Derita Papua di Negeri Tercinta


Oleh Pani Wulansary, S.Pd.
Aktifis Dakwah dan Pendidik

Siapa yang tak kenal Papua? Pulau terbesar yang ada di Indonesia. Pulau yang mendapatkan julukan “surga kecil yang jatuh ke bumi”, karena berbagai keindahan di dalamnya.  Namun ironis tak seperti keindahan julukannya, Papua sering menjadi perbincangan karena rakyatnya yang tak henti dirundung masalah. Mulai dari kemiskinan, teror Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB), hingga bencana alam.

Menurut data, sebagaimana dirilis oleh cnbcindonesia.com (17/01/2023) Provinsi Papua memimpin provinsi dengan persentase penduduk miskin tertinggi pada September 2022 yakni sebesar 26,80%. Ini meningkat 0,24% poin dibanding pada Maret 2022.

Masalah kemiskinan belum usai, disusul oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB), yang kembali menuai teror. Puluhan warga Disrik Paro memilih mengungsi keluar dari kampung mereka. Kepala Operasi Satgas Damai Cartenz 2023, Kombes Faizal Rahmadani mengaku warga takut menetap di Distrik Paro karena teror Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB). (beritasatu.com, 10/02/2023)

Dilansir dari Liputan6.com, total warga yang dievakuasi yang berjumlah 25 orang ini merupakan korban intimidasi dari KKB pimpinan Egianus Kogoya. Sebanyak 11 orang di antaranya adalah anak-anak. (10/02/2023) 

Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, belum usai masalah KKB dan kemiskinan yang berlarut-larut, beberapa hari lalu Jayapura dilanda gempa bermagnitudo sekitar 5,2 pada Kamis siang. Gempa ini bukan satu-satunya. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan alasan lebih dari 1.000 gempa bisa menggoyang Jayapura, Papua, sejak awal Januari 2023 hingga Kamis (9/2). (cnnindonesia.com, 09/02/2023) 

Lihatlah persoalan Papua yang sungguh kompleks, sudah banyak kerugian yang dialami Papua dalam masalah yang bertubi-tubi ini. 

Lalu apa penyebab permasalahan ini terus terjadi?

Kemiskinan dan krisis keamanan sudah menjadi makanan sehari-hari rakyat Papua, padahal Papua dikenal dengan Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah ruah. Namun, nyatanya hal itu tak membuat rakyatnya sejahtera. Hal ini terjadi karena SDA yang dimiliki tidak diperuntukkan bagi rakyat, melainkan dikelola oleh pihak swasta asing atas kerja sama yang dibangun oleh Pemerintah. Oleh karena itu rakyat Papua ibarat miskin di lumbung padi sendiri. Mereka menderita di tengah SDA yang melimpah ruah.

Teror dan penyerangan oleh KKB yang terus terjadi membuat kondisi di Papua tidak kondusif. Bentrok antarwarga atau suku di Papua juga memperparah keadaan. Berbagai penyerangan tidak hanya memakan korban jiwa, tetapi juga perusakan akses dan fasilitas umum milik negara, tower telekomunikasi, rumah sakit, sekolah hingga bandara penerbangan juga tak luput dari perusakan dengan tujuan memberi ancaman.

Kondisi ini tentunya tidak hanya merugikan negara, tetapi juga merugikan masyarakat. Perusakan infrastruktur telekomunikasi misalnya, tentunya mengakibatkan layanan telekomunikasi di wilayah tersebut terhenti dan berdampak masyarakat tidak bisa menikmati akses internet untuk sementara waktu.

Keberadaan KKB yang sejatinya kelompok separatis yang suka menyerang siapa saja dan membunuh tanpa belas kasihan, parahnya mereka sulit diberantas karena memiliki jejaring suaka politik dengan negara-negara besar. Mereka mendapat restu dari negara besar demi langgengnya kepentingan AS dan Australia di Papua bahkan Indonesia.

Berbagai permasalahan di atas bumi Papua sejatinya wujud rakus dan serakahnya kapitalisme untuk menguasainya. Di sisi lain kemiskinan, krisis keamanan, maupun persoalan sosial lainnya, menunjukkan bahwa kapitalisme telah menumbalkan semua itu demi uang. Lalu peran negara yang mandul menjadi abai dalam memberikan perlindungan kepada rakyat Papua, karena sejatinya sistem negara ini masih mengekor pada sistem asing, yakni kapitalisme.

Lalu bagaimana seharusnya negara berperan?

Mari sejenak kita tengok Islam dengan syariatnya yang sempurna dan paripurna yang senantiasa menempatkan negara menjadi peran sentral dalam mewujudkan kesejahteraan dan keamanan bagi warga negara. Pengelolaan SDA akan tepat sasaran karena negara sendiri yang mampu mengelola dan dikembalikan hasilnya kepada rakyat berupa fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan. Seperti pemenuhan kebutuhan terkait sandang, papan, pangan, yang mudah, murah bahkan gratis. Belum lagi pendidikan, kesehatan, termasuk di dalamnya jaminan keamanan.

Syariat Islam menempatkan dengan jelas posisinya sebagai penanggungjawab atas pengurusan hidup rakyat. Maka dengan tegas akan menyingkirkan segala intervensi asing dalam segala aspek dan menerapkan hukuman tegas bagi siapa saja yang membuat teror dan kerusakan, sehingga kelompok semacam KKB tidak akan punya taring untuk melakukan aksi kejinya lagi.

Dalam naungan Islam, semua persoalan hidup akan terselesaikan, karenanya menjadikan Islam sebagai solusi, dengan mengamalkan hukum-hukum Allah secara kafah (menyeluruh) dalam seluruh aspek kehidupan, menjadi keniscayaan. Sebagaimana Allah Swt. berfirman dalam surah Al-Maidah ayat 50 yang artinya, "Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?"

Wallahua'lam bishshawaab.

Post a Comment

Previous Post Next Post