sistem kapitalisme. 


Sebab dalam Islam tolok ukur kemuliaan bukan pada gender, kekayaan, paras, derajat sosial, dan lainnya. Melainkan di ukur dari ketakwaannya. Hal ini berlaku bagi laki-laki maupun perempuan.


Fitrah seorang perempuan adalah ibu bagi anak-anaknya dan pengatur rumah tangga. Perempuan terkategori mulia tatkala mampu menunaikan tugas tersebut seoptimal mungkin.


Islam menetapkan perempuan tidak wajib bekerja karena nafkah mereka dibebankan kepada wali mereka. Agar tugas mereka sebagai ibu dan pengatur rumah tangga bisa terlaksana sebaik mungkin. Seandainya perempuan ingin bekerja dorongan mereka bukan karena lifestyle ekonomi atau kesetaraan namun karena ingin mengamalkan ilmu mereka agar bermanfaat bagu kemuliaan Islam dan kaum muslim.


Jika masih ada pihak yang berbuat kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan maka negara kan menetapkan sistem sanksi Islam uqubat kepada pelaku. Sanksi berlaku untuk memberi efek jera dan memberikan perlindungan kepada masyarakat. 


Maka hanya dengan penerapan sistem Islam secara kafah perempuan bisa terlindungi, dimuliakan dan dihargai. Maka masih logis kah jika kita berharap pada slogan kampanye ala Barat? Apalagi dalam sistem kapitalis kemuliaan, kehormatan perempuan hanyalah sebuah mimpi belaka.


Wallahu a'lam bishawab

Post a Comment

Previous Post Next Post