Tradisi Brandu , Potret Buram Kelalain Penguasa?


Tri Lusiana 

(Aktivis Muslimah)


Penularan antraks terhadap puluhan warga Kabupaten Gunung Kidul, DI Yogyakarta jadi buah bibir. Tradisi brandu disebut-sebut sebagai biang kerok masifnya penularan. Penularan antraks sebenarnya bukan barang baru di Gunungkidul. Dalam beberapa tahun terakhir, penularan antraks terus ditemukan di sana.


Kementerian Pertanian menyebut tradisi brandu atau purak jadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko penularan antraks di sana.


Apa sebenarnya tradisi brandu?

Dalam sebuah investigasi oleh Balai Besar Veteriner Wates dan Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul, disebutkan bahwa tradisi brandu merupakan pemotongan sapi dan kambing sakit yang dipotong paksa. Lalu, daging diperjualbelikan ke tetangga dengan harga di bawah standar.


Peneliti menyebut, warga sebenarnya sadar akan risiko antraks dan larangan mengonsumsi ternak yang sakit atau mati mendadak. Namun, hal ini sering diabaikan.

"Tradisi memotong/ menyembelih ternak yang kedapatan mati mendadak oleh peternak pedesaan di negara berkembang (termasuk di Indonesia) sulit dihilangkan, mengingat pada umumnya ternak tidak disembelih di tempat pemotongan resmi (rumah pemotongan hewan)," tulis peneliti.


Ada dugaan tradisi terus berjalan akibat kondisi sosial-ekonomi masyarakat pedesaan. Dari sisi peternak, ada dorongan untuk mempertahankan nilai ekonomi dari ternak yang mati. Dari sisi masyarakat, tradisi ini dianggap sebagai asas gotong royong dan bentuk kepedulian terhadap warga yang mengalami musibah.


Kabid Kesehatan Hewan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Retno Widyastuti mengakui, tradisi brandu membuat kasus antraks terus bermunculan di Gunungkidul.


Pakar kedokteran hewan Universitas Airlangga (UNAIR) Nusdianto Triakso mengatakan bahwa brandu atau purak merupakan kebiasaan yang umum ditemukan di Indonesia.

"Kalau di tempat lain biasa disebut dengan 'dipurak' atau pemotongan dan pembagian daging hewan ternak yang hampir atau sudah mati," kata Nusdianto dalam rilis yang diterima CNNIndonesia.com, Jumat (7/7).


Meski tak semua ternak yang sakit positif antraks, namun kebiasaan mengkonsumsi hewan ternak yang mati adalah pilihan yang salah. Nusdianto menyoroti pentingnya edukasi untuk masyarakat.


Penyebaran antraks yang menggegerkan Gunungkidul pun telah menyita perhatian Kementerian Kesehatan RI. Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes Siti Nadia Tarmizi menyebut, berdasarkan data Kemenkes, terdapat tiga orang yang meninggal karena antraks di Kapanewon Semanu, Gunungkidul.

"Ada tiga yang dilaporkan, tapi masih akan dikonfirmasi ulang karena satu suspek dan dua dengan gejala antraks," kata Siti.


Sampai Rabu (05/07), Kementerian Pertanian mencatat 12 ekor hewan ternak mati – enam sapi dan enam kambing – sementara 85 warga positif antraks berdasarkan hasil tes serologi yang dilakukan Kementerian Kesehatan.


Sungguh miris, tradisi brandu yang dilakukan oleh masyarakat merupakan tradisi yang berbahaya. Pemerintah seharusnya tidak membiarkan tradisi ini berlangsung di tengah masyarakat. Tapi faktanya tradisi ini sudah berlangsung selama berpuluh-puluh tahun, sehingga menunjukkan kurangnya riayah penguasa pada rakyatnya.


Selain itu, brandu merupakan potret kemiskinan yang parah di tengah masyarakat. Juga menggambarkan betapa  rendahnya edukasi kesehatan pangan oleh pemerintah terhadap warga. Keharaman memakan bangkai sudah ada di Al-Qur’an, tetapi hari ini masih ada warga yang makan bangkai, bahkan memperjualbelikannya. 


Bahaya mengonsumsi bangkai terhadap kesehatan juga sudah banyak dibahas di berbagai media. Begitupun edukasi tentang makanan halal dan sehat di tengah masyarakat. Sehingga  pemerintah seharusnya memastikan masyarakat paham akan hal ini.


Bagaimanapun juga, kemiskinan bisa membuat masyarakat gelap mata. Demi bisa makan, apa pun mereka lakukan, meski membahayakan kesehatan. Inilah realitas masyarakat yang miskin, saking miskinnya, sampai bangkai hewan pun dikonsumsi. 


Walhasil, merebaknya antraks berpangkal pada problem kemiskinan. Nyawa masyarakat menjadi korban. Kemiskinan ini bersifat struktural sebagai akibat penerapan sistem ekonomi kapitalisme. Kapitalisme telah menghasilkan penguasaan sumber ekonomi oleh segelintir korporasi. Sehingga kemiskinan di tengah masyarakat tidak kunjung usai. 


Oleh karena itu, penyelesaian kasus antraks  tidak cukup sekadar dari aspek kesehatan, tetapi juga butuh penyelesaian sistemis dengan menanggalkan sistem ekonomi kapitalisme yang melestarikan kemiskinan, kemudian menggantinya dengan sistem yang benar-benar shahih, yaitu penerapan sistem Islam yang terbukti  mampu mengurusi seluruh rakyat. 


Solusi Islam


Dalam Islam sudah sangat jelas bahwa diharamkan bagi umatnya memakan bangkai sebagaimana terdapat dalam QS Al-Maidah ayat 3. Allah Swt. berfirman,


حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ


“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai.” 


Masyarakat dilarang keras mengonsumsi bangkai. Jika ada yang membagikan atau memperjualbelikan daging bangkai, bisa diberikan sanksi tegas. Jika dirasa perlu, pemerintah bisa memberikan santunan pada warga yang hewan ternaknya mati agar tidak ada jual beli bangkai.


Dalam sistem Islam juga akan menerapkan sistem ekonomi Islam yang mewujudkan keadilan ekonomi sehingga harta tidak hanya pada orang-orang kaya saja. Selanjutnya sumber daya alam sebagai kepemilikan umum tidak boleh dikuasai swasta dan akan dikelola oleh negara untuk mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat. Sistem Islam akan memberikan jaminan pemenuhan kebutuhan dasar yaitu sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan, dan keamanan bagi seluruh warganya.


Sistem Islam juga akan memberikan pendidikan gratis hingga perguruan tinggi bagi seluruh rakyat, serta menyelenggarakan pendidikan di luar sekolah, yaitu berupa halakah-halakah di masjid-masjid. Para ulama akan disebar ke seluruh penjuru negeri. Dengan demikian, seluruh rakyat akan teredukasi dengan baik, termasuk dalam hal kesehatan dan kehalalan pangan yang ia konsumsi.


Alhasil negara yang me-riayah rakyatnya secara sempurna akan terwujud dalam Sistem Islam 


Wallahu a’lam Bish-Shawab

Post a Comment

Previous Post Next Post