Timnas Israel Di Piala Dunia U-20, Agama dan Politik Dibawa ke Sepak Bola


Oleh: Sukey
Aktivis muslimah ngaji

Sah! Akhirnya Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) membatalkan drawing Piala Dunia U-20 2023 di Denpasar, Bali, yang akan digelar pada 31-3-2023. Pembatalan disebabkan adanya penolakan masyarakat Indonesia terhadap tim nasional (Timnas) Israel yang ikut menjadi peserta. (CNBC Indonesia, 27/03/2023).

Ustaz Felix Siauw yang sudah lama dikenal tegas dalam persoalan Israel yang berkonflik dengan Palestina. Seperti dilansir tvOnenews.com dari kanal YouTube pribadi miliknya, Ustaz Felix Siauw mengungkapkan keresahannya saat mulai mencuat wacana kedatangan Timnas Israel. Dari permasalahan ini, Ustaz Felix Siauw mengupasnya dari sisi politik, agama, dan kemanusiaan. Mula-mula Ustaz Felix Siauw membacakan isi Pembukaan UUD 1945 yang menyinggung soal posisi Indonesia secara politis menentang adanya penjajahan.

Termasuk dari sisi agama, Ustaz Felix Siauw menilai datangnya Timnas Israel ke Indonesia adalah sebuah bentuk kemunafikan. Selanjutnya dari sisi kemanusiaan, Ustaz Felix Siauw mengambil contoh bagaimana berbagai organisasi lintas negara dan agama secara tegas menentang penjajahan Israel. Walau bukan termasuk muslim, tetapi mereka melihat dari sisi kemanusiaan bahwa Israel sudah melakukan tindakan yang begitu tak berprikemanusiaan. Maka Ustaz Felix Siauw mempertanyakan apa yang sebenarnya diinginkan pemerintah Indonesia jika masih tetap yakin untuk membiarkan Timnas Israel datang, (tvonenews.com;30/03/2023).

Merespons hal tersebut, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sudarnoto Abdul Hakim meminta pemerintah bersikap tegas tak membuka diri dengan Israel didasarkan oleh konstitusi. Menurutnya, hal itu harus dipertahankan sepanjang Israel masih menjajah bangsa Palestina. Jangan ada celah sedikitpun dengan alasan apa pun untuk mengkhianati amanat Pembukaan UUD 1945 dan merusak komitmen Presiden sehingga membuka ruang bagi Israel untuk masuk ke Indonesia melalui jalur apa pun, termasuk jalur Piala Dunia Sepak Bola U-20.

Ustadz Ismail Yusanto dalam sebuah acara online menegaskan bahwa jika mau konsisten dengan konstitusi, maka wajib Indonesia menolak kedatangan timnas U20 Israel, apalagi jika pertimbangannya adalah agama Islam. Jadi sebenarnya terserah Indonesia, apakah mau konsisten atau inkonsistensi dengan konstitusinya sendiri. Jika Indonesia berkokok, maka akan disebut sebagai ayam, jika mengaum, maka akan disebut sebagai harimau.

Pemerintah sendiri—sebelum keputusan pembatalan oleh FIFA—bersikukuh agar Timnas Israel bisa bermain di Indonesia. Alasannya, olahraga harus dipisahkan dari politik. Ketua Umum PSSI saat itu, Mochamad Iriawan menyatakan Israel bisa bermain di Indonesia karena ada jaminan dari pemerintah. Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) saat itu, Zainudin Amali mengamini pernyataan Iriawan. Menpora meminta masyarakat Indonesia untuk memisahkan urusan politik dengan olahraga.

Kata siapa di dunia sepak bola tidak ada intervensi politik? Coba kita lihat di ajang piala dunia kemarin. Hadirnya tim sepak bola Jerman yang membela kaum pelangi. Secara sengaja mereka menunjukkan keberpihakan pada satu prinsip kebebasan yang menghalalkan perilaku kaum sodom. Selain itu, tindakan rasisme yang kerap terjadi pada sebagian pemain, entah itu karena warna kulit maupun agama, adalah sekelumit bukti bahwa dunia sepak bola tidak terpisah dari masalah politik.
Kita harus waspadai agenda-agenda (Israel) di balik perhelatan U-23 ini. Dalam kacamata politik, ini disebut soft politics yang dimanfaatkan untuk memuluskan langkah Israel menormalisasi hubungan dengan negara-negara kunci. Piala Dunia U-20 2023 ini tidak bisa dilihat sekedar event olahraga. Karena faktanya ada agenda politik besar yakni menormalisasi hubungan Israel dengan negara-negara lain.

