Refleksi Hari Guru : Patutkah Merayakan Rusaknya Generasi Buah Merdeka Belajar?


Oleh : Salma Hajviani


Setiap tanggal 25 November di negeri kita selalu di peringati sebagai hari guru nasional, hal itu ditetapkan oleh pemerintah Republik Indonesia berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994. Karena pada zaman pendudukan Jepang segala organisasi dan sekolah ditutup sehingga Persatuan Guru Indonesia (PGI) tidak dapat lagi melakukan aktivitas. Namun, semangat proklamasi 17 Agustus 1945 menjadi dasar PGI menggelar Kongres Guru Indonesia pada 24-25 November 1945 di Surakarta (okezone, 24/11/2014).


Didalam kongres ini tepatnya pada 25 November 1945, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) didirikan. Maka sebagai penghormatan kepada para guru, pemerintah menetapkan hari lahir PGRI tersebut sebagai Hari Guru Nasional dan diperingati setiap tahun (okezone, 24/11/2014).


Tahun ini, Hari Guru Nasional 2023 bertemakan “Bergerak Bersama Rayakan Merdeka Belajar".

Dari tema yang disampaikan lewat Pedoman Peringatan Hari Guru Nasional 2023 tersebut, kita dapat melihat kata “Merdeka” yang berkaitan dengan Kurikulum Merdeka. Adapun kurikulum ini dibuat untuk mewujudkan kemunculan SDM Unggul Indonesia yang mempunyai Profil Pelajar Pancasila. Dengan begitu, tema ini dapat dianggap relevan dengan kondisi pendidikan kita sekarang (tirto, 13/11/2023).

 

Namun, tema ini menjadi pertanyaan melihat  mirisnya banyak fenomena yang memprihatinkan tentang generasi muda kita. Pemuda menjadi pelaku kekerasan hingga pembunuhan, pecandu narkoba, pelaku seks bebas, dan banyak yang mengalami masalah kesehatan mental. Di sisi lain, ada pemuda muslim yang merasa insecure dengan identitas agamanya, ada juga yang bangga dengan gaya liberalnya. Terlebih yang paling menonjol saat ini adalah bagaimana gencarnya menggeber kurikulum merdeka yang fokus pada projek penguatan profil pelajar Pancasila. Apakah berhasil menekan angka kekerasan dalam dunia pendidikan? Faktanya malah semakin banyak kasus kekerasan terjadi di dunia pendidikan.


Mengapa kondisi memprihatinkan ini dapat terjadi? Bagaimana cara mengatasinya?


Dunia pendidikan di negeri kita bahkan di negeri-negeri muslim lainnya dilanda krisis yang membuat hati kita miris dan prihatin. Sistem pendidikan sekarang adalah sistem yang diadopsi dari sistem pendidikan Barat yang berasas sekuler, yang mana menjauhkan dari agama. Pada sistem saat ini, tujuan pendidikan untuk menghapal informasi, mendapatkan nilai ujian tinggi, dan ujungnya bisa bekerja ketika lulus nanti. Khas sekali dengan ciri negara sekuler kapitalisme. Yang semuanya dinilai berdasarkan materi dan kemaslahatan yang didapat.


Lantas apakah pemerintah  tidak tahu kalau sistem ini sudah merusak? Pemerintah paham akan hal ini, makanya dilakukan berbagai upaya untuk mengembalikan fungsi pendidikan. Mereka juga paham akan rusaknya moral generasi, makanya dirancang kurikulum yang gonta ganti disesuaikan kebutuhan. Kurikulum satu gagal akan diganti dengan kurikulum baru. Yang harus kita pahami adalah, apa pun bentuk kurikulum yang diterapkan, jika masih menggunakan asas sekuler maka kurikulum tersebut juga bersumber dari bagaimana menjauhkan agama dari kehidupan.


Hal ini menunjukkan kurikulum yang saat ini diterapkan tidak tepat dan bermasalah. Dan ini menegaskan bahwa sistem kapitalis tidak memiliki sistem membangun generasi yang berkualitas.


Berbeda dengan Islam yang memiliki sistem Pendidikan berkualitas menghasilkan generasi yang berkepribadian Islam (syakhsiyyah Islamiyyah). Yaitu cara berpikir dan bersikap sesuai dengan Islam. Generasi yang  faqih fiddin yakni penguasaan terhadap ilmu agama , faqih finnaas yakni terdepan dalam saintek. Kreatif dan inovatif dalam konstruksi teknologi. Serta generasi yang berjiwa pemimpin.


Terdapat 3 pihak yang bertanggungjawab dalam melahirkan generasi islami tersebut. Pertama, keluarga yang menjadi wadah pertama pembentukan generasi islami melalui ayah dan ibu. Kedua, masyarakat yang menjadi lingkungan tempat generasi Islami itu tumbuh dan hidup bersama anggota masyarakat lainnya. Ketiga, Negara sebagai penyelenggara. Dalam Islam negara lah yang berkewajiban untuk mengatur segala aspek yang berkenaan dengan sistem pendidikan yang diterapkan. Bukan hanya persoalan yang berkaitan dengan kurikulum, metode pengajaran dan bahan-bahan ajarnya, tetapi juga mengupayakan agar pendidikan dapat diperoleh rakyat secara mudah. 


Dengan adanya keterpaduan tiga pilar tersebut, Keluarga Masyarakat dan Negara akan menjamin keberhasilan membentuk  generasi yang berkualitas.


Sistem kapitalis sekuler akan melahirkan kehidupan yang liberal (bebas) tanpa aturan dari pencipta alam semesta, yaitu Allah SWT. Aturan yang dihasilkan dalam bidang apa pun akan menyebabkan kerusakan. Sebagaimana kurikulum merdeka adalah produk sistem pendidikan kapitalisme sekuler yang meniadakan wahyu Allah (Al-Qur'an dan As-Sunah) sebagai rujukan dalam membuat kurikulum. Maka wajar kalau kurikulum merdeka ini tidak bertujuan untuk mencetak generasi muslim.


Oleh karena itu, kaum muslim khususnya guru harus mewaspadai bahaya tergerusnya identitas pelajar muslim. Kita semua bertanggung jawab untuk mencetak generasi muslim. Maka mari kita semangat mendakwahkan Islam kaffah agar generasi muslim selamat di dunia akhirat.


Dengan demikian tidak ada pilihan bagi kita kecuali kembali kepada aturan Allah, yaitu Al-Qur'an dan As-Sunah. 


Wallahua'lam bishawab

Post a Comment

Previous Post Next Post