HAM Sebagai Solusi Persoalan Dunia, Hanyalah Ilusi?


Oleh: Siti Aminah, S. Pd 
(Pegiat Literasi Lainea)


Hak Asasi Manusia (HAM) diperingati setiap tanggal 10 Desember dan dijadikan acuan atau sebagai salah satu solusi untuk menyelesaikan berbagai problematika kehidupan dunia hari ini. Setidaknya HAM memiliki empat kebebasan yaitu kebebasan berpendapat, berekspresi, berkepemilikan, dan beragama. Namun dibalik empat kebebasan tersebut, tidak memiliki nilai sama sekali jika kita melihat saudara-saudara kita di Palestina.


Mungkin terlalu jauh kita mengambil contoh Palestina, di negeri kita saja sangat terlihat bahwa HAM tidak mampu menyelesaikan persoalan bangsa. Terbukti dari para peneliti tentang HAM bahwa skor indeks masih kurang atau lemah dalam penerapannya.


Sebagaimana yang dilansir oleh CNN Indonesia (10/11/2023), Setara Institute bersama International NGO Forum on Indonesia Development (INFID) mengungkap skor indeks Hak Asasi Manusia (HAM) Indonesia 2023 mengalami penurunan menjadi 3,2 dari sebelumnya 3,3. Lebih lanjut, Setara mengungkap Presiden Joko Widodo memiliki kinerja paling buruk dalam melindungi dan memenuhi hak warga atas tanah dan kebebasan berpendapat.


Dari data di atas, menunjukkan bahwa HAM ini tidak berlaku untuk rakyat yang memiliki ekonomi di bawah standar, atau orang-orang yang tidak memiliki kekuasaan. Menyuarakan tanah-tanah mereka yang dirampas oleh para korporat, malah dibiarkan. Kebebasan berpendapat tersandera, dan masih banyak lagi yang belum terpenuhi hak-hak asasi rakyat. Sebaliknya jika orang-orang yang banyak modal dan memiliki kekuasaan, maka mereka dengan mudah mendapatkan keinginannya atau terpenuhi hak mereka.


Artinya bahwa para pelopor HAM lemah terhadap rakyat kecil yang tidak punya kuasa dan keras bersuara terhadap para kapitalis. Inilah sejatinya sistem hari ini. Sistem yang diterapkan hanya untuk para pemilik modal. Para penguasa dan pengusaha berkolaborasi untuk mendapatkan apa saja yang mereka inginkan. Sistem ini adalah sistem kapitalisme sekular. Jika melanggar sistem sekular maka HAM akan dijunjung tinggi. Sementara jika mengacu pada kepentingan rakyat, maka HAM tidak dipakai. Lihat saja kondisi Palestina hari ini. Di mana para pelopor HAM hanya berdiam diri, malah membantu para penjajah. Siapa lagi jika bukan negara Amerika Serikat, mereka adalah pencetus HAM namun mereka pulalah paling banyak melanggar HAM.


Maka salah besar jika dunia menjadikan HAM sebagai standar dalam menyelesaikan bebrbagai problematika kehidupan hari ini. Karena hak hidup, hak ingin memiliki, hak berpendapat, atau hak-hak yang lain yang ingin dicapai oleh manusia tidak seindah yang dibayangkan. Bahkan bisa dikatakan bahwa HAM sebagai solusi persoalan dunia itu hanyalah ilusi. Semua tersandera oleh sistem yang diterapkan.


HAM juga tidak ada batasan halal haram. Terkadang memaksakan kehendak demi tercapainya keinginan mereka. Meski itu salah tetap saja mengatakan bahwa ini adalah hak saya. Akhirnya semua aturan Tuhan dilabrak demi tercapainya kepentingan mereka.


Sistem yang sejatinya menggunakan HAM sebagai standar dalam hidupnya otomatis tidak ada kenyamanan hidup. Selalu terjadi perseteruan antara satu dengan yang lainnya. Karena tidak akan mungkin pemikiran seseorang sama dengan yang lain. Jadi kita akan menjumpai selalu ada kekacauan selama prinsip ini dipakai dalam kehidupan.


Pada dasarnya, HAM bertentangan dengan fitrah manusia. Fitrah manusia pasti menginginkan Tuhan ada pada setiap aktivitasnya. Sudah fitrah manusia juga membutuhkan yang lain. Dia tidak bisa berjalan sesuai keinginannya. Dia lemah dan terbatas.


Maka bisa dipastikan bagi seorang muslim, HAM adalah prinsip yang salah, karena menjadikan manusia bebas tanpa aturan, sementara fitrah manusia adalah lemah. Allah SWT yang telah menciptakan manusia, olehnya itu pencipta pulalah yang harus mengaturnya. Bukan sesuai dengan hawa nafsunya.


Islam datang untuk menyempurnakan agama-agama sebelumnya, Islam mengatur seluruh aspek kehidupan. Bukan hanya mengurusi urusan ibadah ritual saja, melainkan mengurusi seluruh urusan manusia. Keterikatan terhadap hukum syariat, menjadikan manusia hidup tenang. Sebaliknya jika berdasarkan standar manusia maka kegelisahan yang didapatkan.


Islam menetapkan semua perbuatan terikat hukum syara. Jika bertentangan dengan syariat maka akan dijatuhkan sanksi, siapapun pelakunya. Dan dengan penerapan Islam secara kaffah hak dasar manusia akan terpenuhi, begitu juga terpenuhinya maqasid syariah sehingga manusia dapat hidup tenang.


Sejarah memberikan bukti ketentraman hidup dalam naungan sistem Islam. Dimana antara Islam, Nasrani, dan Yahudi hidup dalam satu naungan di bawah kepemimpinan Rasulullah Saw tanpa ada perbedaan. Semua mendapatkan hak yang sama, baik sosial, ekonomi, hukum, dan lainnya. Bahkan setelah wafatnya beliau kepemimpinan Islam dilanjutkan oleh para sahabatnya, sampai kekhilafahan Turki Usmani. Selama kurang lebih 14 abad lamanya sistem Islam memimpin peradaban.

Wallahu a'lam bishawab.

Post a Comment

Previous Post Next Post