Kaum Pelangi Makin Unjuk Gigi Dalam Sistem Demokrasi


Oleh: Dwi Lestari


Seperti diketahui, kaum pelangi sebelumnya berencana mengadakan acara ASEAN Queer Advocacy Week pertengahan Juli 2023. Karena banyak menuai pro kontra akhirnya acara ini batal diselenggarakan di Indonesia. Namun yang perlu digaris bawahi adalah bahwa acara ini jelas berbahaya. Pihak penyelenggara mengatakan telah memantau situasi sebelum membatalkan rencana kegiatan di Jakarta. ASEAN Sogie Caucus tidak menyebut di mana pertemuan tersebut akan digelar setelah batal di Jakarta. Namun diketahui, ASEAN SOEGIE berbadan hukum di Filipina.


Semakin kesini mereka terbukti semakin berani menunjukkan eksistensi diri. Mereka hendak merusak generasi kita dengan segala penyimpangan dan kedurhakaannya. Tapi apa daya, dalam demokrasi atas nama hak asasi manusia yang demikian ini adalah salah satu kebebasan berekspresi yang dilegalisasi. Padahal jelas, perilaku semacam ini adalah sebuah penyimpangan yang harus diluruskan, bukan bawaan dari lahir yang bisa dimaklumkan. Penyimpangan ini akan merusak fitrah manusia, menghancurkan sendi-sendi kehidupan masyarakat yang beradab dan bermartabat, karena perilakunya rendahan bahkan lebih rendah daripada hewan sekalipun.


Dalam islam sudah mengatur bagaimana pemenuhan kebutuhan naluri melestarikan keturunan sesuai dengan fitrah manusia. LGBT adalah bentuk pemenuhan yang salah (penyimpangan). Tabiat penciptaan manusia adalah berkembang biak dan tumbuh, lalu bagaimana mungkin hubungan dengan sesama jenis bisa menghasilkan keturunan? Yang ada hanyalah malapetaka. 


Jika kita tengok sejarah kaum terdahalu, perilaku ini sangat berbahaya. Bahkan peradaban akan runtuh oleh perilaku semacam ini sebagaimana kisah Nabi Luth AS yang diabadikan Allah dalam QS. Al Ankabut : 28 - 35. 

28. Dan (ingatlah) ketika Luth berkata kepada kaumnya, "Kamu benar-benar melakukan perbuatan yang sangat keji (homoseksual) yang belum pernah dilakukan oleh seorang pun dari umat-umat sebelum kamu.”


29. Apakah pantas kamu mendatangi laki-laki, menyamun dan mengerjakan kemungkaran di tempat-tempat pertemuanmu?” Maka jawaban kaumnya tidak lain hanya mengatakan, "Datangkanlah kepada kami azab Allah, jika engkau termasuk orang-orang yang benar.”


30. Dia (Luth) berdoa, "Ya Tuhanku, tolonglah aku (dengan menimpakan azab) atas golongan yang berbuat kerusakan itu[6].”


31. Dan ketika utusan Kami (para malaikat) datang kepada Ibrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengatakan, "Sungguh, Kami akan membinasakan penduduk kota (Sodom) ini karena penduduknya sungguh orang-orang zalim.”


Mereka kaum sodom, kaum Nabi Luth AS telah melakukan penyimpangan seksual secara terang-terangan. Sebagaimana dikutip dari 'Asy Syudhudh fi Al Umam As Sabiqah', "bahkan mereka menganggapnya sebagai sebuah hak dan kebebasan. Mereka tak malu dan khawatir jika penyimpangan ini terlihat." 


Sebagaimana yang terjadi saat ini, kaum sodom abad 21 (kaum pelangi) bahkan punya bendera sendiri, pertemuan-pertemuan internasional dan simbol-simbol yang ingin diakui.


Pada akhirnya kaum sodom begitu mengenaskan, sebagaimana Allah berfirman, "Maka ketika keputusan Kami datang, Kami menjungkir balikkannya (negeri kaum Luth), dan Kami hujani mereka bertubi-tubi dengan batu dari tanah yang terbakar..." (QS. Hud : 82)


Maka, tidakkah dari sini kita bisa mengambil pelajaran wahai orang-orang yang memiliki akal? Tidakkah kita takut akan azab Allah yang turun karena penyimpangan yang sama?


Maka dari itu pemerintah selaku pemegang kebijakan dan pemilik kekuasaan, wajib bersikap tegas untuk menghentikan segala hal yang bisa membuka celah kesempatan bagi kaum pelangi untuk eksis di tengah masyarakat. 


Penting juga untuk disadari bahwa sikap penolakan dan perlawanan negara terhadap gerakan global LGBT akan sangat berat dan hampir tidak mungkin dilakukan selama masih menganut paham demokrasi yang menjunjung tinggi hak asasi manusia dan menjamin 4 kebebasan, yang salah satunya adalah kebebasan berekspresi itu sendiri.


Karena dalam islam sebagai agama dan pedoman hidup kita, sejatinya hak asasi hanyalah milik Allah dan tidak ada kebebasan mutlak pada makhluk. Maka sebagai negara dengan mayoritas berpenduduk muslim terbesar, sudah saatnya kita kembali kepada aturan islam yang sempurna dengan menerapkan syariat islam secara menyeluruh di semua sendi kehidupan.

Post a Comment

Previous Post Next Post