HGN: Bergerak Bersama Mewujudkan Generasi Bertakwa


By  : Lisa Agustin

Pengamat Kebijakan Publik


Hari Guru 2023 akan diperingati pada Sabtu (25/10/2023). Peringatannya untuk tahun ini mengusung tema “Bergerak Bersama Rayakan Merdeka Belajar”. Dari tema yang disampaikan lewat Pedoman Peringatan Hari Guru Nasional 2023 tersebut, kita dapat melihat kata “Merdeka” yang berkaitan dengan Kurikulum Merdeka.


Adapun kurikulum ini dibuat untuk mewujudkan kemunculan SDM Unggul Indonesia yang mempunyai Profil Pelajar Pancasila. Dengan begitu, tema ini dapat dianggap relevan dengan kondisi pendidikan kita sekarang. Jika dilihat secara keseluruhan, tema itu mengibaratkan seluruh satuan pendidikan dan siswa-siswinya untuk “Bergerak Bersama” menyemarakkan kurikulum yang berlaku sekarang. (Tirto[dot]id, 13/11/2023)


Tema yang diusung dalam peringatan HGN ini sepertinya tidak relevan, mengingat realitas pendidikan dan generasi muda saat ini sarat berbagai masalah serius, mulai dari kriminalitas, masalah kesehatan mental bahkan hingga tingginya angka bunuh diri. Patutkah merayakan keprihatinan kerusakan generasi sebagai buah dari merdeka belajar? Jawabannya tidak patut!


Berdasarkan data Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusiknas) Kepolisian RI (Polri), ada 971 kasus bunuh diri di Indonesia sepanjang periode Januari hingga 18 Oktober 2023. Kasus terbaru di Bulan Oktober ditemukan 2 orang mahasiswa yang ditemukan tewas diduga bunuh diri. (databoks.katadata[dot]co[dot]id, 18/10/2023)


Tindakan bunuh diri yang diambil oleh seseorang adalah bukti adanya gangguan kesehatan mental serta ketidakmampuannya dalam menyelesaikan masalah hidupnya. Ini juga menjadi bukti bahwa seseorang itu sudah semakin jauh dari pemahaman agama. Apalagi yang melakukan tindakan bunuh diri ini adalah mahasiswa, sungguh mengkhawatirkan kalau hal ini terus dibiarkan.


Tingginya kasus kriminalitas anak, masalah kesehatan mental dan kasus bunuh diri, secara nyata telah menunjukkan pola hidup sekulerisme-kapitalisme di negeri ini. Generasi muda hari ini tidak lagi menggunakan nilai-nilai agama dalam menyelesaikan permasalahan kehidupannya. 


Hal ini menunjukkan kurikulum yang diterapkan saat ini tidak tepat dan bermasalah. Nampaknya perlu dikaji ulang mengingat dampak kerusakannya semakin hari semakin fatal. Dan ini menegaskan sistem Kapitalisme tidak memiliki sistem membangun generasi yang berkualitas, yang mampu menyelesaikan masalah kehidupan pribadi apalagi masalah masyarakat dan negara.


Lantas apakah solusi terbaik untuk memperbaiki kerusakan generasi akibat penerapan sistem pendidikan ala Kapitalisme saat ini? Jawabannya adalah Islam.


Islam sebagai pandangan hidup yang sempurna memiliki sistem pendidikan yang berkualitas. Islam menempatkan pendidikan sebagai komponen penting dalam membangun sebuah negara. Oleh karenanya, perhatian Islam terhadap pendidikan sangatlah serius. Sehingga dibutuhkan keterpaduan tiga pilar dalam keberhasilan membentuk generasi berkualitas.