Kafir Barat sengaja menciptakan permainan itu dan menggelar pertandingan tersebut dengan berbagai upacara yang sangat memukau. Penduduk dunia seakan terhipnotis dan larut dalam perhelatan sepak bola dengan berbagai labelnya. Melalui ajang ini pula, satu negara bisa dikucilkan oleh negara lain hanya karena masalah sepak bola. Bisa jadi ini yang pemerintah kita takutkan. Alih-alih menunjukkan pembelaan terhadap sesama muslim, prinsip kebebasan menjadi dalih untuk memberi pemakluman terhadap negara Israel. Parah.

Memisahkan politik dan sepak bola memanglah sebuah ilusi, apalagi dalam tingkat internasional. Seperti yang kita ketahui, sepak bola merupakan olahraga yang sangat disenangi oleh berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Banyak orang rela berkerumun dan berdesak-desakan hanya demi menonton sepak bola. Maka sepakbola akan menjadi satu pusat kerumunan yang akan mengundang banyak perhatian publik apalagi skala internasional, dan akan menjadi sarana efektif untuk membangun opini dan meneguhkan sikap.

Maka politik sangat tidak bisa dipisahkan dari sepak bola, apalagi kita pura-pura tidak tahu bahwa sepak bola bisa membawa bahagia atau malah membawa bahaya. Begitupun kita sebagai umat muslim yang peduli pada saudara kita, momen ini bisa menjadi sarana untuk menunjukan pembelaan kita untuk Palestina.  Di bulan penuh berkah ini tentu menjadi momentum yang tepat untuk meningkatkan kepedulian sesama muslim. Rasulullah menggambarkan hubungan kita ibarat satu tubuh. Ketika satu bagian tubuh merasakan sakit, maka bagian tubuh lainnya pun turut merasakan sakit. Penting bagi kita untuk memandang segala peristiwa berdasarkan sudut pandang Islam, bukan prinsip hidup Barat.

Seperti disebutkan dalam hadits, di sisi Allah, hilangnya nyawa seorang muslim lebih lebih besar perkaranya dari pada hilangnya dunia.

“Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. Nasai 3987, Turmudzi 1455, dan dishahihkan al-Albani).

Satu-satunya institusi yang mampu membela Palestina ialah negara Islam dalam bingkai Khilafah Islamiyah. Khilafah tak akan membiarkan umat Muslim tertindas apalagi hingga terbunuh. Seperti pada kisah seorang wanita Muslim yang kain bajunya dipaku oleh seorang yahudi, hingga akhirnya bajunya tersingkap dan terlihatlah auratnya. Maka Rasulullah sebagai pemimpin umat Muslim saat itu memerintahkan untuk memberikan pelajaran bagi yahudi tersebut. Maka sudah menjadi kewajiban kita sebagai seorang Muslim untuk membela Palestina, dengan mewujudkan Khilafah Islamiyah.

Selain itu, Khilafah satu-satunya yang mampu menggerakkan tentara muslim sedunia untuk mengusir Israel dari Bumi Palestina yang mulia. Ini karena Khilafah adalah junnah (perisai) yang melindungi umat Islam. Sabda Rasulullah saw.,

إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ

“Sesungguhnya seorang imam itu [laksana] perisai. Ia akan dijadikan perisai yang  orang akan berperang di belakangnya, dan digunakan sebagai tameng.” (HR Bukhari dan Muslim).

Sepanjang rentang peradaban Islam, Khilafah telah membebaskan Palestina. Pembebasan tersebut terjadi sejak masa Khalifah Umar bin Khaththab hingga Kekhalifahan Utsmaniyah. Selama itu, bumi Palestina senantiasa damai.

Wallahu A'lam Bishshawab.

Post a Comment

Previous Post Next Post