> Miris! Kapitalisme Lahirkan Pelajar Pandai Judi Online - NusantaraNews

Latest News

Miris! Kapitalisme Lahirkan Pelajar Pandai Judi Online



Oleh Tsaqifah Noorhadi A., S.Pd

Mentor Kajian Remaja


Judi (judi) ... meracuni kehidupan ... 

Judi (judi) ... meracuni keimanan ... 


Sepenggal lagu milik Rhoma Irama tersebut tentunya sudah banyak diketahui masyarakat. Isi liriknya pun menggambarkan kebenaran perihal aktifitas judi yang meracuni kehidupan bahkan keimanan. Jika kita telisik fakta perjudian di era modern saat ini, kegiatan perjudian memiliki media dan sarana yang juga berkembang pesat dan semakin merajalela. Tidak hanya orang dewasa yang menjadi pelaku judi, kini kaum pelajar pun tak ketinggalan ikut masuk dalam aktifitas haram tersebut. 


Di wilayah Demak, Jawa Tengah, Persatuan Guru Seluruh Indonesia (PGSI) menemukan dari sekitar 40.000 pelajar dari kalangan SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA yang ada di Demak, 30 persen pelajar (sekitar 12.000 siswa) terdampak gim daring yang berafiliasi dengan judi online, sedangkan yang mengakses judi online sekitar 5 persen (sekitar 2.000 siswa). Sementara itu, data dari Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menyebutkan dari awal 2023 hingga saat ini terdapat Rp200 triliyun terserap dalam judi online dari sekitar 157 juta transaksi (kompas.com, 23/10/2023).


Data tersebut baru dari satu wilayah, jika kita gali lebih dalam dengan minimal memasukan kata kunci "judi online pelajar", akan kita dapati fenomena layaknya gunung es. Sungguh, sangat miris melihat kondisi generasi penerus hari ini.


Pemberantasan yang dilakukan oleh pemerintah nyatanya tidak menjamin domain perjudian itu hilang seutuhnya, karena mereka dapat mengganti domain dengan nama yang baru. Memberantas judi online ini memang membutuhkan kerjasama banyak pihak dan tentunya keseriusan negara dalam menangani kasus ini. Negara tidak boleh kalah dengan individu rakus dan serakah yang ada dibalik munculnya judi online. 


Hanya saja, di dalam sistem demokrasi kapitalis yang hari ini diterapkan rasanya tidak mungkin bisa memberantas secara tuntas judi online di tengah-tengah masyarakat. Tabiat sistem kapitalis yang selalu melihat manfaat dan keuntungan dengan cara apapun, tidak akan bisa menjadi solusi pemberantasan judi.


Berbeda dengan Islam. Dalam Islam, perbuatan judi adalah jelas haram. Keharamannya ini dalam Al-Qur'an disejajarkan dengan haramnya miras dan penyembahan berhala. Sebagaimana firmanNya dalam surat Al-Maidah ayat 90:

"Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.”


Menurut ustazah Yusriana perlu solusi mendasar dan komprehensif dalam mengatasi maraknya judi online di kalangan pelajar. Di antaranya, 1) dibutuhkan peran orang tua dalam mendidik putra putrinya menjadi anak saleh dan salehah, agar tidak terjerumus dalam aktifitas buruk bahkan haram. 2) adanya penerapan sistem pendidikan Islam yang berbasis akidah Islam, sehingga akan menghasilkan pelajar dengan pola pikir dan pola sikap sesuai arahan Islam. 3) peran masyarakat juga sangat dibutuhkan untuk mendukung pelajar yang cinta ilmu dan kebaikan, serta tidak abai terhadap kemaksiatan. 4) terakhir tentunya peran dari negara untuk menerapkan sistem yang akan mendukung terbentuknya kesalehan generasi, dengan kekuasaannya tersebut negara dapat menutup rapat segala akses judi online bagi segenap masyarakat dan pelajar, termasuk berbagai media nonedukatif lainnya.


Sehingga untuk mewujudkan itu semua, tidak mungkin dalam sistem kehidupan hari ini, butuh sistem pengganti yang mampu menjadi solusi ampuh bagi persoalan ini, yakni dengan menerapkan sistem Islam kafah dalam seluruh aspek kehidupan.


Wallahu a'lam bishshawab

NusantaraNews Designed by Templateism.com Copyright © 2014

Theme images by Bim. Powered by Blogger.