Pilar pertama adalah ketakwaan individu yang dibangun dalam lingkup keluarga. Keluarga adalah lingkungan pertama lahir dan tumbuhnya generasi. Ibu sebagai sekolah pertama bagi anak-anaknya, harus memiliki pemahaman Islam secara kaffah. Kemudian senantiasa terikat dengan aturan Islam dan menerapkannya di dalam rumah. Sehingga terbentuklah bibit-bibit generasi qurrota a'yun calon pemimpin orang yang bertaqwa (QS. Al Furqon: 74).


Pilar kedua adalah ketakwaan masyarakat. Hal ini akan menguatkan prinsip-prinsip islam yang telah dibangun dalam keluarga. Ketakwaan masyarakat ini sangat dibutuhkan untuk mendorong ketakwaan individu sekaligus mencegah tindakan kemaksiatan individu. Budaya beramar makruf nahi mungkar (dakwah) akan tumbuh subur. Dan tidak akan memberi ruang kebebasan berperilaku dan berpendapat yang bukan berasal dari Islam.


Pilar ketiga adalah ketakwaan negara. Negara merupakan satu-satunya institusi yang memiliki wewenang dan jajaran instansi demi terwujudnya profil generasi berakidah dan berkepribadian Islam. Negara melalui penerapan sistem pendidikan Islam akan menerapkan asas akidah Islam dan membentuk kepribadian Islam kepada seluruh rakyatnya.


Negara akan mengadopsi sistem pendidikan Islam dan kurikulum yang disusun harus berasaskan akidah Islam saja. Tidak ada pemisahan antara agama dan ilmu kehidupan. Dengan paradigma ini, pendidikan berjalan secara berkesinambungan pada seluruh jenjang pendidikan, baik dari perangkat materi pelajaran, metode pembelajaran, strategi belajar, dan evaluasi belajar.


Negara juga akan mengupayakan pembangunan infrastruktur pendidikan yang memadai secara merata, menyediakan fasilitas yang mendukung kegiatan belajar mengajar, seperti gedung-gedung sekolah yang layak, laboratorium, balai-balai penelitian, buku-buku pelajaran, teknologi yang mendukung KBM (Kegiatan Belajar dan Mengajar), dan lain sebagainya.


Semua infrastruktur pendidikan termasuk gaji tenaga pendidiknya akan ditanggung sepenuhnya oleh negara melalui pembiayaan pendidikan yang diambil dari pos-pos pendapatan berdasarkan syariat Islam saja. Misalnya dari pos Baitul mal yang berasal dari fai, kharaj, dan pengelolaan harta kepemilikan umum. Jadi, tidak ada istilah kehabisan dana untuk mencetak generasi berkualitas.


Keunggulan sistem pendidikan Islam secara menyeluruh yaitu terbentuknya profil generasi dan tenaga pendidik yang berkepribadian Islam. Bayangkan jika penerapan sistem ini betul-betul diterapkan oleh negara, kemudian berjalan di lingkungan sekolah, perguruan tinggi, hingga masyarakat, maka akan menghasilkan masyarakat Islami yang khas dan terbiasa beramar makruf nahi mungkar. Tentu suasana iman akan tercipta sehingga tidak akan memunculkan bibit kriminalitas atau gangguan kesehatan mental hingga tindakan bunuh diri.


Keterpaduan tiga pilar inilah yang akan mampu mewujudkan profil generasi berkualitas. Ketakwaan individu, masyarakat dan negara, ketiganya akan lahir dari sudut pandang Islam sebagai ideologi. Bukan sekedar agama ritual belaka.


Dengan begitu tiga pilar ini akan memperhatikan secara rinci setiap hal yang menyangkut pendidikan. Ini karena pendidikan adalah modal dasar dalam membangun peradaban Islam yang tangguh. Oleh karenanya, generasi dan pendidiknya juga haruslah setangguh peradaban Islam yang akan ditegakkan. Tidak ada madrasah atau sekolah darurat guru karena setiap lulusan guru akan bermanfaat dan berguna mencetak manusia unggul, cerdas, dan bertakwa. Wallahu alam.

Post a Comment

Previous Post Next Post