Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Angka Baby Blues Tinggi, Islam Punya Solusi

Sunday, June 04, 2023 | Sunday, June 04, 2023 WIB Last Updated 2023-06-04T12:35:21Z

Oleh Ummu Syifa

Pemerhati Perempuan dan Generasi


Kesehatan mental merupakan sesuatu yang sangat penting di dalam membangun sumber daya manusia yang produktif dan berkualitas. Kesehatan mental para ibu akhir-akhir ini banyak disorot oleh berbagai pakar, karena mereka mulai peduli dan mencari solusi bagaimana mengatasi hal ini. Betapa tidak, bagaimana masa depan anak-anak kita nantinya jika para ibu yang merupakan madrasatul ula bagi anak-anaknya banyak terjangkiti penyakit mental?


Ketua Komunitas Wanita Indonesia Keren dan psikolog Dra Maria Ekowati mengatakan, bahwa gangguan kesehatan mental banyak terjadi pada ibu hamil, ibu menyusui, dan ibu dengan anak usia dini.  Salah satunya Indonesia, yang berada pada peringkat ketiga kasus ibu baby blues tertinggi  di Asia. (health.detik.com, 26/5/2023)


Baby blues adalah kondisi yang umum terjadi setelah melahirkan dengan gejala seperti perubahan suasana hati, lekas marah, menangis, cemas, lelah, sulit tidur dan makan. (Wikipedia)


Kondisi ini jika dibiarkan akan berujung kepada depresi. Sebetulnya baby blues bisa terjadi karena pengaruh hormonal yang bisa diatasi jika para ibu mendapatkan support system dari sekitarnya, para ibu itu didampingi dan dikuatkan keimanannya, dipenuhi segala kebutuhannya, dimotivasi dalam menjalankan perannya sebagai ibu pengatur rumah tangga dan pendidik generasi dengan curahan kasih sayang dari sekelilingnya. 


Namun sayangnya, hal itu tidak bisa para ibu dapatkan dalam sistem kapitalisme yang diterapkan saat ini. Sistem ini telah memberi para ibu beban ganda. Banyak para ibu selain  mengurus anak, mereka masih harus bergelut dengan pekerjaan demi menghidupi keluarganya. Di samping itu, pendidikan dan pengetahuan agama yang minim pun menjadikan mereka kurang memahami makna dan tujuan pernikahan sehingga banyak yang akhirnya menjalani pernikahan yang tidak harmonis, terpapar kasus KDRT dan penelantaran anak.


Calon-calon ibu pun tidak disiapkan ilmunya. Kurikulum pendidikan yang ada sekarang yang berbau sekuler yaitu tidak menyertakan aturan agama dalam kehidupan, serta mengesampingkan keimanan kepada Allah Swt. sebagai dasar berperilaku. Sehingga, calon-calon ibu tidak dididik untuk bertanggung jawab dan melewati setiap fase kehidupan manusia sebagaimana semestinya. 

Sistem kapitalis telah gagal menciptakan lingkungan yang kondusif bagi para ibu dan generasi untuk menjalani kehidupan yang layak dan manusiawi. Sudah saatnya kita campakkan aturan ini yang nyata-nyata membawa penderitaan dan keburukan. 


Berbeda dengan Islam. Islam tidak mewajibkan para ibu untuk bekerja dan menafkahi dirinya sendiri. Sebagaimana firman Allah swt. yang artinya "... Dan kewajiban bapak menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut ..." (TQS. Al-Baqarah [2]: 233) 


Bahkan, seorang wanita dalam Islam penafkahannya itu dibebankan kepada  bapaknya, suaminya, dan kerabat yang berada dijalur penafkahan. Jika tidak mampu maka tanggung jawab beralih kepada tetangga, jika tetangga tidak mampu maka penafkahannya diambil alih oleh negara. Dengan begitu, para ibu akan fokus dengan perannya sebagai ibu, pengatur rumah tangga dan pendidik generasi.


Islam dengan sistem pendidikannya yang berbasis akidah Islam mampu mencetak generasi dan calon-calon ibu yang berkepribadian Islam, memiliki pola pikir dan pola sikap Islam sehingga mampu menyiapkan calon ibu untuk melewati setiap fase kehidupannya dalam memikul tanggung jawab  sebagai orang tua, pendidik generasi dan menyiapkan peradaban agung. 


Kita bisa melihat, di masa pemerintahan khalifah Harun Al- Rasyid, seorang yatim bernama Muhammad bin Idris Asy-Syafi'i (Imam Syafi'i) meskipun dibesarkan oleh seorang ibu yang ditinggal wafat suaminya, tetap berhasil menjadi ulama besar yang faqih fiddin serta mampu mencetak generasi yang berilmu tinggi, menjadi pemimpin mazhab Syafi'i dan ilmunya bermanfaat sampai hari ini.

 

Oleh karena itu, hanya Islam yang akan menghapuskan masalah kesehatan mental para ibu termasuk di dalamnya kasus baby blues sampai akar-akarnya.  

Sudah saatnya kita kembali kepada Islam kafah yang telah terbukti berhasil dan sukses mencetak para ibu cemerlang dan generasi yang sungguh mumpuni dalam kehidupan di masanya. 


Wallahu a’lam bishshawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update